Tuesday, July 21, 2026

Thomas Tuchel "Blunder Fatal"

                                           Jude Bellingham harus gigit jari gagal ke final Piala Dunia 2026 (Foto Reuters/Mike Segar). 

Anda pasti ingat drama laga antara Inggris dan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 tempo hari. Laga tersebut berakhir dengan kemenangan Lionel Messi dan kolega dengan skor 2-1. Padahal Inggris unggul lebih dulu 1-0 sampai menit ke-85. 

Banyak pengamat-pengamat bola, para pundit di Eropa, terutama pundit yang biasa meliput Premier League, berpendapat bahwa Thomas Tuchel melakukan blunder fatal. 

Mereka para pengamat profesional berpendapat seperti itu, wong saya saja yang bukan pengamat beneran, alias pengamat abal-abal di Kompasiana, ini juga berpendapat sama. 

Tuchel tampaknya nyalinya menciut terutama usai Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55 setelah momen serangan balik dari sisi sayap kanan serangan Inggris. 

Gordon berhasil menyelesaikan umpan panjang Morgan Rogers dengan sontekan kakinya menembus gawang Emiliano Martinez yang tak berdaya dalam mengantisipasi bola. Sebelumnya bola berasal dari umpan Declan Rise. 

Setelah gol tersebut Inggris malah bermain bertahan dengan menerapkan garis pertahanan rendah. Malah pada menit ke-72 Gordon yang bermain baik di sisi sayap kiri ditarik diganti oleh Ezri Konsa untuk memperkuat pertahanan. 

Begitu juga Reese James dan Declan Rise yang bermain bagus mengimbangi lini tengah Argentina yang diperkuat Mac Allister dan Enzo Fernandez, ditarik digantikan oleh Dan Burn dan Nico O'Reilly. 

Sejak itu Inggris benar-benar keteteran dan skuad Albiceleste memiliki paling tidak 15 tembakan mengarah ke gawang The Three Lions yang dikawal Jordan Pickford. Inggris hanya memiliki ball possession tidak sampai 30 persen, benar-benar bertahan. 

Kiper asal klub Everton harus banyak berjibaku mempertahankan gawangnya dari keganasan para penyerang Argentina selama 30 menit. Pergantian tersebut membuat Inggris bermain bertahan total. 

Bahkan termasuk Harry Kane dan Jude Bellingham harus turun memperkuat pertahanan. Dalam kondisi seperti ini, mereka benar-benar tertekan. Beberapa kali pula tembakan jarak jauh melesat keras menuju gawang Pickford. 

Atau tendangan penjuru Lionel Messi yang tajam mengancam gawang Inggris karena berhasil ditanduk oleh Julian Alfarez atau Mac Allister. 

Puncaknya, sosok Enzo Fernandez hanya 5 menit sebelum laga berakhir, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pemain asal Chelsea ini memanfaatkan umpan akurat dari Messi di luar kotak penalti dan dengan kaki kanannya menembak keras sehingga bola menembus pojok kanan gawang Pickford yang tidak mampu menjangkaunya. 

Jude Bellingham yang tepat berada di depannya terlambat menutup pergerakkan Enzo Fernandez. Ini adalah momen kebangkitan Argentina. 

Bahkan celakanya bagi Inggris pada injury time, tepatnya menit ke-90+2, barisan pertahanan mereka lengah ketika sebuah umpan lambung dari Lionel Messi berhasil disundul oleh Lautaro Martinez menembus gawang Inggris untuk keunggulan Argentina menjadi 2-1. 

Hanya dalam waktu tidak sampai 10 menit, Argentina bangkit dari ketertinggalannya untuk meraih kemenangan 2-1 atas Inggris. Taktik yang diterapkan oleh Tuchel dalam laga tersebut benar-benar fatal. 

Pada menit-menit akhir ada pergantian dengan masuknya Ivan Toney dan Marcus Rashford, tapi sudah terlambat bagi Inggris untuk menerapkan pola menyerang. 

Hal ini juga persis dengan yang dilakukan oleh Ronald Koeman dengan menerapkan permainan bertahan, ketika Belanda menghadapi Maroko di babak 32 besar. 

Mereka unggul lebih dulu 1-0 atas Maroko berkat gol Cody GakPo menit ke-72. Setelah keunggulan ini Belanda malah menerapkan permainan bertahan total. Ini benar-benar ironi sepak bola mereka yang selama ini memiliki filosofi total football yang menyerang. 

Mereka digempur habis-habisan oleh Maroko dan akhirnya gol yang tinggal menunggu waktu saja itu lahir pada menit ke-90+1 berkat kinerja Issa Diop. Maroko mekasakan perpanjangan laga menuju 2x15 menit. Mereka kahirnya harus mengakhiri pertandingan melalui adu penalti. Maroko unggul dalam drama adu penalti ini dengan skor 3-2. 

