Monday, July 27, 2026

 

Kylian Mbappe mencetak gol perdana ke gawang Maroko untuk kemenangan Prancis 2-0 (Foto Reuters/Brian Snyder). 

Piala Dunia 2026 sudah memasuki babak 8 besar yang baru saja diawali laga Prancis menghadapi Maroko, Jumat (10/7/26) mulai pukul 03.00 WIB dini hari. Laga ini dimenangkan Prancis dengan skor 2-0. 

Dari laga ini bisa kita tarik sebuah benang yang kuat sebagai penghubung pada 3 faktor kemenangan Les Bleus atas Maroko. Yuk kita simak ulasannya. 

Mental Juara bersama Kylian Mbappe 

Kemenangan Prancis ini juga menandakan superioritas mereka terhadap lawannya, Maroko. Skor 2-0 sudah cukup memberikan gambaran sebagai fakta bahwa skuad Les Bleus layak masuk fase semi final. 

Laga ini juga menjadi bukti bahwa skuad asuhan Didier Deschamps ini sangat layak sebagai kandidat juara Piala Dunia 2026 yang berlangsung di USA, Meksiko dan Kanada. 

Pada babak 8 besar ini masih tersisa 4 Tim yang merupakan mantan Juara Piala Dunia yaitu Prancis, Spanyol, Inggris dan Argentina. Mereka adalah Tim yang menjadi favorit untuk meraih gelar Piala Dunia 2026. 

Namun demikian apakah nanti akan muncul juara baru selain dari 4 Tim tersebut? Jawabannya tergantung dari hasil laga perempat final yang menyisakan para penantang yaitu Belgia, Norwegia dan Swiss. 

Skuad Prancis baru saja lolos ke semi final setelah menyingkirkan Maroko. Selanjutnya ditunggu laga Spanyol menghadapi Belgia (11/7), Inggris lawan Norwegia (12/7) dan Argentina lawan Swiss (12/7). 

Kemenangan Prancis atas Maroko semakin memperjelas kekuatan mereka sebagai kandidat untuk meraih juara Piala Dunia 2026 disamping Tim lain seperti Argentina dan Spanyol. 

Ada momen Kylian Mbappe gagal mengeksekusi hadiah penalti dibabak pertama, tapi mental juara dalam dirinya tidak membuat down dari kegagalan tersebut. 

Justru di babak kedua Mbappe lah yang mengawali gol kemenangan dengan aksinya yang memukau. 

Faktor sosok Mbappe yang tetap konsisten mencetak gol menjadi kunci penting. 

Prancis Tidak Pernah Kalah dalam 6 Laga Terakhirnya

Sejauh ini performa skuad Prancis masih tidak terkalahkan dari sejak fase grup, babak 32 besar, 16 besar dan 8 besar yang sudah mereka jalani. 

Pada fase grup Prancis tidak pernah kalah. Mereka menang masing-masing 3-1 atas Senegal, 3-0 atas Irak dan 4-1 atas Norwegia. Total meraih 9 poin pada fase grup dengan produktivitas gol 10-2 atau surplus 8 gol. 

Pada babak 32 besar menang 3-0 atas Swedia, pada babak 16 besar menang 1-0 atas Paraguay dan pada babak 8 besar menang 2-0 atas Maroko. 

Hasil tersebut semakin mempertegas bagaimana lini pertahanan mereka berhasil meraih clean sheet. Tercatat dalam 3 laga di fase knock out ini Prancis tidak pernah kebobolan dan mencetak 6 gol. 

Produktivitas Gol Skuad Prancis dan Keseimbangan Tim 

Jumlah gol Prancis sampai dengan babak 8 besar ini berhasil mencetak 16 gol dan hanya kebobolan 2 gol dari total 6 laga sejauh ini. Hal itu menggambarkan bahwa skuad Prancis sangat produktif mencetak gol karena mereka memiliki penyerang-penyerang tajam. 

Dari 16 gol tersebut Kylian Mbappe menyumbangkan 8 gol atau separuh dari jumlah gol Pancis di ajang ini. Disusul oleh Ousmane Dembele dengan 5 gol dan 3 gol lainnya dicetak oleh Desire Doue 1 gol, Bradley Barcola 2 gol. 

Barisan penyerang Prancis terutama trio Kylian Mbappe, Ousmane Dembele dan Michael Olise sejauh ini mereka memiliki rating tertinggi dalam performa di setiap laga. 

Michael Olise walaupun belum mencetak gol, tetapi sosok ini sangat besar kontribusinya terhadap permainan skuad Prancis sebagai penyerang lubang di belakang Mbappe. 

Formasi yang diterapkan pelatih Didier Deschamps menggunakan pola 4-2-3-1 dengan menempatkan duet pivot yaitu Adrien Rabiot dan Manu Kone. 

Mereka berhasil sebagai tameng awal pertahanan Les Bleus. Duet pivot ini juga penyeimbang permainan Prancis dari pola menyerang menuju transisi bertahan. Dengan hadirnya Rabiot dan Kone, lini tengah selalu mulus dalam melakukan transisi. 

Sementara itu kuartet lini belakang adalah bek-bek tangguh dengan duet bek tengah yaitu William Saliba dan Dayot Upamecano diperkuat dengan duet full back, Lucas Digne dan Jules Kounde. Plus kiper berpengalaman yaitu Mike Maignan. 

