Friday, July 31, 2026

Taktik Baru John Herdman di Piala AFF 2026

 

Pelatih Timnas Garuda, John Herdman (Foto Dok Bali United via Kompas.com). 

Gol cepat Timnas Garuda mulai diterapkan dengan baik oleh punggawa asuhan John Herdman, pelatih asal Inggris yang pernah membawa Timnas Kanada ke Piala Dunia Qatar tahun 2022. 

Taktik barunya ini menjadi warna dari setiap penampilan Timnas Indonesia menghadapi lawan-lawan mereka. Herdman selalu memberikan tugas kepada skuad asuhannya agar langsung melakukan tekanan ketat ke gawang lawan. 

Hal itu guna melahirkan gol secepat mungkin setelah peluit mula ditiup. Ternyata strategi ini sangat baik bagi para pemain dalam membangun rasa percaya diri skuad asuhannya. 

Pola baru yang diterapkan Herdman ini berhasil dijalankan, hanya gagal ketika Timnas Indonesia menghadapi Bulgaria dalam laga di ajang FIFA Matchday tempo hari. 

Gebrakan punggawa Garuda saat itu gagal menghasilkan gol ketika berhadapan dengan Bulgaria. Bahkan skuad Merah Putih harus menerima kekalahan 0-1 walaupun menguasai permainan dengan penguasaan bola dominan. 

Itulah satu-satunya kegagalan membuat gol cepat yang tampaknya akan menjadi karakter baru di tubuh skuad Garuda asuhan John Herdman dari lima pertandingan yang telah dilewati sejak awal tahun. 

Sejauh ini Timnas Indonesia hanya sekali gagal mencetak gol ketika lawan Bulgaria tersebut. Sementara dalam empat laga lainnya skuad asuhan Herdman ini bisa mencetak gol cepat. 

Skuad Timnas Merah Putih selalu bisa membobol gawang lawan setidaknya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari waktu ketika peluit kick off dibunyikan. 

Ketika menghadapi Saat Saint Kitts and Nevis pada ajang FIFA Matchday, Beckham Putra berhasil membuka kemenangan Timnas Indonesia dengan sebuah gol pada menit ke-15. Begitu pula dalam laga menghadapi Oman, giliran bek tengah Justin Hubner mencetak gol pada menit ke-13. 

Selanjutnya jarak waktu dalam mencetak gol cepat, semakin dekat dengan waktu peluit kick off dibunyikan. Ole Romeny menjadi pencetak gol cepat berikutnya pada menit ke-12 ke gawang Mozambik. Gol ini merupakan satu-satunya gol kemenangan dari aksi penyerang yang kini bermain di klub Belanda, Fortuna Sittard.  

Rekor cepat terbaru terjadi pada laga pertama Indonesia di Piala AFF 2026. Ketika itu ada sosok Mitchell Baker, pemain muda berusia 19 tahun yang baru mendapatkan paspor Indonesia bulan Juli ini, mempertajam catatan gol cepat Timnas Indonesia. 

Laga debutnya untuk Timnas Indonesia itu membuat gol pada menit ke-6 membobol dengan sundulannya ke gawang Kamboja sebagai lawan pertama di ajang tersebut. 

Istimewanya dalam laga tersebut, Baker mencetak hattirck dalam debutnya sebagai pemain pertama yang mencatatkan namanya untuk pertama kalinya. Gebrakan menit awal ini menjadi sebuah ciri khas baru yang dibawa Herdman. 

Namun John Herdman harus memperhitungkan kondisi kebugaran skuad asuhannya ketika harus menerapkan pola bermain dengan target gol cepat yaitu menjamin kebugaran mereka sangat prima. 

Untuk itu dalam setiap sesi latihan, Herdman mempriositaskan latihan fisik dilakuakn lebih intensif selama menjalankan training camp di Markas Bali United. 

Hasilnya bisa kita lihat dari kinerja para pemain yang turun bertanding ketika mereka menghadapi Kamboja di laga perdana. Tom Haye menjadi sorotan utama ketika sosok gelandang serang ini bermain penuh selama 90 menit. 

Haye yang sudah berusia kepala tiga, tentu saja memiliki keterbatasan stamina dibandingkan pemain di bawah usia tiga puluh. Namun ternyata berkat pelatihan fisik yang diterapkan tim pelatih, Haye mampu menjawab setiap keraguan pelatih dan para fans. 

Sepanjang laga tersebut Haye bermain agresif tanpa lelah dan memberikan kontribusi asis yang sangat penting bagi kemenangan Timnas Indonesia 5-1 atas Kamboja. 

ASEAN Championship 2026 masih berlangsung menyelesaikan fase grup. Timnas Indonesia setelah meang 5-1 atas Kamboja, masih menyisakan laga melawan Timor Leste, Vietnam dan Singapore. 

Diantara lawan-lawan tersebut, Vietnam adalah lawan yang menjadi ukuran sejauh mana kinerja skuad John Herdman saat ini. Vietnam menjadi lawan paling berat diantara lawan-lawan di grup ini. 

Hanya dengan kemenangan menghadapi Vietnam yang bisa menjadi penanda positif bagi skuad Garuda. Kemenangan itu juga penting dalam menghadapi babak selanjutnya di semi final dan final Piala AFF yang sering dicibir sebagai Piala Ciki oleh para netizen. 

Selamat berjuang Timnas Indonesia untuk pertama kalinya meraih Piala AFF 2026. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

Thursday, July 30, 2026

Mikel Arteta Lawan Para Gurunya

 

Luis Enrique pelatih PSG lawan Arsenal di final Liga Champions (Foto FIFA /Getty Images/Hector Vivas via Kompas.com). 

