Friday, July 31, 2026

Taktik Baru John Herdman di Piala AFF 2026

 

Pelatih Timnas Garuda, John Herdman (Foto Dok Bali United via Kompas.com). 

Gol cepat Timnas Garuda mulai diterapkan dengan baik oleh punggawa asuhan John Herdman, pelatih asal Inggris yang pernah membawa Timnas Kanada ke Piala Dunia Qatar tahun 2022. 

Taktik barunya ini menjadi warna dari setiap penampilan Timnas Indonesia menghadapi lawan-lawan mereka. Herdman selalu memberikan tugas kepada skuad asuhannya agar langsung melakukan tekanan ketat ke gawang lawan. 

Hal itu guna melahirkan gol secepat mungkin setelah peluit mula ditiup. Ternyata strategi ini sangat baik bagi para pemain dalam membangun rasa percaya diri skuad asuhannya. 

Pola baru yang diterapkan Herdman ini berhasil dijalankan, hanya gagal ketika Timnas Indonesia menghadapi Bulgaria dalam laga di ajang FIFA Matchday tempo hari. 

Gebrakan punggawa Garuda saat itu gagal menghasilkan gol ketika berhadapan dengan Bulgaria. Bahkan skuad Merah Putih harus menerima kekalahan 0-1 walaupun menguasai permainan dengan penguasaan bola dominan. 

Itulah satu-satunya kegagalan membuat gol cepat yang tampaknya akan menjadi karakter baru di tubuh skuad Garuda asuhan John Herdman dari lima pertandingan yang telah dilewati sejak awal tahun. 

Sejauh ini Timnas Indonesia hanya sekali gagal mencetak gol ketika lawan Bulgaria tersebut. Sementara dalam empat laga lainnya skuad asuhan Herdman ini bisa mencetak gol cepat. 

Skuad Timnas Merah Putih selalu bisa membobol gawang lawan setidaknya membutuhkan waktu sekitar 15 menit dari waktu ketika peluit kick off dibunyikan. 

Ketika menghadapi Saat Saint Kitts and Nevis pada ajang FIFA Matchday, Beckham Putra berhasil membuka kemenangan Timnas Indonesia dengan sebuah gol pada menit ke-15. Begitu pula dalam laga menghadapi Oman, giliran bek tengah Justin Hubner mencetak gol pada menit ke-13. 

Selanjutnya jarak waktu dalam mencetak gol cepat, semakin dekat dengan waktu peluit kick off dibunyikan. Ole Romeny menjadi pencetak gol cepat berikutnya pada menit ke-12 ke gawang Mozambik. Gol ini merupakan satu-satunya gol kemenangan dari aksi penyerang yang kini bermain di klub Belanda, Fortuna Sittard.  

Rekor cepat terbaru terjadi pada laga pertama Indonesia di Piala AFF 2026. Ketika itu ada sosok Mitchell Baker, pemain muda berusia 19 tahun yang baru mendapatkan paspor Indonesia bulan Juli ini, mempertajam catatan gol cepat Timnas Indonesia. 

Laga debutnya untuk Timnas Indonesia itu membuat gol pada menit ke-6 membobol dengan sundulannya ke gawang Kamboja sebagai lawan pertama di ajang tersebut. 

Istimewanya dalam laga tersebut, Baker mencetak hattirck dalam debutnya sebagai pemain pertama yang mencatatkan namanya untuk pertama kalinya. Gebrakan menit awal ini menjadi sebuah ciri khas baru yang dibawa Herdman. 

Namun John Herdman harus memperhitungkan kondisi kebugaran skuad asuhannya ketika harus menerapkan pola bermain dengan target gol cepat yaitu menjamin kebugaran mereka sangat prima. 

Untuk itu dalam setiap sesi latihan, Herdman mempriositaskan latihan fisik dilakuakn lebih intensif selama menjalankan training camp di Markas Bali United. 

Hasilnya bisa kita lihat dari kinerja para pemain yang turun bertanding ketika mereka menghadapi Kamboja di laga perdana. Tom Haye menjadi sorotan utama ketika sosok gelandang serang ini bermain penuh selama 90 menit. 

Haye yang sudah berusia kepala tiga, tentu saja memiliki keterbatasan stamina dibandingkan pemain di bawah usia tiga puluh. Namun ternyata berkat pelatihan fisik yang diterapkan tim pelatih, Haye mampu menjawab setiap keraguan pelatih dan para fans. 

Sepanjang laga tersebut Haye bermain agresif tanpa lelah dan memberikan kontribusi asis yang sangat penting bagi kemenangan Timnas Indonesia 5-1 atas Kamboja. 

