Saturday, August 8, 2026

 

John Herdman, Pelatih Kepala Timnas Indonesia (Foto ASEAN UNITED). 

Hai para Fans Garuda apa boleh buat setelah melalui perjuangan yang melelahkan dengan berbagai drama, akhirnya Timnas Indonesia harus tersingkir dari ajang Piala AFF 2026 karena mereka hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 dengan tuan rumah Singapura. 

Kita sebagai Fans Garuda tentu kecewa dong. Namun tidak harus melampiaskannya dengan hujatan dan makian kepada siapapun. Apalagi kepada pemain dan tim pelatih karena mereka sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian meraih juara Piala AFF yang sduah 30 tahun ditunggu. 

Malam itu sebenarnya skuad Garuda sempat unggul duluan 1-0 pada awal babak kedua, setelah Ragnar Oratmangoen berhasil mencetak gol dari jarak dekat memanfaatkan umpan tarik dari Donny Tri Pamungkas. 

Namun sangat disayangkan akibat blunder (lagi) antara Rizki Ridho dan kiper Cahya Supriyadi, gawang Indonesia harus kebobolan mudah oleh tendangan Ilhan Fandi sehingga skor menjadi imbang 1-1. 

Bagi Rizki Ridho ini adalah blundernya yang kedua setelah dirinya melakukan blunder saat kalah dari Vietnam. Momen-momen blunder tersebut karena Rizki Ridho tidak langsung saja membuang bola pada kesempatan pertama.

Terlepas dari penguasaan bola yang dominan, masih ada faktor menatalitas pemain yang terpancing dengan keputusan wasit yang membatalkan kartu merah Ui-young Song. Mereka beramai-ramai protes kepada wasit. 

Hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena bisa memecah fokus bermain. Padahal saat itu mereka masih unggul 1-0. Dengan tidak fokus bermain bisa mengakibatkan kelengahan yang fatal. 

Menguasai bola sepanjang laga dengan keunggulan 1-0 sebenarnya bagi skuad Garuda menjadi momen yang seharusnya bisa dipertahankan. Namun karena tidak fokus akibat kontroversial kartu merah tersebut, maka pemain-pemain terlihat gugup ketika menerima serangan balik, terutama lini belakang dan kiper Cahya Supriyadi. 

Diluar performa kiper Marten Paes dan Audero Mulyadi, sektor kiper ini menjadi titik lemah yang perlu pembenahan serius. Dua kiper di ajang ini, Nadeo dan Cahya masih sering gugup dan melakukan blunder. 

Timnas Indonesia dalam sejarah Piala AFF yang sudah berusia 30 tahun sejak pertama digulirkan sebagai Pial Tiger tahun 1996, belum pernah sekalipun bisa meraih gelar juara. 

Ada catatan unik yang menjadi kenangan buruk bagi skuad Garuda yaitu 6 kali masuk final, tetapi 6 kali pula gagal juara hanya bisa nerada di posisi runner up. 

Lebih menarik lagi angka 6 ini juga berlaku pada kegagalan Timnas Indonesia gagal lolos dari fase grup sebanyak 6 kali setelah tadi malam, Jumat (7/8/26) ditahan imbang Singapura dengan skor 1-1. 

Dengan hasil imbang tersebut Indonesia hanya menambah satu poin dan berada di posisi ketiga Grup A dengan 7 poin. Sementara itu Singapura ada di posisi kedua dengan 8 poin. 

Dengan hasil ini dari Grup A Vietnam berhasil meraih juara grup dengan 10 poin dan Singapura runner dengan 8 poin. Mereka berhak lolos ke babak semi final. 

Tentu saja banyak catatan bagi John Herdman dan koleganya untuk memperbaiki semua kekurangan skuad asuhannya. 

Terutama lini belakang khususnya pada sektor bek dan kiper yang tidak memiliki komunikasi sehingga terjadilah gol balasan dari Singapura saat Indonesia unggul 1-0 pada laga tersebut. 

Bagi kita, Fans Garuda, harus disadari sepenuhnya, tidak gampang membangun sebuah Timnas yang solid pertahannnya dan produktif mencetak gol. Membutuhkan waktu, biaya, pikiran dan sumber daya yang unggul

Oleh karena itu kita harus tetap mendukung Timnas Indonesia baik saat mereka menang maupun saat mereka kalah. John Herdman sebagai pelatih kepala juga harus kita percaya dengan program-programnya menuju target utama yaitu Piala Dunia 2030. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 


Friday, August 7, 2026

Jangan Blunder Lagi Garuda dalam Menghadapi Laga Terakhir Lawan Singapore

 

John Herdman, pelatih Timnas Indonesia (Foto Kompas.com/Firzie A Idris)

Hallo Fans Garuda. Mari kita diskusi bagaimana peluang Timnas Indonesia dalam laga terakhirnya menghadapi Timnas Singapore di Stadion Jalan Baru, Kallang, Jumat (7/8/26) mulai pukul 20.00 WIB. 

