Monday, August 10, 2026

4 Pelajaran Penitng dari Piala AFF 2026 bagi Timnas Indonesia

 

Thom Haye beraksi Foto Kompas.com/Antonius Aditya Mahendra. 

Timnas Indonesia kembali gagal meraih gelar juara Piala AFF 2026 karena mereka sudah tersisih di fase grup. Dalam laga terakhir yang wajib menang atas Singapore, skuad Garuda hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan The Lions julukan bagi skuad Singapore. 

Artikel ini tidak akan membahas polemik yang terjadi dalam laga lawan Singapore di Stadion Jalan Besar Kallang Jumat (7/8/27) malam. Baik perdebatan tentang wasit yang membatalkan kartu merah atau blunder yang dilakukan kiper Cahya Supriyadi dan Rizki Ridho. 

Namun artikel ini akan melihat dari sudut yang berbeda yaitu pelajaran apa yang bisa diambil hikmahnya dari turnamen regional ASEAN ini yang sudah berusia 30 tahun. 

Timnas Indonesia harus kembali berbenah untuk memperbaiki segala kekurangan yang mereka miliki. Ada 4 pelajaran berharga dari Piala AFF 2026 yang lalu. Mari kita simak ulasan berikut ini. 

1. Terlalu Optimis dengan Skuad Garuda. 

Dari awal pertama kali turnamen ini bergulir Indonesia belum pernah meraih gelar hanya mampu menjadi finalis sebanyak 6 kali. Sementara itu kegagalan lolos dari fase grup pada episode Piala AFF 2026 ini adalah juga yang ke Enam. Lengkap sudah 6 kali  gagal juara di final dan 6 kali gagal lolos ke babak semifinal.

Pelatih John Herdman terlalu optimis dengan skuad Garuda yang diasuhnya. Hal ini sebenarnya sah sah saja mengingat dalam skuad Garuda ada 12 pemain naturalisasi. Lini blekang diperkuat oleh Jordi Amat, Shayne Pattynama, Sandy Walsh, Tim Geypens. Lini tengah ada Eliano Reinjders, Thom Haye, Ivar Jenner, Marc Klok dan di depan ada Michell Baker, Jens Raven dan Ragnar Oratmangoen. 

Dengan materi tersebut pelatih Herdman boleh saja merasa optimis karena mereka memiliki kemampuan yang level Eropa. Terlebih lagi narasi-narasi yang berkembang di media sosial juga terlalu over ekspektasi seakan-akan inilah saatnya Piala AFF 2026 untuk pertama kalinya bisa diraih setelah 30 tahun menunggu. 

John Herdman sendiri seolah terlena dengan sambutan optimis dari para fans Garuda di media sosial. Pelatih asal Inggris ini lupa ada satu hal yang terbaikan bahwa sepak bola harus memikirkan hal penting lainnya misalnya sejauh mana kekuatan lawan dan sepintar apa taktik pelatih lawan. 

2. Insiden Kartu Merah Song Ui-yong 

Indonesia sempat unggul 1-0 berkat gol yang dicetak Ragnar Oratmangoen sesaat babak kedua bergulir beberapa menit. Pada babak kedua itu terjadi sebuah insiden yang melibatkan Ivar Jenner dan pemain gelandang Singapore Song Ui yong. 

Insiden tersebut berbuntut kartu kuning untuk kedua pemain. Celakanya kartu kuning untuk Song adalah kartu kuning kedua dalam laga itu sehingga wasit memberikan kartu merah. 

Namun setelah ada kontak dengan wasit VAR, wasit asal Oman yang memimpin pertandingan segera melakukan cek menuju layar monitor dan setelahnya memutuskan untuk membatalkan kartu kuning untuk kedua pemain tersebut. Artinya Song masih diperbolehkan kembali bermain. 

Menanggapi keputusan wasit ini beberapa pemain Indonesia berupaya melakukan protes dan berdialog dengan wasit dan keputusan yang sudah terjadi tidak bisa dibatalkan. 

Momen inilah yang menjadi titik balik permainan Indonesia mulai kehilangan fokus sehingga mereka kembali tertekan oleh serangan balik Singapore yang terus berupaya menyamakan kedudukan. 

Insiden ini harus menjadi pelajaran berharga untuk menyikapi keputusan wasit dengan legawa agar permainan tidak kehilangan fokus. 

3. Blunder Menjadi Penyebab Gol 

Kinerja lini belakang skuad asuhan John Herdman ini patut dibenahi lebih lanjut. Dari catatan selama berlaga di fase grup ada 4 gol yang bersarang ke gawang Indonesia hanya akibat dari blundernya pemain belakang. 

Satu gol dari Kamboja pada laga perdana yang tidak bisa diantisipasi kiper Nadeo. Dua gol dari Vietnam yang terjadi akibat terlambatnya transisi lini belakang dan blunder Rizki Ridho dalam mengoper bola. Dan satu gol dari Singapore akibat komunikasi buruk kiper Cahya Supriyadi dengan Rizki Ridho. 

Kesalahan-kesalahan lini belakang yang tidak perlu tersebut yang mengakibatkan gawang Indonesia kebobolan. Ini adalah hal yang menyedihkan gawang Indonesia bobol bukan karena serangan berbahaya dari lawan tetapi akibat kecerobohan sendiri. 

4. Butuh Pemimpin seperti Jay Idzes. 

Timnas Indonesia saat berlaga di Piala AFF 2026 sangat terasa tidak ada sosok yang mampu memimpin seperti sosok Jay Idzes yang mampu melakukan mengkordinasi rekan-rekannya di lapangan. 

Pada saat momen kartu merah Song dibatalkan, sosok Kapten seperti Jay Idzes sangat dibutuhkan kehadirannya. Dia pasti mampu melakukan kembali konsolidasi rekan-rekannnya agar tidak pecah konsentrasi mereka untuk mempertahankan keunggulan dan bahkan menambah gol kedua. 

Dalam skuad Garuda di Piala AFF 2026 tampaknya belum ada sosok yang mampu melakukan kordinasi yang baik dalam memimpin tim seperti yang dilakukan oleh Jay Idzes. Rizki Ridho sendiri yang diberikan kepercayaan sebagai kapten malah banyak kehilangan fokus menjaga area pertahanan yang menjadi tanggung jawabnya bersama koleganya. 

Dengan hasil ini bagi Pelatih John Herdman, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Skuad Garuda asuhannya butuh evaluasi total dari segala segi, terutama para pemain harus bisa memahami dengan benar pola bermain, komunikasi antar pemain, visi dan filosofi permainan. 