Dengan komposisi tersebut Prancis layak hadir sebagai kandidat serius juara Piala Dunia 2026. Meskipun tantangannya sangat berat karena masih ada Spanyol yang kemungkinan mereka hadapi di semi final. 

Selain itu juga masih ada Inggris atau Argentina yang kemungkinan mereka hadapi di babak final. Mungkin Argentina bersama Lionel Messi, bisa menjadi lawan yang paling besar peluangnya bertemu Prancis di final. 

Jika ini terjadi, maka laga final ini adalah ulangan final Piala Dunia Qatar tahun 2022 yang dimenangkan Argentina. Yuk mari kita tunggu final Piala Dunia 2026. 

Salam olahraga @hensa17. 

***** 

Saturday, July 25, 2026

 

Arsenal gagal juara Liga Champions setelah kalah 3-4 dari PSG dalam adu penalti (Foto AFP/Inna Fassbender).

Sahabat bola terutama para penggemar Arsenal, malam tadi pasti merasakan rasa kecewa yang menyakitkan karena tim pujaan The Gunners gagal meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya usai kalah dari Paris Saint Germain (PSG). 

Rasa kecewa itu sangat wajar karena bagaimana tidak, Arsenal sudah unggul 1-0 atas Paris Saint Germain ketika laga baru berlangsung 6 menit berkat gol dari Kai Harvetz. 

Namun disayangkan pada babak kedua, Paris Saint Germain berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti oleh Ousmane Dembele. 

Hukuman penalti untuk Arsenal terjadi setelah defender Arsenal, Cristhian Mosquera melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di area dalam pertahanannya. 

Arsenal sangat berambisi mengincar gelar Liga Champions pertama mereka dalam 20 tahun penampilan final terakhir mereka dan juga untuk melengkapi raihan ganda bersejarah setelah memenangkan gelar Liga Premier.

Namun kenyataan di lapangan pada malam itu meskipun sudah unggul, tapi akhirnya harus mengakui keunggulan Paris Saint Germain dalam duel adu penalti dengan skor 3-4 setelah dalam waktu normal mereka bermain imbang 1-1. 

Hasil ini sungguh sangat ironi bagi skuad asuhan Mikel Arteta ini. Bayangkan selama babak grup, 16 besar, perempat final, semi final di ajang Liga Champions, mereka tidak pernah terkalahkan. Satu-satunya kekalahan justru terjadi di babak final sehingga gagal juara. 

Bagi Mikel Arteta hasil ini harus menjadi catatan penting dalam mempersiapkan skuadnya menghadapi Liga Champions musim depan. Jika Arteta tidak total menyiapkan skuadnya, maka jangan harap Arsenal bisa kembali masuk pada babak-babak akhir. 

Malam itu raut wajah Arteta memang terlihat tenang. Namun hatinya mungkin merasakan rasa pedih pada saat gelar sudah dalam genggaman kedua tangannya, tetapi harus lepas kembali direngut oleh lawan. 

Malah malam itu dia juga masih sempat mengajak tim asuhannya mendekati tribun yang dipenuhi oleh para suporter Arsenal yang tetap mendukung dengan tepuk tangan mereka, walaupun mata mereka basah dengan tangisan. 

Wajah-wajah pemain Arsenal yang lesu dan lelah. Namun mereka tetap tegak berjalan ke podium untuk menerima medali dari Presiden UEFA. 

Drama final Liga Champions yang berlangsung di Puskas Arena Budapest, Sabtu (30/5/26) itu bagi Paris Saint Germain merupakan keberhasilan mereka mempertahankan gelar yang direbut pada musim kompetisi tahun sebelumnya. 

PSG menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar ini sejak Real Madrid melakukan hal yang sama antara tahun 2015 dan 2018 yang berhasil mempertahankan trofi Eropa tersebut. 

Malam itu pertahanan Arsenal sangat tangguh dengan berlapis antar lini yang menyulitkan penetrasi pemain-pemain PSG masuk ke area penalti Arsenal. 

Ini jauh berbeda dari kemenangan telak 5-0 yang diraih Paris Saint-Germain ketika mereka menang telak melawan Inter Milan dalam final tahun lalu. 

Ketangguhan pertahanan Arsenal ini yang membuat mereka tidak terkalahkan di Liga Champions. Begitu juga saat menghadapi PSG di final, hingga akhir pertandingan, mereka berhasil meredam serangan dahsyat PSG.

Kekalahan Arsenal dari PSG melalui drama adu penalti terasa kurang adil dan sangat menyakitkan. Namun hasil ini harus menjadi catatan bagi sosok Mikel Arteta bahwa bermain dengan pola pragmatis selalu berisiko seperti ini. 

Melihat kiprah Arsenal di final pada malam itu seakan momen ironi dari pelatih Mikel Arteta yang sebelumnya gemar dengan pola menyerang, kini berubah pada pola bertahan total dengan mengandalkan serangan balik. 

Pola bertahan seperti ini bolehlah meraih hasil karena mereka mampu menahan para penyerang PSG sampai 120 menit dan memaksakan mereka untuk adu penalti. 

Namun jika pola permainan ini akan diterapkan pada kompetisi musim depan, baik di Premier League atau di Liga Champions, maka jangan berharap Mikel Arteta bisa berhasil mencapai prestasi seperti yang saat ini dia raih. 

Salam olahraga @hensa17. 

*****