Monday, August 10, 2026

4 Pelajaran Penitng dari Piala AFF 2026 bagi Timnas Indonesia

 

Thom Haye beraksi Foto Kompas.com/Antonius Aditya Mahendra. 

Timnas Indonesia kembali gagal meraih gelar juara Piala AFF 2026 karena mereka sudah tersisih di fase grup. Dalam laga terakhir yang wajib menang atas Singapore, skuad Garuda hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan The Lions julukan bagi skuad Singapore. 

Artikel ini tidak akan membahas polemik yang terjadi dalam laga lawan Singapore di Stadion Jalan Besar Kallang Jumat (7/8/27) malam. Baik perdebatan tentang wasit yang membatalkan kartu merah atau blunder yang dilakukan kiper Cahya Supriyadi dan Rizki Ridho. 

Namun artikel ini akan melihat dari sudut yang berbeda yaitu pelajaran apa yang bisa diambil hikmahnya dari turnamen regional ASEAN ini yang sudah berusia 30 tahun. 

Timnas Indonesia harus kembali berbenah untuk memperbaiki segala kekurangan yang mereka miliki. Ada 4 pelajaran berharga dari Piala AFF 2026 yang lalu. Mari kita simak ulasan berikut ini. 

1. Terlalu Optimis dengan Skuad Garuda. 

Dari awal pertama kali turnamen ini bergulir Indonesia belum pernah meraih gelar hanya mampu menjadi finalis sebanyak 6 kali. Sementara itu kegagalan lolos dari fase grup pada episode Piala AFF 2026 ini adalah juga yang ke Enam. Lengkap sudah 6 kali  gagal juara di final dan 6 kali gagal lolos ke babak semifinal.

Pelatih John Herdman terlalu optimis dengan skuad Garuda yang diasuhnya. Hal ini sebenarnya sah sah saja mengingat dalam skuad Garuda ada 12 pemain naturalisasi. Lini blekang diperkuat oleh Jordi Amat, Shayne Pattynama, Sandy Walsh, Tim Geypens. Lini tengah ada Eliano Reinjders, Thom Haye, Ivar Jenner, Marc Klok dan di depan ada Michell Baker, Jens Raven dan Ragnar Oratmangoen. 

Dengan materi tersebut pelatih Herdman boleh saja merasa optimis karena mereka memiliki kemampuan yang level Eropa. Terlebih lagi narasi-narasi yang berkembang di media sosial juga terlalu over ekspektasi seakan-akan inilah saatnya Piala AFF 2026 untuk pertama kalinya bisa diraih setelah 30 tahun menunggu. 

John Herdman sendiri seolah terlena dengan sambutan optimis dari para fans Garuda di media sosial. Pelatih asal Inggris ini lupa ada satu hal yang terbaikan bahwa sepak bola harus memikirkan hal penting lainnya misalnya sejauh mana kekuatan lawan dan sepintar apa taktik pelatih lawan. 

2. Insiden Kartu Merah Song Ui-yong 

Indonesia sempat unggul 1-0 berkat gol yang dicetak Ragnar Oratmangoen sesaat babak kedua bergulir beberapa menit. Pada babak kedua itu terjadi sebuah insiden yang melibatkan Ivar Jenner dan pemain gelandang Singapore Song Ui yong. 

Insiden tersebut berbuntut kartu kuning untuk kedua pemain. Celakanya kartu kuning untuk Song adalah kartu kuning kedua dalam laga itu sehingga wasit memberikan kartu merah. 

Namun setelah ada kontak dengan wasit VAR, wasit asal Oman yang memimpin pertandingan segera melakukan cek menuju layar monitor dan setelahnya memutuskan untuk membatalkan kartu kuning untuk kedua pemain tersebut. Artinya Song masih diperbolehkan kembali bermain. 

Menanggapi keputusan wasit ini beberapa pemain Indonesia berupaya melakukan protes dan berdialog dengan wasit dan keputusan yang sudah terjadi tidak bisa dibatalkan. 