Ajang terdekat untuk Timnas Indonesia berikutnya adalah FIFA ASEAN Championship 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 23 September sampai dengan 3 Oktober 2026. Indonesia ada di Grup A bersama Malaysia, Singapore dan India. Sementara di Grup B ada Thailand, Vietnam, Filipina dan Pakistan. 

Juara dari masing-masing grup berhak lolos ke final sementara tim runner up akan memperebutkan peringkat kedua. Turnamen ini penyelenggaranya adalah FIFA dengan hadiah total sekitar 4 juta US Dollars.  Selamat berbenah Skuad Garuda. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

*****

Saturday, August 8, 2026

Timnas Garuda Gagal ke Semifinal Piala AFF 2026

 

John Herdman, Pelatih Kepala Timnas Indonesia (Foto ASEAN UNITED). 

Hai para Fans Garuda apa boleh buat setelah melalui perjuangan yang melelahkan dengan berbagai drama, akhirnya Timnas Indonesia harus tersingkir dari ajang Piala AFF 2026 karena mereka hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 dengan tuan rumah Singapura. 

Kita sebagai Fans Garuda tentu kecewa dong. Namun tidak harus melampiaskannya dengan hujatan dan makian kepada siapapun. Apalagi kepada pemain dan tim pelatih karena mereka sudah bekerja keras untuk mewujudkan impian meraih juara Piala AFF yang sduah 30 tahun ditunggu. 

Malam itu sebenarnya skuad Garuda sempat unggul duluan 1-0 pada awal babak kedua, setelah Ragnar Oratmangoen berhasil mencetak gol dari jarak dekat memanfaatkan umpan tarik dari Donny Tri Pamungkas. 

Namun sangat disayangkan akibat blunder (lagi) antara Rizki Ridho dan kiper Cahya Supriyadi, gawang Indonesia harus kebobolan mudah oleh tendangan Ilhan Fandi sehingga skor menjadi imbang 1-1. 

Bagi Rizki Ridho ini adalah blundernya yang kedua setelah dirinya melakukan blunder saat kalah dari Vietnam. Momen-momen blunder tersebut karena Rizki Ridho tidak langsung saja membuang bola pada kesempatan pertama.

Terlepas dari penguasaan bola yang dominan, masih ada faktor menatalitas pemain yang terpancing dengan keputusan wasit yang membatalkan kartu merah Ui-young Song. Mereka beramai-ramai protes kepada wasit. 

Hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena bisa memecah fokus bermain. Padahal saat itu mereka masih unggul 1-0. Dengan tidak fokus bermain bisa mengakibatkan kelengahan yang fatal. 

Menguasai bola sepanjang laga dengan keunggulan 1-0 sebenarnya bagi skuad Garuda menjadi momen yang seharusnya bisa dipertahankan. Namun karena tidak fokus akibat kontroversial kartu merah tersebut, maka pemain-pemain terlihat gugup ketika menerima serangan balik, terutama lini belakang dan kiper Cahya Supriyadi. 

Diluar performa kiper Marten Paes dan Audero Mulyadi, sektor kiper ini menjadi titik lemah yang perlu pembenahan serius. Dua kiper di ajang ini, Nadeo dan Cahya masih sering gugup dan melakukan blunder. 

Timnas Indonesia dalam sejarah Piala AFF yang sudah berusia 30 tahun sejak pertama digulirkan sebagai Pial Tiger tahun 1996, belum pernah sekalipun bisa meraih gelar juara. 

Ada catatan unik yang menjadi kenangan buruk bagi skuad Garuda yaitu 6 kali masuk final, tetapi 6 kali pula gagal juara hanya bisa nerada di posisi runner up. 

Lebih menarik lagi angka 6 ini juga berlaku pada kegagalan Timnas Indonesia gagal lolos dari fase grup sebanyak 6 kali setelah tadi malam, Jumat (7/8/26) ditahan imbang Singapura dengan skor 1-1. 

Dengan hasil imbang tersebut Indonesia hanya menambah satu poin dan berada di posisi ketiga Grup A dengan 7 poin. Sementara itu Singapura ada di posisi kedua dengan 8 poin. 

Dengan hasil ini dari Grup A Vietnam berhasil meraih juara grup dengan 10 poin dan Singapura runner dengan 8 poin. Mereka berhak lolos ke babak semi final. 

Tentu saja banyak catatan bagi John Herdman dan koleganya untuk memperbaiki semua kekurangan skuad asuhannya. 

Terutama lini belakang khususnya pada sektor bek dan kiper yang tidak memiliki komunikasi sehingga terjadilah gol balasan dari Singapura saat Indonesia unggul 1-0 pada laga tersebut. 

Bagi kita, Fans Garuda, harus disadari sepenuhnya, tidak gampang membangun sebuah Timnas yang solid pertahannnya dan produktif mencetak gol. Membutuhkan waktu, biaya, pikiran dan sumber daya yang unggul

Oleh karena itu kita harus tetap mendukung Timnas Indonesia baik saat mereka menang maupun saat mereka kalah. John Herdman sebagai pelatih kepala juga harus kita percaya dengan program-programnya menuju target utama yaitu Piala Dunia 2030. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 


Friday, August 7, 2026

Jangan Blunder Lagi Garuda dalam Menghadapi Laga Terakhir Lawan Singapore

 

John Herdman, pelatih Timnas Indonesia (Foto Kompas.com/Firzie A Idris)

Hallo Fans Garuda. Mari kita diskusi bagaimana peluang Timnas Indonesia dalam laga terakhirnya menghadapi Timnas Singapore di Stadion Jalan Baru, Kallang, Jumat (7/8/26) mulai pukul 20.00 WIB. 

Laga matchday terakhir ini untuk menentukan posisi juara dan runner up grup yang berhak lolos ke babak semifinal di ajang Piala AFF 2026. 

Gambaran posisi Timnas Garuda yang berada di Grup A saat ini dengan koleksi 6 poin ada di posisi peringkat ketiga di bawah Singapore dengan koleksi 7 poin. 

Hal itu artinya duel ini adalah hidup mati bagi kedua tim. Singapore sebagai tuan rumah diuntungkan karena mereka hanya butuh hasil imbang untuk menyingkirkan Indonesia. 

Namun skuad Garuda harus memenangkan laga ini untuk melangkahi posisi Singapore. Sementara itu Vietnam akan menghadapi Kamboja dalam laga terakhirnya di My Dinh Stadium, Hanoi. 

Di atas kertas Vietnam tidak mendapatkan kesulitan berarti untuk mengalahkan Kamboja sehingga mereka bisa meraih 3 poin penuh untuk memimpin sebagai peringkat pertama di Grup A. 