ASEAN Championship 2026 masih berlangsung menyelesaikan fase grup. Timnas Indonesia setelah meang 5-1 atas Kamboja, masih menyisakan laga melawan Timor Leste, Vietnam dan Singapore. 

Diantara lawan-lawan tersebut, Vietnam adalah lawan yang menjadi ukuran sejauh mana kinerja skuad John Herdman saat ini. Vietnam menjadi lawan paling berat diantara lawan-lawan di grup ini. 

Hanya dengan kemenangan menghadapi Vietnam yang bisa menjadi penanda positif bagi skuad Garuda. Kemenangan itu juga penting dalam menghadapi babak selanjutnya di semi final dan final Piala AFF yang sering dicibir sebagai Piala Ciki oleh para netizen. 

Selamat berjuang Timnas Indonesia untuk pertama kalinya meraih Piala AFF 2026. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

***** 

Thursday, July 30, 2026

Mikel Arteta Lawan Para Gurunya

 

Luis Enrique pelatih PSG lawan Arsenal di final Liga Champions (Foto FIFA /Getty Images/Hector Vivas via Kompas.com). 

Beberapa hari ini para Fans Arsenal sedang dilanda pesta besar merayakan keberhasilan klub kesayangan mereka yang berhasil meraih juara Premier League setelah menunggu selama 22 tahun. 

Adalah sosok Mikel Arteta pelatih kebanggaan para The Gunners yang berhasil membawa skuad asuhannya meraih gelar tersebut. Hal ini sekaligus mematahkan trauma baginya yang seakan dikutuk untuk selalu menjadi runner up selama 3 kali berturut-turut. 

Tahun kompetisi 2023-2024, Arsenal menjadi runner up dipecundangi Manchester City. Tahun berikutnya kembali klub asuhan Pep Guardiola ini memaksa Arsenal menjadi runner up. Tahun 2024-2025 giliran Liverpool yang mendepak Arsenal di posisi kedua. 

Untuk Pertama Kali Pecundangi Sang Guru 

Maka pada tahun ini Mikel Arteta telah membuktikan bahwa dirinya mampu meraih yang pertama di kompetisi terketat di Dunia ini yaitu Premier League. Baginya lebih istimewa karena dia berhasil mengalahkan Sang Guru untuk pertama kalinya. 

Arteta yang selama ini hanya pelatih yang menjadi bayang-bayang keberhasilan Pep Guardiola, telah menjelma menjadi sosok yang mampu mengalahkan mantan mentornya tersebut. 

Arteta pernah menjadi asisten Guardiola di Manchester City. Pengalaman ini yang menjadi modal penting baginya untuk membangun budaya baru ketika menjadi pelatih Arsenal. 

Pengalaman sebagai pemain, Arteta adalah pemain Arsenal dari tahun 2011 hingga 2016. Gelar yang pernah diraih yaitu mengangkat Piala FA dua kali sebagai kapten dan kemudian mengalami masa-masa sulit di akhir era saat itu bersama Arsen Wenger. 

Dalam tujuh tahunnya bersama Arsenal, sosok Arteta telah menjadi ahli motivasi bagi pemain-pemain asuhannya. Begitu juga kemampuannya dalam  menumbuhkan budaya berkinerja tinggi di klub London tersebut.

Gaya bermain Arsenal dengan formasi dasar 4-3-3 adalah formasi yang menjadi pakem Pep Guardiola di Manchester City. Formasi tersebut adalah gaya bermain menyerang yang dikenal selama ini dengan gaya Barcelona dimana Pep Guardiola pernah menjadi pemain dan pelatih Barcelona sebelumnya. 

Usai Pep Guardiola Kini Tantang Luis Enrique 

Mungkin kebetulan bahwa ketiga pelatih ini, Mikel Arteta, Guardiola dan Luis Enrique berkebangsaan Spanyol. Tapi bukan kebetulan kalau ketiganya adalah alumni dari Akademi Barcelona. 

Arteta dari Akademi barcelona pernah bermain bersama PSG, Rangers, Real Sociedad, Everton, dan terakhir bersama Arsenal yang saat itu dilatih Arsen Wenger pensiun di klub asal London itu pada tahun 2016. 

Dalam hal pengalaman dalam dunia sepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih, memang Mikel Arteta jauh lebih muda jam terbangnya dibandingkan kedua sosok seniornya tersebut. 

Namun DNA karakter permainan dari Barcelona sama-sama mereka miliki yaitu gaya bermain menyerang dengan penguasaan bola dan pressing tinggi. Arteta berhasil membangun Arsenal melalui gaya pemrianan tersebut. 

Baik Pep Guardiola di Manchester City maupun Luis Enrique pernah menjadi pelatih Barcelona, keduanya menggunakan filosofi sepak bola yang sama ketika mereka melatih klubnya yang sekarang, masing-masing Manchetser City dan Paris Saint Germain (PSG). 