Pada hari Minggu (19/7/26) dini hari mulai pukul 04.00 WIB, Inggris akan berhadapan lawan Prancis dalam perebutan peringkat ketiga. 

Tentu saja Thomas Tuchel harus mengembalikan gaya bermain Inggris kembali pada pakemnya. Cukup ketika kalah dari Argentina saja Thomas Tuchel bernyali ciut. 

Salam sepak bola @hensa17. 

*****

Monday, July 20, 2026

Final Piala Dunia 2026, "Mengulik Kinerja" Spanyol dan Juara Bertahan Argentina

                Lionel Messi menjadi sorotan saat Argentina lawan Spanyol di Final Piala Dunia 2026 (Foto Reuters/Agustin Marcarian). 

Piala Dunia 2026 akhirnya memasuki babak final dengan mempertemukan Spanyol menghadapi juara bertahan Argentina. Laga puncak memperebutkan gelar bergengsi ini berlangsung di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/26) pukul 02.00 WIB dini hari. 

Mereka memang pantas bisa masuk partai akhir di ajang sepak bola tertinggi dunia ini karena memiliki kualitas individu pemain yang unggul, pelatih yang memiliki strategi cerdas serta mentalitas tim dalam kerja sama yang solid. 

Dua tim ini adalah pemegang juara Piala Dunia dimana Spanyol meraih satu gelar juara pada tahun 2010 dan Argentina dengan 3 gelar juara yaitu tahun 1978, 1986 dan 2022. Momen final ini menjadi peluang bagi La Furia Roja Spanyol menambah gelar untuk kedua kalinya dan bagi Albiceleste Argentina menambah gelarnya menjadi 4 gelar. 

Mari kita mengulik bagaimana kinerja kedua tim sebagai finalis Piala Dunia 2026 yaitu Spanyol dan Argentina. Dalam menyajikan bahasan ini kita juga menggunakan data sebagai acuan untuk membandingkan kekuatan kedua tim finalis ini. 

Kinerja Spanyol. 

Mari kita awali dengan membahas skuad La Furia Roja Spanyol sebagai penantang juara bertahan Argentina dalam final Piala Dunia 2026 ini. Selama babak penyisihan di fase grup, Spanyol tidak terkalahkan dengan meraih 7 poin dari dua kemenangan masing-masing atas Uruguay dan Arab Saudi serta ditahan imbang tanpa gol oleh Tanjung Verde. Total 5 gol dicetak tanpa kebobolan 

Pada fase knock out yaitu fase 32 besar Spanyol menang 3-0 atas Austria. Lalu menang 1-0 atas Portugal di fase 16 besar. Menang 2-1 atas Belgia di fase 8 besar dan 2-0 atas Prancis di semifinal. Total 8 gol dicetak dan hanya 1 gol kebobolan. Kinerja Spanyol tidak terkalahkan dari fase grup sampai dengan semifinal sudah mencetak 13 gol dengan kebobolan gawang mereka hanya 1 gol. Satu-satunya tim yang mampu menahan imbang Spanyol tanpa gol adalah Tanjung Verde.

Melihat data ini kita bisa memberikan sebuah gambaran bahwa barisan penyerang Spanyol sangat produktif dengan 13 gol mereka dan barisan pertahanannya sangat solid yang hanya kebobolan satu gol. Dengan total mencetak 13 gol dan hanya kebobolan satu gol, Spanyol memiliki produktivitas sebanyak 12 gol. Sebuah pencapaian ketjaman dari para penyerang mereka. Gawang Spanyol memiliki 6 kali clean sheet (Tidak kebobolan) dari 7 laga yang sudah mereka jalani selama Piala Dunia 2026. Satu-satunya gol yang berhasil bersarang ke gawang Spanyol adalah ketika mereka berhadapan lawan Belgia. 

Angka clean sheet tersebut juga menunjukkan bagaimana pertahanan Spanyol sangat solid dengan lini belakangnya dan juga tangguhnya sosok penjaga gawang Unai Simon yang sering kali menunjukkan kinerja luar biasa. 

Kinerja Argentina 

Bagaimana dengan kinerja Sang Juara Bertahan? Argentina juga tidak terkalahkan dalam 7 laga yang sudah mereka jalani dari fase grup sampai dengan semifinal. Argentina berada satu grup dengan Austria, Aljajair dan Jordania. Mereka menang 3-0 atas Aljajair, menang 2-0 atas Austria dan menang 3-1 atas Jordania. Total mencetak 8 gol dan kebobolan satu gol. Pada fase 32 besar Argentina menang 3-2 atas Tanjung Verde, lalu menang 3-2 atas Mesir di 16 besar dan menang 3-1 atas Swiss di perempat final. 