Menurut Anda bagaimana peluang skuad Indonesia bisa lolos ke babak semifinal dalam menghadapi Timnas Singapore yang berjuluk The Lions. Yuk kita bahas bersama. 

Pertama adalah referensi dari 3 laga Timnas Indonesia ketika menghadapi Kamboja, Timor Leste dan Vietnam. 

Dua laga pertama tim asuhan John Herdman ini menghadapi Kamboja dan Timor Leste yang levelnya ada di bawah sehingga kemenangan besar dalam laga tersebut adalah wajar. 

Ada sebuah catatan bahwa menghadapi Timor Leste walaupun Garuda menang 3 gol tanpa balas, tapi gol-gol tersebut baru lahir pada menit-menit akhir. 

Hampir sepanjang laga terjadi kebuntuan dalam mebobol gawang lawan. Terutama pada sektor sayap masih terjadi kendala dalam menerobos sisi kanan pertahanan Timor Leste. 

Baru setelah terjadinya pergantian pemain yaitu masuknya bek sayap Donny Tri dan bek tengah kiri Shayne Pattynama maka mulsai terlihat di sisi pertahanan lawan mulai mudah diterobos. 

Donny berhasil membawa bola masuk ke sisi kanan gawang Timor Leste dan mengirimkan umpan tarik, langsung dislelsaikan dengan tembakan kaki kiri Pattynama. 

Gol pembuka ini menjadi titik balik dua gol berikutnya oleh tendangan bebas Thom Haye dan Michell Baker. 

Dari catatan tersebut pola serangan Timnas Indonesia harus kembali menerapkan pola texbook taktik umpan tarik yang jauh lebih efektif. 

Hal ini tidak terjadi saat menghadapi Vietnam yaitu hanya mengandalkan umpan silang dari Thom Haye yang tidak berhasil diselesaikan oleh Baker sebagai target man. 

Menghadapi Singapore, pola ini bisa diterapkan karena tim asuhan Gavin Lee dipastikan akan menggunakan taktik bertahan untuk memaksakan hasil imbang seperti saat mereka berhasil menahan Vietnam. 

Catan penting lainnya adalah blunder fatal dalam melakukan operan di daerah pertahanan, jangan sampai melakukan kesalahan. Sebaiknya bola di area pertahanan tidak terlalu lama ditahan, langsung saja diberikan ke tengah atau sisi sayap. 

Blunder ini terjadi saat terjadinya gol pertama dari Vietnam. Blunder Rizki Ridho yang tidak bisa menerima bola, akhirnya direbut pemain Vietnam sehingga mengakibatkan kebobolan. 

Dalam laga tersebut juga transisi pertahanan Indonesia selalu terlambat kembali sehingga pemainsayap Vietnam setelah menerima umpan jauh tidak mampu dikejar dan langsung berhadapan dengan kiper Nadeo untuk menceploskan bola ke gawang Indonesia. 

Dalam menghadapi Singapore, transisi harus segera diperbaiki jangan terlambat kembali turun ke belakang memperkuat lini pertahanan. Singapore dipastikan akan melakukan taktik bertahan dengan mengandalkan serangan balik. 

Diskusi sangat asyik ya Bro. Bagaimana menurut Anda sebagai pengamat, penggemar, dan Fans setia Timnas Garuda. Ditunggu komentar-komentar Anda semua di kolom yang tersedia. 

Semoga skuad Garuda menang atas Singapore. Ayo kita selalu dukung Timnas Indonesia untuk terus berprestasi di ajang International. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

Thursday, August 6, 2026

Waspada Timnas Garuda, Skuad Singapore Lawan yang Serius Dibawah Pelatih Gavin Lee

 

Sumber Foto ANTARA Yulius Satria Wijaya

Timnas Garuda harus ekstra waspada menghadapi skuad Singapore yang dikenal dengan julukan The Lions. Performa mereka saat ini semakin solid setelah diasuh pelatih muda Gavin Lee. 

Pada klasemen terakhir di grup A, Singapore berada diperingkat ke-2 dengan 7 poin dari dua kemenangan atas Kamboja dan Timor Leste serta imbang dengan Vietnam. 

Sementara Vietnam emimpin diperingkat pertama juga dengan 7 poin unggul dalam selihi gol denngan Singapore. Mereka tinggal menghadapi Kamboja yang di atas kertas ada dibawah level mereka. 

Sedangkan Indonesia ada diperingkat ke-3 dengan 6 poin sehingga butuh kemenangan menghadapi laga terakhirnya pada fase grup ini. 

Oleh karena itu dalam laga terkhirnya skuad Singapore hanya butuh hasil imbang menghadapi Indonesia yang baru mengoleksi 6 poin dari dua kemenangan dan satu kekalahan. 

Inilah yang harus menjadi catatan bagi skuad Garuda dalam laga nanti dipastikan Singapore tidak mungkin menerapkan pola bermain menyerang. 

Jika mereka menerapkan taktik tersebut, maka skuad Garuda sangat senang karena akan terjadi permainan terbuka yang bisa saling jual beli serangan. 

Taktik ini yang diharapakn oleh skuad Garuda. Namun jika skuad The Lions menerapkan gaya bermain bertahan total, maka tantangan bagi pelatih John Herdman. 

Sejauh ini barisan pertahanan Singapore sangat kokoh terbukti mereka baru kebobolan satu gol. Bahkan ketika menghadapi Vietnam, gawang Singapore tetap clen sheet. 

Hal tersebut sebagai bukti bahwa barisan pertahanan skuad asuhan Gavin Lee ini sangat kuat. John Herdman butuh pemain yang mampu melakukan penetrasi cepat ke dalam kotak penalti lawan. 

Hal itu sebagai upaya mendobrak pertahanan ketat Singapore sekaligus memecah konsentrasi para bek mereka. 

Dengan cara seperti itu, pemain yang ada pada lini kedua bisa masuk untuk melepaskan tembakan langsung ke gawang Singapore.

Namun demikian sluad Garuda tetap harus waspada terhadap serangan balik dari para pemain Singapore. 

Jangan sampai kembali terjadi kecolongan dua gol seperti saat babak pertama melawan Vietnam. Garis pertahanan skuad Garuda harus mampu melakukan transisi cepat menjadi pola bertahan dan menutup setiap gerakan lawan. 

Selain serangan balik, Singapore juga memiliki senjata ampuh dari bola mati yang bisa dimanfaatkan oleh striker mereka yang tinggi yaitu Ilham Fandi. 