Pecinta bola sudah banyak tahun bagaimana Pep Guardiola membangun The Citizenz, tetapi tidak begitu banyak orang paham bagaimana Luis Enrique membangun PSG. 

Sama seperti Guardiola, pada awal-awal menjadi pelatih PSG, banyak yang meragukan apakah filosofi sepak bola Enrique bisa cocok dengan PSG. 

Saat itu para jurnalis dan pundit masih mempertanyakan kemampuannya ketika pada 5 Juli 2023, Luis Enrique ditunjuk sebagai pelatih Paris Saint-Germain dengan kontrak berdurasi dua tahun (saat ini durasinya diperpanjang hingga 2030). 

Menghadapi para jurnalis dalam penampilan perdananya di hadapan media, juru taktik asal Spanyol itu menyampaikan sebuah janji yang hingga kini terus ia pegang teguh.

Janji Enrique itu adalah identitas permainan menyerang tidak bisa ditawar. Menurutnya identitas pola menyerang  bagi klub asuhannya itu tidak bisa ditawar. 

Enrique bertekad saat itu akan melatih skuad asuhanya bermain sebagai sebuah tim. Penguasaan bola menjadi karakter yang dibangun dengan kuat sebagai misi utamanya. 

Prestasi Enrique bersama PSG pada tahun 2025 nyaris dapat disebut sebagai sebuah karya yang sulit untuk dicari cela. Selain menyapu bersih gelar domestik, klub Paris tersebut juga menyingkirkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 untuk mengangkat trofi Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya. 

Kini Mikel Arteta akan berhadapan melawan Luis Enrique dalam final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/26) mulai pukul 23.00 WIB. Arsenal menghadapi PSG untuk merebut gelar tertinggi di Eropa. 

Bagi Arteta ini adalah tantangan yang sangat menarik karena ini adalah gelar sangat bergengsi sekaligus gelar perdananya bagi Arsenal di ajang Liga Champions. 

Salam olahraga @hensa17. 

Wednesday, July 29, 2026

Jepang Paling Moncer di Piala Dunia 2026

 

Pasukan Samurai Biru, Jepang (Foto Reuters/Eloisa Sanchez). 

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di USA, Kanada dan Meksiko, mulai Kamis (25/6/26) tinggal merampungkan matchday ketiga di setiap grup sehingga dari babak fase grup ini sudah bisa diketahui tim mana saja yang berhak lolos ke fase knock out 32 besar. 

Pada Piala Dunia 2026 ini ada 48 tim yang terbagi menjadi 12 grup. Setiap juara dan runner up grup yang berjumlah 12 grup berhak lolos ke babak 32 besar ditambah 8 peringkat terbaik di setiap grup. 

Kita ketahui tim-tim wakil Asia di ajang terbesar Dunia ini adalah Korea Selatan di grup A, Qatar di grup B, Australia di grup D, Jepang di grup F, Iran di grup G, Arab Saudi di grup H, Irak di grup I, Jordania grup J dan Uzbekistan grup K. 

Mari kita ulas bagaimana peluang tim-tim dari Asia ini bisa lolos ke babak 32 besar setelah mereka menyelesaikan 2 laga di fase grup dan menyisakan satu laga lagi. 

Korea Selatan 

Kita mulai dari Korea Selatan di grup A. Tim dari Asia Timur ini setelah mengejutkan meraih kemenangan atas Republik Ceko pada laga perdananya, tapi di laga kedua mereka harus tunduk pada tuan rumah Meksiko. 

Posisinya sekarang ada di peringkat 2 dengan 3 poin, mengugguli perolehan yang dikoleksi oleh Republik Ceko yang hanya satu poin hasil imbang dengan Afrika Selatan. 

Dalam jadwal laga terakhirnya Korea Selatan akan menghadapi Afrika Selatan yang memiliki satu poin. Untuk lolos ke fase 32 besar Korea Selatan wajib menang agar lebih aman bisa mendampingi Meksiko yang sudah lolos lebih dulu. 

Bagaimana jika laga berakhir imbang? Korea Selatan tetap lolos tapi dengan syarat Republik Ceko kalah dari Meksiko atau bermain imbang. Jangan sampai Korea Selatan mengalami kekalahan. 

Bagaimana jika Republik Ceko menang? Untuk mengungkuli Korea Selatan Republik Ceko harus menang minimal dengan selish 2 gol pada saat Korea Selatan bermain imbang. 

Bila Korea Selatanmenang, apapun hasilnya pada laga lain tidak berpengaruh bagi lolosnya Tim Asia ini ke 32 besar. Jadwal Korea Selatan pertandingan berlangsung Kamis (25/6/26). 