Laga matchday terakhir ini untuk menentukan posisi juara dan runner up grup yang berhak lolos ke babak semifinal di ajang Piala AFF 2026. 

Gambaran posisi Timnas Garuda yang berada di Grup A saat ini dengan koleksi 6 poin ada di posisi peringkat ketiga di bawah Singapore dengan koleksi 7 poin. 

Hal itu artinya duel ini adalah hidup mati bagi kedua tim. Singapore sebagai tuan rumah diuntungkan karena mereka hanya butuh hasil imbang untuk menyingkirkan Indonesia. 

Namun skuad Garuda harus memenangkan laga ini untuk melangkahi posisi Singapore. Sementara itu Vietnam akan menghadapi Kamboja dalam laga terakhirnya di My Dinh Stadium, Hanoi. 

Di atas kertas Vietnam tidak mendapatkan kesulitan berarti untuk mengalahkan Kamboja sehingga mereka bisa meraih 3 poin penuh untuk memimpin sebagai peringkat pertama di Grup A. 

Menurut Anda bagaimana peluang skuad Indonesia bisa lolos ke babak semifinal dalam menghadapi Timnas Singapore yang berjuluk The Lions. Yuk kita bahas bersama. 

Pertama adalah referensi dari 3 laga Timnas Indonesia ketika menghadapi Kamboja, Timor Leste dan Vietnam. 

Dua laga pertama tim asuhan John Herdman ini menghadapi Kamboja dan Timor Leste yang levelnya ada di bawah sehingga kemenangan besar dalam laga tersebut adalah wajar. 

Ada sebuah catatan bahwa menghadapi Timor Leste walaupun Garuda menang 3 gol tanpa balas, tapi gol-gol tersebut baru lahir pada menit-menit akhir. 

Hampir sepanjang laga terjadi kebuntuan dalam mebobol gawang lawan. Terutama pada sektor sayap masih terjadi kendala dalam menerobos sisi kanan pertahanan Timor Leste. 

Baru setelah terjadinya pergantian pemain yaitu masuknya bek sayap Donny Tri dan bek tengah kiri Shayne Pattynama maka mulsai terlihat di sisi pertahanan lawan mulai mudah diterobos. 

Donny berhasil membawa bola masuk ke sisi kanan gawang Timor Leste dan mengirimkan umpan tarik, langsung dislelsaikan dengan tembakan kaki kiri Pattynama. 

Gol pembuka ini menjadi titik balik dua gol berikutnya oleh tendangan bebas Thom Haye dan Michell Baker. 

Dari catatan tersebut pola serangan Timnas Indonesia harus kembali menerapkan pola texbook taktik umpan tarik yang jauh lebih efektif. 

Hal ini tidak terjadi saat menghadapi Vietnam yaitu hanya mengandalkan umpan silang dari Thom Haye yang tidak berhasil diselesaikan oleh Baker sebagai target man. 

Menghadapi Singapore, pola ini bisa diterapkan karena tim asuhan Gavin Lee dipastikan akan menggunakan taktik bertahan untuk memaksakan hasil imbang seperti saat mereka berhasil menahan Vietnam. 

Catan penting lainnya adalah blunder fatal dalam melakukan operan di daerah pertahanan, jangan sampai melakukan kesalahan. Sebaiknya bola di area pertahanan tidak terlalu lama ditahan, langsung saja diberikan ke tengah atau sisi sayap. 

Blunder ini terjadi saat terjadinya gol pertama dari Vietnam. Blunder Rizki Ridho yang tidak bisa menerima bola, akhirnya direbut pemain Vietnam sehingga mengakibatkan kebobolan. 

Dalam laga tersebut juga transisi pertahanan Indonesia selalu terlambat kembali sehingga pemainsayap Vietnam setelah menerima umpan jauh tidak mampu dikejar dan langsung berhadapan dengan kiper Nadeo untuk menceploskan bola ke gawang Indonesia. 

Dalam menghadapi Singapore, transisi harus segera diperbaiki jangan terlambat kembali turun ke belakang memperkuat lini pertahanan. Singapore dipastikan akan melakukan taktik bertahan dengan mengandalkan serangan balik. 

Diskusi sangat asyik ya Bro. Bagaimana menurut Anda sebagai pengamat, penggemar, dan Fans setia Timnas Garuda. Ditunggu komentar-komentar Anda semua di kolom yang tersedia. 

Semoga skuad Garuda menang atas Singapore. Ayo kita selalu dukung Timnas Indonesia untuk terus berprestasi di ajang International. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

*****