Saturday, July 25, 2026

 

Arsenal gagal juara Liga Champions setelah kalah 3-4 dari PSG dalam adu penalti (Foto AFP/Inna Fassbender).

Sahabat bola terutama para penggemar Arsenal, malam tadi pasti merasakan rasa kecewa yang menyakitkan karena tim pujaan The Gunners gagal meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya usai kalah dari Paris Saint Germain (PSG). 

Rasa kecewa itu sangat wajar karena bagaimana tidak, Arsenal sudah unggul 1-0 atas Paris Saint Germain ketika laga baru berlangsung 6 menit berkat gol dari Kai Harvetz. 

Namun disayangkan pada babak kedua, Paris Saint Germain berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti oleh Ousmane Dembele. 

Hukuman penalti untuk Arsenal terjadi setelah defender Arsenal, Cristhian Mosquera melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di area dalam pertahanannya. 

Arsenal sangat berambisi mengincar gelar Liga Champions pertama mereka dalam 20 tahun penampilan final terakhir mereka dan juga untuk melengkapi raihan ganda bersejarah setelah memenangkan gelar Liga Premier.

Namun kenyataan di lapangan pada malam itu meskipun sudah unggul, tapi akhirnya harus mengakui keunggulan Paris Saint Germain dalam duel adu penalti dengan skor 3-4 setelah dalam waktu normal mereka bermain imbang 1-1. 

Hasil ini sungguh sangat ironi bagi skuad asuhan Mikel Arteta ini. Bayangkan selama babak grup, 16 besar, perempat final, semi final di ajang Liga Champions, mereka tidak pernah terkalahkan. Satu-satunya kekalahan justru terjadi di babak final sehingga gagal juara. 

Bagi Mikel Arteta hasil ini harus menjadi catatan penting dalam mempersiapkan skuadnya menghadapi Liga Champions musim depan. Jika Arteta tidak total menyiapkan skuadnya, maka jangan harap Arsenal bisa kembali masuk pada babak-babak akhir. 

Malam itu raut wajah Arteta memang terlihat tenang. Namun hatinya mungkin merasakan rasa pedih pada saat gelar sudah dalam genggaman kedua tangannya, tetapi harus lepas kembali direngut oleh lawan. 

Malah malam itu dia juga masih sempat mengajak tim asuhannya mendekati tribun yang dipenuhi oleh para suporter Arsenal yang tetap mendukung dengan tepuk tangan mereka, walaupun mata mereka basah dengan tangisan. 

Wajah-wajah pemain Arsenal yang lesu dan lelah. Namun mereka tetap tegak berjalan ke podium untuk menerima medali dari Presiden UEFA. 

Drama final Liga Champions yang berlangsung di Puskas Arena Budapest, Sabtu (30/5/26) itu bagi Paris Saint Germain merupakan keberhasilan mereka mempertahankan gelar yang direbut pada musim kompetisi tahun sebelumnya. 

PSG menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar ini sejak Real Madrid melakukan hal yang sama antara tahun 2015 dan 2018 yang berhasil mempertahankan trofi Eropa tersebut. 

Malam itu pertahanan Arsenal sangat tangguh dengan berlapis antar lini yang menyulitkan penetrasi pemain-pemain PSG masuk ke area penalti Arsenal. 

Ini jauh berbeda dari kemenangan telak 5-0 yang diraih Paris Saint-Germain ketika mereka menang telak melawan Inter Milan dalam final tahun lalu. 

Ketangguhan pertahanan Arsenal ini yang membuat mereka tidak terkalahkan di Liga Champions. Begitu juga saat menghadapi PSG di final, hingga akhir pertandingan, mereka berhasil meredam serangan dahsyat PSG.

Kekalahan Arsenal dari PSG melalui drama adu penalti terasa kurang adil dan sangat menyakitkan. Namun hasil ini harus menjadi catatan bagi sosok Mikel Arteta bahwa bermain dengan pola pragmatis selalu berisiko seperti ini. 

Melihat kiprah Arsenal di final pada malam itu seakan momen ironi dari pelatih Mikel Arteta yang sebelumnya gemar dengan pola menyerang, kini berubah pada pola bertahan total dengan mengandalkan serangan balik. 

Pola bertahan seperti ini bolehlah meraih hasil karena mereka mampu menahan para penyerang PSG sampai 120 menit dan memaksakan mereka untuk adu penalti. 

Namun jika pola permainan ini akan diterapkan pada kompetisi musim depan, baik di Premier League atau di Liga Champions, maka jangan berharap Mikel Arteta bisa berhasil mencapai prestasi seperti yang saat ini dia raih. 

Salam olahraga @hensa17. 

***** 



Friday, July 24, 2026

Potret Tim dari Asia di Piala Dunia 2026, Refleksi bagi Skuad Garuda

 

Pelatih Timnas Garuda, John Herdman (Foto Kompas.com/Sem Bagaskara). 

