John Herdman, Pelatih Kepala Timnas Indonesia (Foto ASEAN UNITED).
Hai para Fans Garuda apa boleh buat setelah melalui perjuangan yang melelahkan dengan berbagai drama, akhirnya Timnas Indonesia harus tersingkir dari ajang Piala AFF 2026 karena mereka hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 dengan tuan rumah Singapura.
Kita sebagai Fans Garuda tentu kecewa dong. Namun tidak harus melampiaskannya dengan hujatan dan makian kepada siapapun. Apalagi kepada pemain dan tim pelatih karena mereka sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian meraih juara Piala AFF yang sduah 30 tahun ditunggu.
Malam itu sebenarnya skuad Garuda sempat unggul duluan 1-0 pada awal babak kedua, setelah Ragnar Oratmangoen berhasil mencetak gol dari jarak dekat memanfaatkan umpan tarik dari Donny Tri Pamungkas.
Namun sangat disayangkan akibat blunder (lagi) antara Rizki Ridho dan kiper Cahya Supriyadi, gawang Indonesia harus kebobolan mudah oleh tendangan Ilhan Fandi sehingga skor menjadi imbang 1-1.
Bagi Rizki Ridho ini adalah blundernya yang kedua setelah dirinya melakukan blunder saat kalah dari Vietnam. Momen-momen blunder tersebut karena Rizki Ridho tidak langsung saja membuang bola pada kesempatan pertama.
Terlepas dari penguasaan bola yang dominan, masih ada faktor menatalitas pemain yang terpancing dengan keputusan wasit yang membatalkan kartu merah Ui-young Song. Mereka beramai-ramai protes kepada wasit.
Hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena bisa memecah fokus bermain. Padahal saat itu mereka masih unggul 1-0. Dengan tidak fokus bermain bisa mengakibatkan kelengahan yang fatal.
Menguasai bola sepanjang laga dengan keunggulan 1-0 sebenarnya bagi skuad Garuda menjadi momen yang seharusnya bisa dipertahankan. Namun karena tidak fokus akibat kontroversial kartu merah tersebut, maka pemain-pemain terlihat gugup ketika menerima serangan balik, terutama lini belakang dan kiper Cahya Supriyadi.
Diluar performa kiper Marten Paes dan Audero Mulyadi, sektor kiper ini menjadi titik lemah yang perlu pembenahan serius. Dua kiper di ajang ini, Nadeo dan Cahya masih sering gugup dan melakukan blunder.
Timnas Indonesia dalam sejarah Piala AFF yang sudah berusia 30 tahun sejak pertama digulirkan sebagai Pial Tiger tahun 1996, belum pernah sekalipun bisa meraih gelar juara.
Ada catatan unik yang menjadi kenangan buruk bagi skuad Garuda yaitu 6 kali masuk final, tetapi 6 kali pula gagal juara hanya bisa nerada di posisi runner up.
Lebih menarik lagi angka 6 ini juga berlaku pada kegagalan Timnas Indonesia gagal lolos dari fase grup sebanyak 6 kali setelah tadi malam, Jumat (7/8/26) ditahan imbang Singapura dengan skor 1-1.
Dengan hasil imbang tersebut Indonesia hanya menambah satu poin dan berada di posisi ketiga Grup A dengan 7 poin. Sementara itu Singapura ada di posisi kedua dengan 8 poin.
Dengan hasil ini dari Grup A Vietnam berhasil meraih juara grup dengan 10 poin dan Singapura runner dengan 8 poin. Mereka berhak lolos ke babak semi final.
Tentu saja banyak catatan bagi John Herdman dan koleganya untuk memperbaiki semua kekurangan skuad asuhannya.
Terutama lini belakang khususnya pada sektor bek dan kiper yang tidak memiliki komunikasi sehingga terjadilah gol balasan dari Singapura saat Indonesia unggul 1-0 pada laga tersebut.
Bagi kita, Fans Garuda, harus disadari sepenuhnya, tidak gampang membangun sebuah Timnas yang solid pertahannnya dan produktif mencetak gol. Membutuhkan waktu, biaya, pikiran dan sumber daya yang unggul
Oleh karena itu kita harus tetap mendukung Timnas Indonesia baik saat mereka menang maupun saat mereka kalah. John Herdman sebagai pelatih kepala juga harus kita percaya dengan program-programnya menuju target utama yaitu Piala Dunia 2030.
Bravo Merah Putih @hensa17.