Pada semifinal Argentina berhasil menang 2-1 atas Inggris. Total mencetak 11 gol dan kebobolan 6 gol. Melihat kinerja para penyerang Argentina sejauh ini berhasil mencetak total 19 gol selama ajang ini menunjukkan kinerja luar biasa mengalahkan jumlah gol yang dicetak Spanyol yaitu 13 gol. Gambaran nyata bahwa merekassangat tajam dalam mencetak gol, terutama dari sosok Lionel Messi yang sejauh ini sudah mencetak 8 gol sekaligus sebagai top skor sementara. 

Namun barisan pertahanan Argentina terlihat keropos karena mereka sudah kebobolan sebanyak 7 gol. Argentina hanya memiliki 2 laga yang gawangnya Clean Sheet yaitu saat menghadapi Austria dan Aljajair di fase grup. 

Penyerang Tajam Vs Pertahanan Solid 

Dari data tersebut bisa dilihat bagaimana tajamnya para penyerang skuad La Albiceleste dengan dimotori oleh Lionel Messi yang grafik performanya semakin naik dan banyak para pengamat memprediksi di final performa Messi mencapai puncaknya.

Lalu dari data tersebut bagaimana performa pertahanan Spanyol sangat solid. Kuartet pemain belakang mereka yang terdiri dari duet full back yang agresif yaitu Pedro Porro dan Marc Cucurella serta duet bek tengah yaitu Pau Cubarsi dan Laporta. Mereka kokoh menjadi benteng terakhir yang melapisi penjaga gawang tangguh dari sosok Unai Simon yang sudah berkali-kali melakukan penyelamatan penting sehingga gawangnya memiliki 6 kali clean sheet dari 7 laga di Piala Dunia 2026.

Melihat dua fakta tersebut sungguh sangat menarik ditunggu bagaimana para penyerang Argentina yang tajam dengan sosok Lionel Messi nya menghadapi pertahanan Spanyol yang kokoh ketika mereka saling berhadapan di final Piala Dunia 2026. Adu Strategi Luis de La Fuante Vs Lionel Scaloni Juga kita menunggu taktik cerdas dari kedua pelatih mereka yaitu Luis de La Fuante (Spanyol) dan Lionel Scaloni (Argentina). Dua sosok ini memiliki strategi yang cerdas dalam meramu skuad mereka.

Sangat berkesan bagaimana kedua pelatih ini sangat cerdas dalam menerapkan pergantian pemain di babak kedua ketika tim asuhan mereka terdesak atau buntu mencetak gol atau bahakan saat tertinggal gol dari lawan. Fuante selalu membuat kejutan dengan menurnkan sosok Mikel Merino sebagai pemain Supersub di babak kedua. Dan ini sudah terbukti ketika Spanyol menang atas Postugal dan Belgia. Merino menjadi penentu kemenangan dalam dua laga tersebut.

Ketika lawan Portugal, Merino mencetak gol pada menit ke 90+1 untuk kemenangan Spanyol 1-0 atas Portugal. Sedangkan ketika menghadapi Belgia, Merino mencetak gol pada menit ke-88 untuk kemenangan 2-1 atas Belgia.

Begitu juga dengan Scaloni selalu berhasil melakukan pergantian pemain yang tepat ketika Argentina tertinggal dari Mesir dan Swiss yang akhirnya berhasil memenangkan laga. Sama seperti Spanyol yang memiliki supersub dari sosok Mikel Merino, ternyata Argentina juga memiliki sosok Lautaro Martinez sebagai sosok supersub. Aksinya sangat gemilang saat berhasil menjadi pencetak gol penentu kemenangan saat menundukkan Inggris dengan skor 2-1. Martinez mencetak gol kemenangan 2-1 pada menit ke-90+2. 

Begitu juga saat menghadapi Swiss yang harus membutuhkan perpanjangan waktu 2x15 menit, Martinez sebagai supersub berhasil mencetak gol pada menit ke-120+1 di ujung akhir laga untuk menutup kemenangan Argentina 3-1 atas Swiss.

Para penggemar bola sejagad kali ini kita pasti mendapat suguhan laga sepak bola yang sangat atraktif dari dua tim yang gemar menerapkan sepak bola menyerang yaitu Spanyol dan Argentina. Menurut Anda, apakah Spanyol berhasil meraih gelar dan menumbangkan juara bertahan Argentina? Atau La Abiceleste berhasil mempertahankan gelarnya dan menambah koleksi jura mereka menjadi 4 kali. Silakan tulis di kolom komentar. 

Salam sepak bola @hensa17. 
*****