Momen inilah yang menjadi titik balik permainan Indonesia mulai kehilangan fokus sehingga mereka kembali tertekan oleh serangan balik Singapore yang terus berupaya menyamakan kedudukan. 

Insiden ini harus menjadi pelajaran berharga untuk menyikapi keputusan wasit dengan legawa agar permainan tidak kehilangan fokus. 

3. Blunder Menjadi Penyebab Gol 

Kinerja lini belakang skuad asuhan John Herdman ini patut dibenahi lebih lanjut. Dari catatan selama berlaga di fase grup ada 4 gol yang bersarang ke gawang Indonesia hanya akibat dari blundernya pemain belakang. 

Satu gol dari Kamboja pada laga perdana yang tidak bisa diantisipasi kiper Nadeo. Dua gol dari Vietnam yang terjadi akibat terlambatnya transisi lini belakang dan blunder Rizki Ridho dalam mengoper bola. Dan satu gol dari Singapore akibat komunikasi buruk kiper Cahya Supriyadi dengan Rizki Ridho. 

Kesalahan-kesalahan lini belakang yang tidak perlu tersebut yang mengakibatkan gawang Indonesia kebobolan. Ini adalah hal yang menyedihkan gawang Indonesia bobol bukan karena serangan berbahaya dari lawan tetapi akibat kecerobohan sendiri. 

4. Butuh Pemimpin seperti Jay Idzes. 

Timnas Indonesia saat berlaga di Piala AFF 2026 sangat terasa tidak ada sosok yang mampu memimpin seperti sosok Jay Idzes yang mampu melakukan mengkordinasi rekan-rekannya di lapangan. 

Pada saat momen kartu merah Song dibatalkan, sosok Kapten seperti Jay Idzes sangat dibutuhkan kehadirannya. Dia pasti mampu melakukan kembali konsolidasi rekan-rekannnya agar tidak pecah konsentrasi mereka untuk mempertahankan keunggulan dan bahkan menambah gol kedua. 

Dalam skuad Garuda di Piala AFF 2026 tampaknya belum ada sosok yang mampu melakukan kordinasi yang baik dalam memimpin tim seperti yang dilakukan oleh Jay Idzes. Rizki Ridho sendiri yang diberikan kepercayaan sebagai kapten malah banyak kehilangan fokus menjaga area pertahanan yang menjadi tanggung jawabnya bersama koleganya. 

Dengan hasil ini bagi Pelatih John Herdman, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Skuad Garuda asuhannya butuh evaluasi total dari segala segi, terutama para pemain harus bisa memahami dengan benar pola bermain, komunikasi antar pemain, visi dan filosofi permainan. 

Ajang terdekat untuk Timnas Indonesia berikutnya adalah FIFA ASEAN Championship 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 23 September sampai dengan 3 Oktober 2026. Indonesia ada di Grup A bersama Malaysia, Singapore dan India. Sementara di Grup B ada Thailand, Vietnam, Filipina dan Pakistan. 

Juara dari masing-masing grup berhak lolos ke final sementara tim runner up akan memperebutkan peringkat kedua. Turnamen ini penyelenggaranya adalah FIFA dengan hadiah total sekitar 4 juta US Dollars.  Selamat berbenah Skuad Garuda. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

*****

Saturday, August 8, 2026

Timnas Garuda Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026

 

John Herdman, Pelatih Kepala Timnas Indonesia (Foto ASEAN UNITED). 

Hai para Fans Garuda apa boleh buat setelah melalui perjuangan yang melelahkan dengan berbagai drama, akhirnya Timnas Indonesia harus tersingkir dari ajang Piala AFF 2026 karena mereka hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 dengan tuan rumah Singapura. 

Kita sebagai Fans Garuda tentu kecewa dong. Namun tidak harus melampiaskannya dengan hujatan dan makian kepada siapapun. Apalagi kepada pemain dan tim pelatih karena mereka sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian meraih juara Piala AFF yang sduah 30 tahun ditunggu. 