Bailah untuk Fans Garuda mari kita doakan agar skuad Merah Putih bisa menglahkan Singapore sebagai satu-satunya cara untuk lolos ke babak semi final. Tidak ada cara lain kecuali menang. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

Wednesday, August 5, 2026

Laga Hidup Mati Timnas Garuda Lawan Singapore di Piala AFF 2026

 

Timnas Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya). 

Timnas Garuda harus menjalani laga hidup mati melawan Singapore dalam matchday terakhir di grup A ajang Piala AFF 2026. Laga ini berlangsung di Stadion Jalan Besar Singapore pada Jumat (7/8/26) mulai pukul 20.00 WIB. 

Timnas Indonesia harus meraih poin penuh dalam laga tersebut untuk memastikan bisa lolos ke babak semi final. 

Hanya dengan kemenangan Garuda lolos ke babak knock out, karena Vietnam sudah memastikan lolos lebih dulu dari grup A tinggal Indonesia dan Singapore yang bersaing sebagai pendamping. 

Singapore memiliki koleksi 7 poin sedangkan Indonesia 6 poin sehingga Singapore cukup bermain imbang sudah memberikan jaminan lolos ke semi final. Sementara Indonesia wajib menang. 

Banyak yang harus dilakukan tim pelatih dalam menghadapi laga penting ini. Singapore sebagai tuan rumah dipastikan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. 

Mereka sekuat kemampuan berupaya lolos dari kekalahan pada laga tersebut. Dengan bermain imbang saja sudah lolos ke fase berikutnya maka untuk itu Singapore akan melakukan strategi bertahan total. 

Skuad Garuda tidak ada jalan lain jika ingin memenangkan laga ini harus menyerang. Namun tetap harus mampu melakukan transisi yang baik sehingga tidak kebobolan dari serangan balik Singapore. 

Salam olahraga @hensa17. 

***** 

Tuesday, August 4, 2026

Ini Penyebab Timnas Indonesia Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026

 

Timnas Indonesia (ANTARAFOTO/Bayu Pratama S). 

Yuk kita ulik apa penyebab utama sehingga Timnas Garuda kalah telak dari Vietnam? Kita bahas dalam diskusi melalui artikel berikut ini. 

Penggemar dan Fans setia Timnas Indonesia malam itu di Stadion Pakansari Cibinong Bogor, Senin (3/8/26) malam, pasti merasakan sedih ketika skuad ksayangan mereka dibantai Vietnam 3 gol tanpa balas. 

Dua gol di babak pertama dan satu gol di babak kedua yang terjadi sangat mudah mereka dapatkan. Ketiga gol tersebut merupakan hasil dari serangan balik cepat pasukan Vietnam. 

Pasukan Garuda asuhan Joh Herdman ini sebenarnya menguasai permainan hingga 60 persen sepanjang laga. Namun dari setiap serangan tidak satupun gol mampu mereka dapatkan. 

Hal itu karena pertahanan Vietnam sangat berlapis dengan menempatkan 5 beknya yang terdiri dari 3 bek tengah dan dua full back. 

Dua gol di babak pertama yang sangat mudah bagi kubu Vietnam dipastikan sebagai awal kehancuran skuad Garuda. Dalam kronologi terjadinya gol tersebut keduanya akibat kesalahan pemain belakang kita. 

Gol pertama Vietnam akibat umpan pendek di area penalti yang salah diantisipasi sehingga bola direbut pemain Vietnam yang mampu memanfaatkan blunder tersebut menjadi gol. 

Gol kedua terjadi akibat lalainya transisi bek-bek skuad Garuda. Rizki Ridho, Jordi Amat terlambat kembali ke tempat mereka sehingga umpan terobosan serangan balik Vietnam tidak bisa dicegah. 

Faktor lainnya yang menjadi sebab kekalahan ini adalah lini depan Timnas Indonesia memiliki peluang-pelung yang tidak bisa dimanfaatkan menjadi gol. 

Michell Baker sebagai ujung tombak dengan Ragnar Oratmangoen tidak mampu membuat tembakan yang membahayakan gawang Vietnam. Mereka secara ketat dikawal gelandang bertahan Vietnam. 

Nah gimana Bro. Mungkin Lu punya pendapat lain. Coba tuliskan saja di kolom komentar. Kita tetap harus dukung Timnas Indonesia saat mereka menang maupun kalah.

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

John Herdman Sikapi Kekalahan Timnas Indonesia dari Vietnam di Piala AFF 2026

 

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman (Foto Kompas.com/Firzie A Idris). 

Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman menyikapi dengan positif kekalahan Timnas Indonesia dari Vietnam dalam ajang Piala AFF 2026 di Stadion Pakansari Bogor, Senin (3/8/26). 

Pada laga malam itu skuad Vietnam menang 3-0 atas Timnas Garuda. Semua gol mereka berasal dari pola serangan balik yang sangat efektif. 

Dua gol di babak pertama yang sangat mudah dicetak mereka. Seharusnya gol-gol tersebut lebih bisa diantisipasi oleh para bek dan gelandang skuad Garuda. 

Mereka terlambat melakukan transisi sehingga umpan langsung dari bek Vietnam bisa dimanfaatkan oleh winger mereka menjadi gol. Pola serangan untuk dua gol itu hampir sama. 

Dengan kekalahan ini Timnas Indonesia berada di posisi ke-3 dengan 6 poin dan hanya menyisakan satu laga lagi melawan Singapore di Stadion Jalan Besar Singapore pada Jumat (7/8/26) mulai pukul 20-30 WIB.

Laga melawan Singapore ini merrupakan laga wajib menang bagi skuad Garuda. Sementara bagi Singapore cukup bermain imbang sudah cukup bagi mereka untuk lolos ke babak semi final. 

Dalam laga yang lain Vietnam akan menjamu Kamboja yang diatas kertas akan dengan mudah mereka kalahkan sehingga Vietnam berpeluang keluar sebagai jauar grup. 

Mari kita tunggu perjuangan skuad Garuda menghadapi Singapore yang begitu krusial karena laga ini wajib menang. Jika imbang apalagi kalah, maka Indonesia tersisih. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

Monday, August 3, 2026

Tiki-Taka ala Luis de La Fuente

Lne Yamal, Bintang skuad Spanyol (Foto Reuters/Hannah McKay). 

Pelatih Spanyol, Luis de La Fuente berhasil memodifikasi filosofi tiki-taka menjadi sistem sepak bola baru yang lebih pragmatis dan efektif dibandingkan tiki-taka klasik yang saat ini sudah bisa diredam. 

Model sepak bola ala Fuente ini berhasil membawa Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia 2026. Fuente berhasil memadukan dengan simpel dan harmonis antara penguasaan bola khas tiki-taka dan pendekatan pragmatis yaitu sepak bola yang lebih vertikal. 