Timnas Garuda belum berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di USA, Meksiko dan Kanada. Setelah lolos sampai dengan ronde ke-4 zona Asia, Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Arab Saudi dengan skor 1-2 dan kalah 0-1 dari Irak. 

Piala Dunia 2026 diikuti oleh 48 kontestan yang terbagi menjadi 12 grup. Asia diwakili oleh 9 tim yaitu Jepang, Australia, Iran, Korea Selatan, Qatar, Irak, Jordania, Arab Saudi, dan Uzbekistan. 

Mereka itulah yang bisa menjadi gambaran peta kekuatan sepak bola Asia. Dari 9 tim tersebut 7 tim tersisih dari persaingan pada fase grup yaitu Arab Saudi, Qatar, Irak, Uzbekistan, Jordania, Iran dan Korea Selatan. 

Hanya Jepang dan Australia adalah tim yang meraih posisi terbaik lolos ke fase 32 besar mendampingi tim-tim dari Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan 3 tuan rumah USA, Kanada dan Meksiko. 

Meskipun demikian Jepang harus terhenti di babak 32 besar karena kalah tipis oleh Brasil dengan skor 1-2. Padahal saat itu Jepang sudah unggul 1-0 tapi Brasil memiliki mental jura sehingga berhasil membalikkan keadaan untuk unggul 2-1. 

Begitu pula dengan Australia setelah bertarung ketat lawan Mesir dan memaksakan Mohamed Salah dan koleganya bermain imbang 1-1 diwakti normal dan waktu perpanjangan, akhirnya Soccerous kalah dalam duel adu penalti. 

Dengan hasil tersebut maka habis sudah wakil dari Asia di babak 8 besar. Hasil ini juga memberikan gambaran selevel apa mutu sepak bola Asia. 

Pada babak 16 besar wakil Eropa diwakili oleh Spanyol, Prancis, Inggris, Belgia, Portugal, Norwegia. dan Swiss. Amerika Latin diwakili oleh Brasil, Argentina, Paraguay, dan Colombia. Afrika diwakili oleh Mesir dan Maroko. Sementara USA, Kanada dan Meksiko mewakili tuan rumah. 

Paling tidak pada babak 8 besar ini ada fakta yang memberikan gambaran bagaimana level sepak bola dunia pada saat ini. Sementara itu ada dua tim yang membuat kejutan yaitu memulangkan Jerman dan Belanda dalam drama adu penalti. 

Tim tersebut adalah Paraguay yang menang atas Jerman dan Maroko yang menang atas Belanda. Di antara Maroko dan Paraguay, skuad Maroko memiliki catatan tersendiri karena mereka masih layak menang atas Belanda sedangkan Paraguay ketika menang atas Jerman, hampir semua pengamat menyebutnya sebagai kejutan. 

Fakta tersebut juga membuktikan bahwa sepak bola Asia masih jauh tertinggal dari sepak bola dari belahan dunia lainnya seperti Afrika. Gambaran itu sangat jelas di babak 8 besar tidak ada satupun wakil dari Asia, sedangkan Afrika masih ada dua tim yang mewakilinya yaitu Maroko dan Mesir. 

Jepang saja yang sangat superior di Asia, mereka tidak mampu bersaing dengan tim-tim dari Amerika Latin seperti Brasil. Begitu juga Australia yang sepak bolanya berbasis kultur Eropa, belum cukup bagi mereka bersaing menghadapi persaingan di Piala Dunia 2026. 

Qatar dan Arab Saudi yang jago kandang, keduanya tidak berkutik di fase grup mereka langsung tersisih sebagai juru kunici. Irak, Yordania dan Uzbekistan masih memperlihatkan performa yang lumayan, demikian juga dengan Korea Selatan dan Iran yang sempat membuka harapan masuk dalam 8 tim terbaik di peringkat ketiga. 

Bagaimana dengan posisi Timnas Garuda? Tentu saja dari ulasan tersebut kita bisa memberikan peta bagi skuad Garuda ada dimana? Paling tidak Jepang, Australia, Arab Saudi dan Irak pernah satu grup dalam persaingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang lalu. 

Skuad Garuda pernah menang atas Arab Saudi di Stadion GBK tetapi kalah dalam babak ke-4. Sementara menghadapi Australia, Jepang dan Irak, skuad Garuda belum pernah menang. 

Masih banyak yang harus dibenahi dari skuad Garuda bersama pelatih John Herdman. Biarkanlah pelatih asal Inggris yang pernah membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 itu, bekerja sesuai dengan program yang sudah disiapkannya. 

Membenahi sepak bola tidak semudah memasak mie instan butuh waktu tenaga, pikiran dan biaya. Kita bisa melihat sendiri sejauh mana kualitas tim-tim dari Asia di Piala Dunia 2026, sangat tertinggal. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

*****