Malam itu sebenarnya skuad Garuda sempat unggul duluan 1-0 pada awal babak kedua, setelah Ragnar Oratmangoen berhasil mencetak gol dari jarak dekat memanfaatkan umpan tarik dari Donny Tri Pamungkas. 

Namun sangat disayangkan akibat blunder (lagi) antara Rizki Ridho dan kiper Cahya Supriyadi, gawang Indonesia harus kebobolan mudah oleh tendangan Ilhan Fandi sehingga skor menjadi imbang 1-1. 

Bagi Rizki Ridho ini adalah blundernya yang kedua setelah dirinya melakukan blunder saat kalah dari Vietnam. Momen-momen blunder tersebut karena Rizki Ridho tidak langsung saja membuang bola pada kesempatan pertama.

Terlepas dari penguasaan bola yang dominan, masih ada faktor menatalitas pemain yang terpancing dengan keputusan wasit yang membatalkan kartu merah Ui-young Song. Mereka beramai-ramai protes kepada wasit. 

Hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena bisa memecah fokus bermain. Padahal saat itu mereka masih unggul 1-0. Dengan tidak fokus bermain bisa mengakibatkan kelengahan yang fatal. 

Menguasai bola sepanjang laga dengan keunggulan 1-0 sebenarnya bagi skuad Garuda menjadi momen yang seharusnya bisa dipertahankan. Namun karena tidak fokus akibat kontroversial kartu merah tersebut, maka pemain-pemain terlihat gugup ketika menerima serangan balik, terutama lini belakang dan kiper Cahya Supriyadi. 

Diluar performa kiper Marten Paes dan Audero Mulyadi, sektor kiper ini menjadi titik lemah yang perlu pembenahan serius. Dua kiper di ajang ini, Nadeo dan Cahya masih sering gugup dan melakukan blunder. 

Timnas Indonesia dalam sejarah Piala AFF yang sudah berusia 30 tahun sejak pertama digulirkan sebagai Pial Tiger tahun 1996, belum pernah sekalipun bisa meraih gelar juara. 

Ada catatan unik yang menjadi kenangan buruk bagi skuad Garuda yaitu 6 kali masuk final, tetapi 6 kali pula gagal juara hanya bisa nerada di posisi runner up. 

Lebih menarik lagi angka 6 ini juga berlaku pada kegagalan Timnas Indonesia gagal lolos dari fase grup sebanyak 6 kali setelah tadi malam, Jumat (7/8/26) ditahan imbang Singapura dengan skor 1-1. 

Dengan hasil imbang tersebut Indonesia hanya menambah satu poin dan berada di posisi ketiga Grup A dengan 7 poin. Sementara itu Singapura ada di posisi kedua dengan 8 poin. 

Dengan hasil ini dari Grup A Vietnam berhasil meraih juara grup dengan 10 poin dan Singapura runner dengan 8 poin. Mereka berhak lolos ke babak semi final. 

Tentu saja banyak catatan bagi John Herdman dan koleganya untuk memperbaiki semua kekurangan skuad asuhannya. 

Terutama lini belakang khususnya pada sektor bek dan kiper yang tidak memiliki komunikasi sehingga terjadilah gol balasan dari Singapura saat Indonesia unggul 1-0 pada laga tersebut. 

Bagi kita, Fans Garuda, harus disadari sepenuhnya, tidak gampang membangun sebuah Timnas yang solid pertahannnya dan produktif mencetak gol. Membutuhkan waktu, biaya, pikiran dan sumber daya yang unggul

Oleh karena itu kita harus tetap mendukung Timnas Indonesia baik saat mereka menang maupun saat mereka kalah. John Herdman sebagai pelatih kepala juga harus kita percaya dengan program-programnya menuju target utama yaitu Piala Dunia 2030. 

Bravo Merah Putih @hensa17.