Perpaduan ini sangat dinamis dengan mengandalkan kecepatan transisi pemain-pemainnya melalui sisi sayap. Dalam hal inilah dibutuhkan sosok winger yang cepat dan lincah seperti Lamine Yamal. 

Dengan cara ini pergerakkan bola dengan mudah menerobos area 16 meter di gawang lawan dan memberikan efek kejut umpan tarik atau umpan terobosan yang menimbulkan peluang untuk mencetak gol. 

Luis de La Fuente sukses melakukan evolusi taktiknya tanpa harus meninggalkan akar identitas dari skuad tiki-taka La Roja Spanyol dan terbukti taktik ini berhasil menyabet Juara Piala Dunia 2026. 

Seperti total football, tiki-taka dan sekarang modifikasinya dengan sistem lebih pragmatis, maka sampai sejauh mana taktik ini bisa bertahansampai suatu hari taktik baru yang mampu menggugurkannya? 

Kita lihat saja karena sepak bola selalu dinamis bergerak ke depan akan menghasilkan taktik-taktik baru yang menggugurkan taktik-taktik klasik. 

Salam olahraga @hensa17.

Total Football Berevolusi Jadi Tiki-Taka Spanyol

 

Pala Dunia 2026 (Foto AFP/Monirul Bhulyan). 

Sejauh ini taktik sepak bola ala Rinus Michels ini belum pernah mempersembahkan prestasi tertinggi dalam sepak bola yaitu Juara Piala Dunia. Timnas Belanda hanya mampu meraih runner up Piala Dunia tahun 1974, 1978 dan 2010. 

Pada Piala Dunia tahun 1974 Belanda kalah dari Jerman (Barat), Tahun 1978 kalah dari Argentina dan tahun 2010 mereka kalah dari Spanyol. Taktik Total Football sejauh ini baru mampu meraih prestasi di level klub di kejuaraan Eropa. 

Dari catatan yang ada menyebutkan bahwa sosok sosok duet Rinus Michels dan Johan Cruyff, berhasil membawa Ajax memenangkan tiga Piala Eropa berturut-turut yaitu pada tahun 1971, 1972, 1973. 

Duet ini kembali bersatu di Barcelona pada tahun 1973, membawa klub tersebut berhasil meraih gelar La Liga pertama mereka dalam 14 tahun terakhirnya pada musim kompetisi 1973-74. 

Rinus Michels dan Johan Cruyff membawa filosofi total football ini menjadi filosofi klub Barcelona pada tahun berikutnya. Mereka meneapkannya dalam fondasi sistem pelatihan usia muda di Akademi La Masia di Barcelona. 

Penerapan sistem taktik ini berlangsung mulai tahun 1970-an sampai tahun 1990-an. Selama itu sistem ini berevolusi menjadi taktik yang dikenal dengan Tiki-Taka ala sepak bola Spanyol. 

Kita sekarang dapat melihat bahwa jika Total Football klasik menonjolkan pertukaran pemain dengan fisik yang dinamis, maka taktik tiki-taka Spanyol memadukannya dengan sirkulasi bola-bola operan pendek dengan penguasaan pada posisi pemain. 

Pep Guardiola adalah murid dari didikan Johan Cruyff di Barcelona yang sukses menjadi pelatih ternama dengan menerapkan permainan berbasis penguasaan bola secara mutlak di klub Barcelona dan klub lain dengan level dunia, seperti Bayern Munich dan Manchester City. 

Ironinya tiki-taka yang merupakan evolusi dari total footbal berhasil mengalahkan sistem induknya ketika Spanyol menang atas Belanda di final Piala Dunia 2010. 

Salam bola @hensa17. 

Sunday, August 2, 2026

Total Football Gagal Total di Piala Dunia 2026

 

Final Piala Dunia 2026, Lionel Messi bersama Argentina lawan Spanyol (Foto AFP/Patricia De Melo Moreira). 

Piala Dunia 2026 sudah berlalu, hanya tinggal menyisakan kenangan sederet bagi para penggemar sepak bola. Salah satu yang masih tersisa dalam ingatan adalah tersingkirnya Belanda dan Jerman, penganut sepak bola total football. 

Belanda dan Jerman yaitu dua negara yang menjadi finalis Piala Dunia 1974. Saat itu Belanda menjadi favorit juara dengan sepak bola atraktif Total Football ala Rinus Michels dan dirigen di lapangan bersama Johan Cruyff. 

The Oranje pada final Piala Dunia di Munich Jerman Barat saat itu menyaksikan sebuah orkestra klasik yang indah yang dipandu oleh Sang Kapten Johan Cruyff. 

Dua sosok ini adalah arsitek legendaris dari sistem taktik sepak bola yang bisa dikatakan sebagai terobosan fenomena revolusioner saat itu. Rinus Michels sebagai penemu filosofi total football menemukan sosok Johan Cruyff yang menjadi pelaksana di lapangan. 

Cruyfff sebagai penyerang dan pengatur serangan, memiliki kemampuan teknik tinggi, kecerdasan, dan visi sepak bolanya telah berhasil menghidupkan taktik di lapangan dari sebuah cetak biru taktik dari sosok Sang Maestro Rinus Michels. 

Sistem yang dikembangkan pada tahun 1970-an ini awalnya diterapkan pada sebuah klub yaitu Ajax Amsterdam. Rinus Michels saat itu berhasil mengubah Ajax menjadi klub yang mendominasi juara Liga Champions tahun 1971-1973. 

Kemudian taktik ini diterapkan pada skuad The Oranje Belanda di Piala Dunia 1974, dan FC Barcelona pada tahun-tahun berikutnya. Mereka sangat dikenal sebagai tim yang sangat atraktif dalam menerapkan sepak bola modern.  

Inti dari filosofi Total Football ini adalah tekanan pada kinerja pemain-pemain pada posisi mereka yang fleksibel. Mereka bisa memerankan multi posisi dari setiap pemain. 

Selain itu para pemain juga harus mampu melakukan tekanan yang intens kepada lawan yang memegang bola. Skema permainanpun harus bisa menerapkan taktis yang tinggi. 

Hal itu berarti setiap pemain di lapangan dapat dengan mudah bertukar peran satu sama lain. Jelas taktik ini membutuhkan pemain-pemain dengan kemampuan skill yang tinggi dan stamina yang prima.

Salam bola @hensa17. 

Saturday, August 1, 2026

Sempat Buntu, Timnas Indonesia Menang pada Laga Lawan Timor Leste

 

Timnas Indonesia (Antara Foto/ Yulius Satria Wijaya). 