Jepang 

Jepang adalah satu dari tim Asia yang memiliki peluang besar bisa lolos meraih tiket 32 ​​besar di Piala Dunia 2026. Saat ini Tim Samurai Biru ini ada di posisi kedua Grup F dengan 4 poin sama dengan peringkat 1, Belanda hanya kalah dari selisih gol. 

Sementara itu Swedia ada diperingkat 3 dengan 3 poin hasil dari kemenangan atas Tunsia tetapi kalah dari Belanda. Tim Eropa ini akan bertanding hidup mati melawan Jepang pada laga terakhirnya di fase grup. 

Dalam posisi seperti ini, Jepang hanya butuh satu poin sudah cukup lolos ke babak 32 besar minimal sebagai runner up Grup F sedangkan Swedia wajib meraih kemenangan untuk bisa lolos ke fase knock out. 

Rasa optimis ini wajar jika melihat performa Jepang saat menahan Belanda dengan skor 2-2 dan mengalahkan Tunisia 4 gol tanpa balas. 

Laga terakhirnya melawan Swedia menjadi laga pamungkas yang menentukan bagi Jepang. Pasukan Samurai Biru ini berada dalam kondisi percaya diri menghadapi lawan manapun di grup ini. Jadwal Jepang lawan Swedia berlangsung pada Jumat (26/6/26). 

Australia 

Tim Soccerous ini memiliki 3 poin dari kemenangan atas Turki dan kalah dari Amerika Serikat. Peroleh 3 poin itu sama dengan Paraguay yang menang atas Turki dan kalah dari Amerika Serikat. 

Mereka meiliki peluang lolos dengan satu syarat menang atas Paraguay di laga fase terakhir grup. Australia tidak boleh kalah dalam laga hidup mati ini. 

Atau minimal bermain imbang mereka sudah cukup karena Australia memiliki selisih gol lebih baik dari Paraguay. Laga fase grup terakhir Australia melawan Paraguay berlangsung pada Jumlat (26/6/26). 

Iran 

Di grup ini persaingannya sangat menarik. Semua tim masih punya peluang untuk lolos ke 32 besar. Mesir ada peringkat pertama dengan 4 poin. disusul Iran dengan 2 poin dan Belgia dengan 2 poin dan terakhir Selandia Baru dengan satu poin. 

Laga terakhir Iran akan menghadapi Mesir pada Sabtu (27/6/26). Mereka tidak boleh kalah atau imbang dalam laga ini, wajib menang atas Mesir. 

Jika Iran kalah dari Mesir mereka tersisih begitu juga saat hanya bermain imbang posisi terancam oleh Belgia yang melampaui koleksi poinnya. Sedangkan Mesir cukup bermain imbang sudah cukup lolos ke 32 besar. 

Tim Asia lainnya seperti Qatar di grup B, Arab Saudi di grup H, Irak di grup I, Jordania di grup J dan Uzbekistan di grup K, sangat kecil peluang untuk lolos karena mereka memiliki banyak defisit gol untuk Qatar (1 poin), Arab Saudi (1 poin). 

Sedangkan Irak, Yordania dan Uzbekistan sudah mengalami dua kekalahan sehingga kemanangan dalam laga terakhir mereka tidak mampu mendongkrak mereka ke posisi lolos ke 32 besar. 

Mari kita nikmati gelar Piala Dunia 2026 penuh gembira. Mungkin banyak yang bisa kita pelajari dari setiap laga mereka, terutama untuk kemajuan skuad Timnas Garuda di masa depan. 

Salam olahraga @hensa17. 

*****  



Tuesday, July 28, 2026

Dramatis, Ada Apa di Piala Dunia 2026?

 

Mohamed Salah beraksi dalam laga Mesir melawan Argentina (Foto Reuters/Amanda Perobelli). 

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat (USA), Kanada dan Meksiko sudah memasuki babak 8 besar yang dimulai pada Jumat dini hari pukul 03.00 WIB. Jadwal yang sudah dirilis di babak perempat final adalah Prancis Vs Maroko, Spanyol Vs Belgia, Inggris Vs Norwegia dan Argentina Vs Swiss. 

Pada fase ini masih ada 4 tim yang pernah meraih gelar juara yaitu Prancis, Spanyol, Inggris dan Argentina. Uniknya 4 tim tersebut tidak saling berhadapat di babak 8 besar sehingga ada kemungkinan mereka baru saling berhadapan di babak semi final. 

Apakah ini skenario sutradara dari drama Piala Dunia atau memang sesuai dengan perjalanan normal sebuah tim di turnamen tersebut? Sejauh ini kejadian-kejadian yang hadir dalam pentas Piala Dunia 2026 ini banyak menimbulkan pertanyaan bagi penggemar sepak bola di seluruh dunia. 