Beberapa hari ini para Fans Arsenal sedang dilanda pesta besar merayakan keberhasilan klub kesayangan mereka yang berhasil meraih juara Premier League setelah menunggu selama 22 tahun. 

Adalah sosok Mikel Arteta pelatih kebanggaan para The Gunners yang berhasil membawa skuad asuhannya meraih gelar tersebut. Hal ini sekaligus mematahkan trauma baginya yang seakan dikutuk untuk selalu menjadi runner up selama 3 kali berturut-turut. 

Tahun kompetisi 2023-2024, Arsenal menjadi runner up dipecundangi Manchester City. Tahun berikutnya kembali klub asuhan Pep Guardiola ini memaksa Arsenal menjadi runner up. Tahun 2024-2025 giliran Liverpool yang mendepak Arsenal di posisi kedua. 

Untuk Pertama Kali Pecundangi Sang Guru 

Maka pada tahun ini Mikel Arteta telah membuktikan bahwa dirinya mampu meraih yang pertama di kompetisi terketat di Dunia ini yaitu Premier League. Baginya lebih istimewa karena dia berhasil mengalahkan Sang Guru untuk pertama kalinya. 

Arteta yang selama ini hanya pelatih yang menjadi bayang-bayang keberhasilan Pep Guardiola, telah menjelma menjadi sosok yang mampu mengalahkan mantan mentornya tersebut. 

Arteta pernah menjadi asisten Guardiola di Manchester City. Pengalaman ini yang menjadi modal penting baginya untuk membangun budaya baru ketika menjadi pelatih Arsenal. 

Pengalaman sebagai pemain, Arteta adalah pemain Arsenal dari tahun 2011 hingga 2016. Gelar yang pernah diraih yaitu mengangkat Piala FA dua kali sebagai kapten dan kemudian mengalami masa-masa sulit di akhir era saat itu bersama Arsen Wenger. 

Dalam tujuh tahunnya bersama Arsenal, sosok Arteta telah menjadi ahli motivasi bagi pemain-pemain asuhannya. Begitu juga kemampuannya dalam  menumbuhkan budaya berkinerja tinggi di klub London tersebut.

Gaya bermain Arsenal dengan formasi dasar 4-3-3 adalah formasi yang menjadi pakem Pep Guardiola di Manchester City. Formasi tersebut adalah gaya bermain menyerang yang dikenal selama ini dengan gaya Barcelona dimana Pep Guardiola pernah menjadi pemain dan pelatih Barcelona sebelumnya. 

Usai Pep Guardiola Kini Tantang Luis Enrique 

Mungkin kebetulan bahwa ketiga pelatih ini, Mikel Arteta, Guardiola dan Luis Enrique berkebangsaan Spanyol. Tapi bukan kebetulan kalau ketiganya adalah alumni dari Akademi Barcelona. 

Arteta dari Akademi barcelona pernah bermain bersama PSG, Rangers, Real Sociedad, Everton, dan terakhir bersama Arsenal yang saat itu dilatih Arsen Wenger pensiun di klub asal London itu pada tahun 2016. 

Dalam hal pengalaman dalam dunia sepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih, memang Mikel Arteta jauh lebih muda jam terbangnya dibandingkan kedua sosok seniornya tersebut. 

Namun DNA karakter permainan dari Barcelona sama-sama mereka miliki yaitu gaya bermain menyerang dengan penguasaan bola dan pressing tinggi. Arteta berhasil membangun Arsenal melalui gaya pemrianan tersebut. 

Baik Pep Guardiola di Manchester City maupun Luis Enrique pernah menjadi pelatih Barcelona, keduanya menggunakan filosofi sepak bola yang sama ketika mereka melatih klubnya yang sekarang, masing-masing Manchetser City dan Paris Saint Germain (PSG). 

Pecinta bola sudah banyak tahun bagaimana Pep Guardiola membangun The Citizenz, tetapi tidak begitu banyak orang paham bagaimana Luis Enrique membangun PSG. 

Sama seperti Guardiola, pada awal-awal menjadi pelatih PSG, banyak yang meragukan apakah filosofi sepak bola Enrique bisa cocok dengan PSG. 

Saat itu para jurnalis dan pundit masih mempertanyakan kemampuannya ketika pada 5 Juli 2023, Luis Enrique ditunjuk sebagai pelatih Paris Saint-Germain dengan kontrak berdurasi dua tahun (saat ini durasinya diperpanjang hingga 2030). 

Menghadapi para jurnalis dalam penampilan perdananya di hadapan media, juru taktik asal Spanyol itu menyampaikan sebuah janji yang hingga kini terus ia pegang teguh.

Janji Enrique itu adalah identitas permainan menyerang tidak bisa ditawar. Menurutnya identitas pola menyerang  bagi klub asuhannya itu tidak bisa ditawar. 

Enrique bertekad saat itu akan melatih skuad asuhanya bermain sebagai sebuah tim. Penguasaan bola menjadi karakter yang dibangun dengan kuat sebagai misi utamanya. 

Prestasi Enrique bersama PSG pada tahun 2025 nyaris dapat disebut sebagai sebuah karya yang sulit untuk dicari cela. Selain menyapu bersih gelar domestik, klub Paris tersebut juga menyingkirkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 untuk mengangkat trofi Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya. 

Kini Mikel Arteta akan berhadapan melawan Luis Enrique dalam final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/26) mulai pukul 23.00 WIB. Arsenal menghadapi PSG untuk merebut gelar tertinggi di Eropa. 

Bagi Arteta ini adalah tantangan yang sangat menarik karena ini adalah gelar sangat bergengsi sekaligus gelar perdananya bagi Arsenal di ajang Liga Champions. 

Salam olahraga @hensa17.