Timnas Garuda sempat menghadapi kesulitan ketika berhadapan melawan Timor Leste pada matchday kedua ajang Piala AFF 2026 yang berlangsung di Chonburi Thailand, Jumay (31/7/26) pukul 17.00 WIB. 

Padahal sejak babak pertama, Timor Leste bermain dengan 10 pemain akibat salah satu full backnya mendapatkan dua kartu kuning, tapi sampai babak pertama usai skor masih tetap kaca mata. 

Meskipun akhirnya Timnas Indonesia menang 3-0 berkat gol-gol dari Shayne Pattynama, Thom Haye dan Mitchell Baker, tetapi kebuntuan membobol cepat gawang Timor Leste menjadi pekerjaan rumah bagi coach John Herdman. 

Sementara itu hasil imbang di markas Vietnam membuat Singapura kembali ke puncak klasemen Piala AFF 2026. Timnas Indonesia harus puas turun ke posisi kedua.

Singapura membuat kejutan setelah sukses menahan Vietnam tanpa gol pada laga sengit yang berlangsung di Stadion My Dinh, Hanoi, Jumat (31/7).

Vietnam sebenarnya tampil dominan di sepanjang laga. Serangan bertubi-tubi dilancarkan namun tak ada gol yang tercipta. 

Dengan hasil ini Singapore berhasil memimpin grup A dengan 7 poin dari 3 laga yaitu menang masing-masing atas Kamboja dan Timor Leste dan imbang dengan Vietnam. 

Sedangkan Timnas Garuda menduduki peringkat kedua dari dua kemenangan atas Kamboja dan Timor Leste dan Vietnam di urutan ketiga dengan 4 poin dari kemenangan atas Timor Leste dan imbang dengan Singapore. 

Laga berikutnya Timnas Indonesia akan berhadapan lawan Vietnam pada Senin (3/8/26) di Stadion Pakansari Cibinong Bogor. Laga ini menjadi penentu kelolosan Timnas Garuda. 

Jika mereka menang, maka dipastikan lolos ke babak semi final minimal sebagai runner up grup tetapi jika kalah maka perjunagn semakin terjal karena dalam laga terakhir harus berhadapan dengan tuan rumah Singapor. Ayo Garuda tetap semangat. 

Salam oalhraga @hensa17. 

Friday, July 31, 2026

Taktik Baru John Herdman di Piala AFF 2026

 

Pelatih Timnas Garuda, John Herdman (Foto Dok Bali United via Kompas.com). 

Gol cepat Timnas Garuda mulai diterapkan dengan baik oleh punggawa asuhan John Herdman, pelatih asal Inggris yang pernah membawa Timnas Kanada ke Piala Dunia Qatar tahun 2022. 

Taktik barunya ini menjadi warna dari setiap penampilan Timnas Indonesia menghadapi lawan-lawan mereka. Herdman selalu memberikan tugas kepada skuad asuhannya agar langsung melakukan tekanan ketat ke gawang lawan. 

Hal itu guna melahirkan gol secepat mungkin setelah peluit mula ditiup. Ternyata strategi ini sangat baik bagi para pemain dalam membangun rasa percaya diri skuad asuhannya. 

Pola baru yang diterapkan Herdman ini berhasil dijalankan, hanya gagal ketika Timnas Indonesia menghadapi Bulgaria dalam laga di ajang FIFA Matchday tempo hari. 

Gebrakan punggawa Garuda saat itu gagal menghasilkan gol ketika berhadapan dengan Bulgaria. Bahkan skuad Merah Putih harus menerima kekalahan 0-1 walaupun menguasai permainan dengan penguasaan bola dominan. 

Itulah satu-satunya kegagalan membuat gol cepat yang tampaknya akan menjadi karakter baru di tubuh skuad Garuda asuhan John Herdman dari lima pertandingan yang telah dilewati sejak awal tahun. 

Sejauh ini Timnas Indonesia hanya sekali gagal mencetak gol ketika lawan Bulgaria tersebut. Sementara dalam empat laga lainnya skuad asuhan Herdman ini bisa mencetak gol cepat. 

Skuad Timnas Merah Putih selalu bisa membobol gawang lawan setidaknya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari waktu ketika peluit kick off dibunyikan. 

Ketika menghadapi Saat Saint Kitts and Nevis pada ajang FIFA Matchday, Beckham Putra berhasil membuka kemenangan Timnas Indonesia dengan sebuah gol pada menit ke-15. Begitu pula dalam laga menghadapi Oman, giliran bek tengah Justin Hubner mencetak gol pada menit ke-13. 

Selanjutnya jarak waktu dalam mencetak gol cepat, semakin dekat dengan waktu peluit kick off dibunyikan. Ole Romeny menjadi pencetak gol cepat berikutnya pada menit ke-12 ke gawang Mozambik. Gol ini merupakan satu-satunya gol kemenangan dari aksi penyerang yang kini bermain di klub Belanda, Fortuna Sittard.  

Rekor cepat terbaru terjadi pada laga pertama Indonesia di Piala AFF 2026. Ketika itu ada sosok Mitchell Baker, pemain muda berusia 19 tahun yang baru mendapatkan paspor Indonesia bulan Juli ini, mempertajam catatan gol cepat Timnas Indonesia. 

Laga debutnya untuk Timnas Indonesia itu membuat gol pada menit ke-6 membobol dengan sundulannya ke gawang Kamboja sebagai lawan pertama di ajang tersebut. 

Istimewanya dalam laga tersebut, Baker mencetak hattirck dalam debutnya sebagai pemain pertama yang mencatatkan namanya untuk pertama kalinya. Gebrakan menit awal ini menjadi sebuah ciri khas baru yang dibawa Herdman. 

Namun John Herdman harus memperhitungkan kondisi kebugaran skuad asuhannya ketika harus menerapkan pola bermain dengan target gol cepat yaitu menjamin kebugaran mereka sangat prima. 

Untuk itu dalam setiap sesi latihan, Herdman mempriositaskan latihan fisik dilakuakn lebih intensif selama menjalankan training camp di Markas Bali United. 

Hasilnya bisa kita lihat dari kinerja para pemain yang turun bertanding ketika mereka menghadapi Kamboja di laga perdana. Tom Haye menjadi sorotan utama ketika sosok gelandang serang ini bermain penuh selama 90 menit. 

Haye yang sudah berusia kepala tiga, tentu saja memiliki keterbatasan stamina dibandingkan pemain di bawah usia tiga puluh. Namun ternyata berkat pelatihan fisik yang diterapkan tim pelatih, Haye mampu menjawab setiap keraguan pelatih dan para fans. 