Paling tidak ada dua kejadian yang sangat kontroversial dalam penghelatan Piala Dunia 2026 yaitu tentang kartu merah pemain USA, Folarin Balogun dan laga dramatis Argentina Vs Mesir. Yuk kita simak bahasan tuntas yang disajikan dalam artikel ini. 

Kartu Merah Folarin Balogun 

Amerika Serikat sebagai tuan rumah sangat berambisi bisa lolos sampai babak final walaupun mereka menyadari bahwa perjalanan menuju ke sana sangat berat. 

Mereka semakin menyadari jalan itu terjal ketika dua tuan rumah lainnya yaitu Meksiko dan Kanada akhirnya gugur di babak 16 besar. Kanada kalah dari Maroko, Meksiko kalah dari Inggris dan Amerika Serikat kalah dari Belgia. 

Sebelum laga 16 besar, pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun mendapatkan kartu merah saat berlaga menghadapi Bosnia di fase 32 besar. Pemian ini adalah sosok penting dalam skuad Amerika Serikat asuhan pelatih asal Argentina, Mauricio Pochettino. 

Terkait kartu merah pemain tersebut, Presiden FIFA, Infantino mengaku sempat dihubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lalu tiba-tiba saja sanksi kartu merah Folarin Balogun, ditangguhkan oleh Komisi Disiplin FIFA. 

Dalam keterangan selanjutnya Infantino menyebut bahwa penangguhan itu sepenuhnya keputusan Komite Disiplin. Baginya, keputusan komite ini harus dihormati. 

Namun Infantino tidak menjelaskan siapa yang meminta adanya sidang Komite Disiplin. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa penangguhan kartu merah tersebut mungkin karena Infantino sempat dihubungi Donald Trump. 

Drama kartu merah ini untungnya tidak mempengaruhi performa skuad Belgia yang harus berhadpan lawan taun rumah. Mereka akhirnya menang telak 4-1 atas Amerika Serikat, sekaligus mengubur impain terakhir dari 3 tuan rumah Piala Dunia 2026. 

Drama Laga Argentina Vs Mesir 

Laga ini juga menjadi buah bibir para penggemar di seluruh dunia. Mesir saat itu masih unggul 2-0 sampai laga berlangsung memasuki menit ke-79, ketika Christian Romero memperkecil kedudukan menjadi 1-2. 

Hanya 4 menit setelah gol tersebut, Lionel Messi berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Lalu pada masa injury time menit ke-2, Enzo Fernandes membawa Argentina unggul 3-2 atas Mesir dan lolos ke babak 8 besar. 

Namun pada laga tersebut ada kejanggalan yang sangat nyata terlihat bahwa setelah penijauan VAR, keputusan wasit yang menganulir gol kedua Mesir karena adanya pelanggaran kepada Lisandro Marinez, menjadi perdebatan. 

Jika gol kedua Mesir dianulir oleh VAR, maka kejadian serupa juga seharusnya diterapkan pada skuad Argentina. Wasit mestinya menganulir gol Enzo Fernandez karena sebelumnya terjadi pelanggaran. 

Namun saat itu wasit malah dinilai abai karena tidak memeriksa pelanggaran nyata yang dilakukan Alexis Mac Allister kepada Mohamed Salah, dalam proses sebelum Fernandez mencetak gol kemenangan 3-2 di masa injury time.

Pelanggaran terhadap Mo Salah itu terjadi di kotak penalti, maka jika hal itu diperiksa oleh VAR, wasit seharusnya memberikan tendangan penalti kepada Mesir. 

Namun hal itu tidak pernah dilakukan wasit dan tim VAR. Sungguh ini sebuah insiden sangat memalukan bagi para perangkat pengadil di lapangan. 

Apakah hal tersebut menggambarkan adanya konspirasi tingkat tinggi? Entahlah. Piala Dunia 2026 masih terus berlanjut hingga babak final nanti. 

Kita sebagai penonton hanya bisa menunggu adegan demi adegan dalam setiap fase skenario yang sudah dibuat oleh sutradara dari drama Piala Dunia 2026. Apakah akan ada plot twist pada babak final nanti? Wait and see. 

Salam sepak bola @hensa17. 

***** 





Monday, July 27, 2026

 

Kylian Mbappe mencetak gol perdana ke gawang Maroko untuk kemenangan Prancis 2-0 (Foto Reuters/Brian Snyder). 

Piala Dunia 2026 sudah memasuki babak 8 besar yang baru saja diawali laga Prancis menghadapi Maroko, Jumat (10/7/26) mulai pukul 03.00 WIB dini hari. Laga ini dimenangkan Prancis dengan skor 2-0. 

Dari laga ini bisa kita tarik sebuah benang yang kuat sebagai penghubung pada 3 faktor kemenangan Les Bleus atas Maroko. Yuk kita simak ulasannya. 

Mental Juara bersama Kylian Mbappe 

Kemenangan Prancis ini juga menandakan superioritas mereka terhadap lawannya, Maroko. Skor 2-0 sudah cukup memberikan gambaran sebagai fakta bahwa skuad Les Bleus layak masuk fase semi final. 

Laga ini juga menjadi bukti bahwa skuad asuhan Didier Deschamps ini sangat layak sebagai kandidat juara Piala Dunia 2026 yang berlangsung di USA, Meksiko dan Kanada. 

Pada babak 8 besar ini masih tersisa 4 Tim yang merupakan mantan Juara Piala Dunia yaitu Prancis, Spanyol, Inggris dan Argentina. Mereka adalah Tim yang menjadi favorit untuk meraih gelar Piala Dunia 2026. 

Namun demikian apakah nanti akan muncul juara baru selain dari 4 Tim tersebut? Jawabannya tergantung dari hasil laga perempat final yang menyisakan para penantang yaitu Belgia, Norwegia dan Swiss. 

Skuad Prancis baru saja lolos ke semi final setelah menyingkirkan Maroko. Selanjutnya ditunggu laga Spanyol menghadapi Belgia (11/7), Inggris lawan Norwegia (12/7) dan Argentina lawan Swiss (12/7). 

Kemenangan Prancis atas Maroko semakin memperjelas kekuatan mereka sebagai kandidat untuk meraih juara Piala Dunia 2026 disamping Tim lain seperti Argentina dan Spanyol. 

Ada momen Kylian Mbappe gagal mengeksekusi hadiah penalti dibabak pertama, tapi mental juara dalam dirinya tidak membuat down dari kegagalan tersebut. 

Justru di babak kedua Mbappe lah yang mengawali gol kemenangan dengan aksinya yang memukau. 

Faktor sosok Mbappe yang tetap konsisten mencetak gol menjadi kunci penting. 

Prancis Tidak Pernah Kalah dalam 6 Laga Terakhirnya

Sejauh ini performa skuad Prancis masih tidak terkalahkan dari sejak fase grup, babak 32 besar, 16 besar dan 8 besar yang sudah mereka jalani. 

Pada fase grup Prancis tidak pernah kalah. Mereka menang masing-masing 3-1 atas Senegal, 3-0 atas Irak dan 4-1 atas Norwegia. Total meraih 9 poin pada fase grup dengan produktivitas gol 10-2 atau surplus 8 gol. 

Pada babak 32 besar menang 3-0 atas Swedia, pada babak 16 besar menang 1-0 atas Paraguay dan pada babak 8 besar menang 2-0 atas Maroko. 

Hasil tersebut semakin mempertegas bagaimana lini pertahanan mereka berhasil meraih clean sheet. Tercatat dalam 3 laga di fase knock out ini Prancis tidak pernah kebobolan dan mencetak 6 gol. 

Produktivitas Gol Skuad Prancis dan Keseimbangan Tim 

Jumlah gol Prancis sampai dengan babak 8 besar ini berhasil mencetak 16 gol dan hanya kebobolan 2 gol dari total 6 laga sejauh ini. Hal itu menggambarkan bahwa skuad Prancis sangat produktif mencetak gol karena mereka memiliki penyerang-penyerang tajam. 

Dari 16 gol tersebut Kylian Mbappe menyumbangkan 8 gol atau separuh dari jumlah gol Pancis di ajang ini. Disusul oleh Ousmane Dembele dengan 5 gol dan 3 gol lainnya dicetak oleh Desire Doue 1 gol, Bradley Barcola 2 gol. 

Barisan penyerang Prancis terutama trio Kylian Mbappe, Ousmane Dembele dan Michael Olise sejauh ini mereka memiliki rating tertinggi dalam performa di setiap laga. 

Michael Olise walaupun belum mencetak gol, tetapi sosok ini sangat besar kontribusinya terhadap permainan skuad Prancis sebagai penyerang lubang di belakang Mbappe. 

Formasi yang diterapkan pelatih Didier Deschamps menggunakan pola 4-2-3-1 dengan menempatkan duet pivot yaitu Adrien Rabiot dan Manu Kone. 

Mereka berhasil sebagai tameng awal pertahanan Les Bleus. Duet pivot ini juga penyeimbang permainan Prancis dari pola menyerang menuju transisi bertahan. Dengan hadirnya Rabiot dan Kone, lini tengah selalu mulus dalam melakukan transisi. 

Sementara itu kuartet lini belakang adalah bek-bek tangguh dengan duet bek tengah yaitu William Saliba dan Dayot Upamecano diperkuat dengan duet full back, Lucas Digne dan Jules Kounde. Plus kiper berpengalaman yaitu Mike Maignan. 