Sepanjang laga tersebut Haye bermain agresif tanpa lelah dan memberikan kontribusi asis yang sangat penting bagi kemenangan Timnas Indonesia 5-1 atas Kamboja. 

ASEAN Championship 2026 masih berlangsung menyelesaikan fase grup. Timnas Indonesia setelah meang 5-1 atas Kamboja, masih menyisakan laga melawan Timor Leste, Vietnam dan Singapore. 

Diantara lawan-lawan tersebut, Vietnam adalah lawan yang menjadi ukuran sejauh mana kinerja skuad John Herdman saat ini. Vietnam menjadi lawan paling berat diantara lawan-lawan di grup ini. 

Hanya dengan kemenangan menghadapi Vietnam yang bisa menjadi penanda positif bagi skuad Garuda. Kemenangan itu juga penting dalam menghadapi babak selanjutnya di semi final dan final Piala AFF yang sering dicibir sebagai Piala Ciki oleh para netizen. 

Selamat berjuang Timnas Indonesia untuk pertama kalinya meraih Piala AFF 2026. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

Thursday, July 30, 2026

Mikel Arteta Lawan Para Gurunya

 

Luis Enrique pelatih PSG lawan Arsenal di final Liga Champions (Foto FIFA /Getty Images/Hector Vivas via Kompas.com). 

Beberapa hari ini para Fans Arsenal sedang dilanda pesta besar merayakan keberhasilan klub kesayangan mereka yang berhasil meraih juara Premier League setelah menunggu selama 22 tahun. 

Adalah sosok Mikel Arteta pelatih kebanggaan para The Gunners yang berhasil membawa skuad asuhannya meraih gelar tersebut. Hal ini sekaligus mematahkan trauma baginya yang seakan dikutuk untuk selalu menjadi runner up selama 3 kali berturut-turut. 

Tahun kompetisi 2023-2024, Arsenal menjadi runner up dipecundangi Manchester City. Tahun berikutnya kembali klub asuhan Pep Guardiola ini memaksa Arsenal menjadi runner up. Tahun 2024-2025 giliran Liverpool yang mendepak Arsenal di posisi kedua. 

Untuk Pertama Kali Pecundangi Sang Guru 

Maka pada tahun ini Mikel Arteta telah membuktikan bahwa dirinya mampu meraih yang pertama di kompetisi terketat di Dunia ini yaitu Premier League. Baginya lebih istimewa karena dia berhasil mengalahkan Sang Guru untuk pertama kalinya. 

Arteta yang selama ini hanya pelatih yang menjadi bayang-bayang keberhasilan Pep Guardiola, telah menjelma menjadi sosok yang mampu mengalahkan mantan mentornya tersebut. 

Arteta pernah menjadi asisten Guardiola di Manchester City. Pengalaman ini yang menjadi modal penting baginya untuk membangun budaya baru ketika menjadi pelatih Arsenal. 

Pengalaman sebagai pemain, Arteta adalah pemain Arsenal dari tahun 2011 hingga 2016. Gelar yang pernah diraih yaitu mengangkat Piala FA dua kali sebagai kapten dan kemudian mengalami masa-masa sulit di akhir era saat itu bersama Arsen Wenger. 

Dalam tujuh tahunnya bersama Arsenal, sosok Arteta telah menjadi ahli motivasi bagi pemain-pemain asuhannya. Begitu juga kemampuannya dalam  menumbuhkan budaya berkinerja tinggi di klub London tersebut.

Gaya bermain Arsenal dengan formasi dasar 4-3-3 adalah formasi yang menjadi pakem Pep Guardiola di Manchester City. Formasi tersebut adalah gaya bermain menyerang yang dikenal selama ini dengan gaya Barcelona dimana Pep Guardiola pernah menjadi pemain dan pelatih Barcelona sebelumnya. 

Usai Pep Guardiola Kini Tantang Luis Enrique 

Mungkin kebetulan bahwa ketiga pelatih ini, Mikel Arteta, Guardiola dan Luis Enrique berkebangsaan Spanyol. Tapi bukan kebetulan kalau ketiganya adalah alumni dari Akademi Barcelona. 

Arteta dari Akademi barcelona pernah bermain bersama PSG, Rangers, Real Sociedad, Everton, dan terakhir bersama Arsenal yang saat itu dilatih Arsen Wenger pensiun di klub asal London itu pada tahun 2016. 

Dalam hal pengalaman dalam dunia sepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih, memang Mikel Arteta jauh lebih muda jam terbangnya dibandingkan kedua sosok seniornya tersebut. 

Namun DNA karakter permainan dari Barcelona sama-sama mereka miliki yaitu gaya bermain menyerang dengan penguasaan bola dan pressing tinggi. Arteta berhasil membangun Arsenal melalui gaya pemrianan tersebut. 

Baik Pep Guardiola di Manchester City maupun Luis Enrique pernah menjadi pelatih Barcelona, keduanya menggunakan filosofi sepak bola yang sama ketika mereka melatih klubnya yang sekarang, masing-masing Manchetser City dan Paris Saint Germain (PSG). 

Pecinta bola sudah banyak tahun bagaimana Pep Guardiola membangun The Citizenz, tetapi tidak begitu banyak orang paham bagaimana Luis Enrique membangun PSG. 

Sama seperti Guardiola, pada awal-awal menjadi pelatih PSG, banyak yang meragukan apakah filosofi sepak bola Enrique bisa cocok dengan PSG. 

Saat itu para jurnalis dan pundit masih mempertanyakan kemampuannya ketika pada 5 Juli 2023, Luis Enrique ditunjuk sebagai pelatih Paris Saint-Germain dengan kontrak berdurasi dua tahun (saat ini durasinya diperpanjang hingga 2030). 

Menghadapi para jurnalis dalam penampilan perdananya di hadapan media, juru taktik asal Spanyol itu menyampaikan sebuah janji yang hingga kini terus ia pegang teguh.

Janji Enrique itu adalah identitas permainan menyerang tidak bisa ditawar. Menurutnya identitas pola menyerang  bagi klub asuhannya itu tidak bisa ditawar. 

Enrique bertekad saat itu akan melatih skuad asuhanya bermain sebagai sebuah tim. Penguasaan bola menjadi karakter yang dibangun dengan kuat sebagai misi utamanya. 

Prestasi Enrique bersama PSG pada tahun 2025 nyaris dapat disebut sebagai sebuah karya yang sulit untuk dicari cela. Selain menyapu bersih gelar domestik, klub Paris tersebut juga menyingkirkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 untuk mengangkat trofi Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya. 