Dengan komposisi tersebut Prancis layak hadir sebagai kandidat serius juara Piala Dunia 2026. Meskipun tantangannya sangat berat karena masih ada Spanyol yang kemungkinan mereka hadapi di semi final. 

Selain itu juga masih ada Inggris atau Argentina yang kemungkinan mereka hadapi di babak final. Mungkin Argentina bersama Lionel Messi, bisa menjadi lawan yang paling besar peluangnya bertemu Prancis di final. 

Jika ini terjadi, maka laga final ini adalah ulangan final Piala Dunia Qatar tahun 2022 yang dimenangkan Argentina. Yuk mari kita tunggu final Piala Dunia 2026. 

Salam olahraga @hensa17. 

***** 

Saturday, July 25, 2026

 

Arsenal gagal juara Liga Champions setelah kalah 3-4 dari PSG dalam adu penalti (Foto AFP/Inna Fassbender).

Sahabat bola terutama para penggemar Arsenal, malam tadi pasti merasakan rasa kecewa yang menyakitkan karena tim pujaan The Gunners gagal meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya usai kalah dari Paris Saint Germain (PSG). 

Rasa kecewa itu sangat wajar karena bagaimana tidak, Arsenal sudah unggul 1-0 atas Paris Saint Germain ketika laga baru berlangsung 6 menit berkat gol dari Kai Harvetz. 

Namun disayangkan pada babak kedua, Paris Saint Germain berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti oleh Ousmane Dembele. 

Hukuman penalti untuk Arsenal terjadi setelah defender Arsenal, Cristhian Mosquera melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di area dalam pertahanannya. 

Arsenal sangat berambisi mengincar gelar Liga Champions pertama mereka dalam 20 tahun penampilan final terakhir mereka dan juga untuk melengkapi raihan ganda bersejarah setelah memenangkan gelar Liga Premier.

Namun kenyataan di lapangan pada malam itu meskipun sudah unggul, tapi akhirnya harus mengakui keunggulan Paris Saint Germain dalam duel adu penalti dengan skor 3-4 setelah dalam waktu normal mereka bermain imbang 1-1. 

Hasil ini sungguh sangat ironi bagi skuad asuhan Mikel Arteta ini. Bayangkan selama babak grup, 16 besar, perempat final, semi final di ajang Liga Champions, mereka tidak pernah terkalahkan. Satu-satunya kekalahan justru terjadi di babak final sehingga gagal juara. 

Bagi Mikel Arteta hasil ini harus menjadi catatan penting dalam mempersiapkan skuadnya menghadapi Liga Champions musim depan. Jika Arteta tidak total menyiapkan skuadnya, maka jangan harap Arsenal bisa kembali masuk pada babak-babak akhir. 

Malam itu raut wajah Arteta memang terlihat tenang. Namun hatinya mungkin merasakan rasa pedih pada saat gelar sudah dalam genggaman kedua tangannya, tetapi harus lepas kembali direngut oleh lawan. 

Malah malam itu dia juga masih sempat mengajak tim asuhannya mendekati tribun yang dipenuhi oleh para suporter Arsenal yang tetap mendukung dengan tepuk tangan mereka, walaupun mata mereka basah dengan tangisan. 

Wajah-wajah pemain Arsenal yang lesu dan lelah. Namun mereka tetap tegak berjalan ke podium untuk menerima medali dari Presiden UEFA. 

Drama final Liga Champions yang berlangsung di Puskas Arena Budapest, Sabtu (30/5/26) itu bagi Paris Saint Germain merupakan keberhasilan mereka mempertahankan gelar yang direbut pada musim kompetisi tahun sebelumnya. 

PSG menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar ini sejak Real Madrid melakukan hal yang sama antara tahun 2015 dan 2018 yang berhasil mempertahankan trofi Eropa tersebut. 

Malam itu pertahanan Arsenal sangat tangguh dengan berlapis antar lini yang menyulitkan penetrasi pemain-pemain PSG masuk ke area penalti Arsenal. 

Ini jauh berbeda dari kemenangan telak 5-0 yang diraih Paris Saint-Germain ketika mereka menang telak melawan Inter Milan dalam final tahun lalu. 

Ketangguhan pertahanan Arsenal ini yang membuat mereka tidak terkalahkan di Liga Champions. Begitu juga saat menghadapi PSG di final, hingga akhir pertandingan, mereka berhasil meredam serangan dahsyat PSG.

Kekalahan Arsenal dari PSG melalui drama adu penalti terasa kurang adil dan sangat menyakitkan. Namun hasil ini harus menjadi catatan bagi sosok Mikel Arteta bahwa bermain dengan pola pragmatis selalu berisiko seperti ini. 