Kini Mikel Arteta akan berhadapan melawan Luis Enrique dalam final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/26) mulai pukul 23.00 WIB. Arsenal menghadapi PSG untuk merebut gelar tertinggi di Eropa. 

Bagi Arteta ini adalah tantangan yang sangat menarik karena ini adalah gelar sangat bergengsi sekaligus gelar perdananya bagi Arsenal di ajang Liga Champions. 

Salam olahraga @hensa17. 

Wednesday, July 29, 2026

Jepang Paling Moncer di Piala Dunia 2026

 

Pasukan Samurai Biru, Jepang (Foto Reuters/Eloisa Sanchez). 

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di USA, Kanada dan Meksiko, mulai Kamis (25/6/26) tinggal merampungkan matchday ketiga di setiap grup sehingga dari babak fase grup ini sudah bisa diketahui tim mana saja yang berhak lolos ke fase knock out 32 besar. 

Pada Piala Dunia 2026 ini ada 48 tim yang terbagi menjadi 12 grup. Setiap juara dan runner up grup yang berjumlah 12 grup berhak lolos ke babak 32 besar ditambah 8 peringkat terbaik di setiap grup. 

Kita ketahui tim-tim wakil Asia di ajang terbesar Dunia ini adalah Korea Selatan di grup A, Qatar di grup B, Australia di grup D, Jepang di grup F, Iran di grup G, Arab Saudi di grup H, Irak di grup I, Jordania grup J dan Uzbekistan grup K. 

Mari kita ulas bagaimana peluang tim-tim dari Asia ini bisa lolos ke babak 32 besar setelah mereka menyelesaikan 2 laga di fase grup dan menyisakan satu laga lagi. 

Korea Selatan 

Kita mulai dari Korea Selatan di grup A. Tim dari Asia Timur ini setelah mengejutkan meraih kemenangan atas Republik Ceko pada laga perdananya, tapi di laga kedua mereka harus tunduk pada tuan rumah Meksiko. 

Posisinya sekarang ada di peringkat 2 dengan 3 poin, mengugguli perolehan yang dikoleksi oleh Republik Ceko yang hanya satu poin hasil imbang dengan Afrika Selatan. 

Dalam jadwal laga terakhirnya Korea Selatan akan menghadapi Afrika Selatan yang memiliki satu poin. Untuk lolos ke fase 32 besar Korea Selatan wajib menang agar lebih aman bisa mendampingi Meksiko yang sudah lolos lebih dulu. 

Bagaimana jika laga berakhir imbang? Korea Selatan tetap lolos tapi dengan syarat Republik Ceko kalah dari Meksiko atau bermain imbang. Jangan sampai Korea Selatan mengalami kekalahan. 

Bagaimana jika Republik Ceko menang? Untuk mengungkuli Korea Selatan Republik Ceko harus menang minimal dengan selish 2 gol pada saat Korea Selatan bermain imbang. 

Bila Korea Selatanmenang, apapun hasilnya pada laga lain tidak berpengaruh bagi lolosnya Tim Asia ini ke 32 besar. Jadwal Korea Selatan pertandingan berlangsung Kamis (25/6/26). 

Jepang 

Jepang adalah satu dari tim Asia yang memiliki peluang besar bisa lolos meraih tiket 32 ​​besar di Piala Dunia 2026. Saat ini Tim Samurai Biru ini ada di posisi kedua Grup F dengan 4 poin sama dengan peringkat 1, Belanda hanya kalah dari selisih gol. 

Sementara itu Swedia ada diperingkat 3 dengan 3 poin hasil dari kemenangan atas Tunsia tetapi kalah dari Belanda. Tim Eropa ini akan bertanding hidup mati melawan Jepang pada laga terakhirnya di fase grup. 

Dalam posisi seperti ini, Jepang hanya butuh satu poin sudah cukup lolos ke babak 32 besar minimal sebagai runner up Grup F sedangkan Swedia wajib meraih kemenangan untuk bisa lolos ke fase knock out. 

Rasa optimis ini wajar jika melihat performa Jepang saat menahan Belanda dengan skor 2-2 dan mengalahkan Tunisia 4 gol tanpa balas. 

Laga terakhirnya melawan Swedia menjadi laga pamungkas yang menentukan bagi Jepang. Pasukan Samurai Biru ini berada dalam kondisi percaya diri menghadapi lawan manapun di grup ini. Jadwal Jepang lawan Swedia berlangsung pada Jumat (26/6/26). 

Australia 

Tim Soccerous ini memiliki 3 poin dari kemenangan atas Turki dan kalah dari Amerika Serikat. Peroleh 3 poin itu sama dengan Paraguay yang menang atas Turki dan kalah dari Amerika Serikat. 

Mereka meiliki peluang lolos dengan satu syarat menang atas Paraguay di laga fase terakhir grup. Australia tidak boleh kalah dalam laga hidup mati ini. 

Atau minimal bermain imbang mereka sudah cukup karena Australia memiliki selisih gol lebih baik dari Paraguay. Laga fase grup terakhir Australia melawan Paraguay berlangsung pada Jumlat (26/6/26). 

Iran 

Di grup ini persaingannya sangat menarik. Semua tim masih punya peluang untuk lolos ke 32 besar. Mesir ada peringkat pertama dengan 4 poin. disusul Iran dengan 2 poin dan Belgia dengan 2 poin dan terakhir Selandia Baru dengan satu poin. 

Laga terakhir Iran akan menghadapi Mesir pada Sabtu (27/6/26). Mereka tidak boleh kalah atau imbang dalam laga ini, wajib menang atas Mesir. 

Jika Iran kalah dari Mesir mereka tersisih begitu juga saat hanya bermain imbang posisi terancam oleh Belgia yang melampaui koleksi poinnya. Sedangkan Mesir cukup bermain imbang sudah cukup lolos ke 32 besar. 

Tim Asia lainnya seperti Qatar di grup B, Arab Saudi di grup H, Irak di grup I, Jordania di grup J dan Uzbekistan di grup K, sangat kecil peluang untuk lolos karena mereka memiliki banyak defisit gol untuk Qatar (1 poin), Arab Saudi (1 poin). 

Sedangkan Irak, Yordania dan Uzbekistan sudah mengalami dua kekalahan sehingga kemanangan dalam laga terakhir mereka tidak mampu mendongkrak mereka ke posisi lolos ke 32 besar. 

Mari kita nikmati gelar Piala Dunia 2026 penuh gembira. Mungkin banyak yang bisa kita pelajari dari setiap laga mereka, terutama untuk kemajuan skuad Timnas Garuda di masa depan. 

Salam olahraga @hensa17. 

*****