Melihat kiprah Arsenal di final pada malam itu seakan momen ironi dari pelatih Mikel Arteta yang sebelumnya gemar dengan pola menyerang, kini berubah pada pola bertahan total dengan mengandalkan serangan balik. 

Pola bertahan seperti ini bolehlah meraih hasil karena mereka mampu menahan para penyerang PSG sampai 120 menit dan memaksakan mereka untuk adu penalti. 

Namun jika pola permainan ini akan diterapkan pada kompetisi musim depan, baik di Premier League atau di Liga Champions, maka jangan berharap Mikel Arteta bisa berhasil mencapai prestasi seperti yang saat ini dia raih. 

Salam olahraga @hensa17. 

***** 



Friday, July 24, 2026

Potret Tim dari Asia di Piala Dunia 2026, Refleksi bagi Skuad Garuda

 

Pelatih Timnas Garuda, John Herdman (Foto Kompas.com/Sem Bagaskara). 

Timnas Garuda belum berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di USA, Meksiko dan Kanada. Setelah lolos sampai dengan ronde ke-4 zona Asia, Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Arab Saudi dengan skor 1-2 dan kalah 0-1 dari Irak. 

Piala Dunia 2026 diikuti oleh 48 kontestan yang terbagi menjadi 12 grup. Asia diwakili oleh 9 tim yaitu Jepang, Australia, Iran, Korea Selatan, Qatar, Irak, Jordania, Arab Saudi, dan Uzbekistan. 

Mereka itulah yang bisa menjadi gambaran peta kekuatan sepak bola Asia. Dari 9 tim tersebut 7 tim tersisih dari persaingan pada fase grup yaitu Arab Saudi, Qatar, Irak, Uzbekistan, Jordania, Iran dan Korea Selatan. 

Hanya Jepang dan Australia adalah tim yang meraih posisi terbaik lolos ke fase 32 besar mendampingi tim-tim dari Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan 3 tuan rumah USA, Kanada dan Meksiko. 

Meskipun demikian Jepang harus terhenti di babak 32 besar karena kalah tipis oleh Brasil dengan skor 1-2. Padahal saat itu Jepang sudah unggul 1-0 tapi Brasil memiliki mental jura sehingga berhasil membalikkan keadaan untuk unggul 2-1. 

Begitu pula dengan Australia setelah bertarung ketat lawan Mesir dan memaksakan Mohamed Salah dan koleganya bermain imbang 1-1 diwakti normal dan waktu perpanjangan, akhirnya Soccerous kalah dalam duel adu penalti. 

Dengan hasil tersebut maka habis sudah wakil dari Asia di babak 8 besar. Hasil ini juga memberikan gambaran selevel apa mutu sepak bola Asia. 

Pada babak 16 besar wakil Eropa diwakili oleh Spanyol, Prancis, Inggris, Belgia, Portugal, Norwegia. dan Swiss. Amerika Latin diwakili oleh Brasil, Argentina, Paraguay, dan Colombia. Afrika diwakili oleh Mesir dan Maroko. Sementara USA, Kanada dan Meksiko mewakili tuan rumah. 

Paling tidak pada babak 8 besar ini ada fakta yang memberikan gambaran bagaimana level sepak bola dunia pada saat ini. Sementara itu ada dua tim yang membuat kejutan yaitu memulangkan Jerman dan Belanda dalam drama adu penalti. 

Tim tersebut adalah Paraguay yang menang atas Jerman dan Maroko yang menang atas Belanda. Di antara Maroko dan Paraguay, skuad Maroko memiliki catatan tersendiri karena mereka masih layak menang atas Belanda sedangkan Paraguay ketika menang atas Jerman, hampir semua pengamat menyebutnya sebagai kejutan. 

Fakta tersebut juga membuktikan bahwa sepak bola Asia masih jauh tertinggal dari sepak bola dari belahan dunia lainnya seperti Afrika. Gambaran itu sangat jelas di babak 8 besar tidak ada satupun wakil dari Asia, sedangkan Afrika masih ada dua tim yang mewakilinya yaitu Maroko dan Mesir. 

Jepang saja yang sangat superior di Asia, mereka tidak mampu bersaing dengan tim-tim dari Amerika Latin seperti Brasil. Begitu juga Australia yang sepak bolanya berbasis kultur Eropa, belum cukup bagi mereka bersaing menghadapi persaingan di Piala Dunia 2026. 

Qatar dan Arab Saudi yang jago kandang, keduanya tidak berkutik di fase grup mereka langsung tersisih sebagai juru kunici. Irak, Yordania dan Uzbekistan masih memperlihatkan performa yang lumayan, demikian juga dengan Korea Selatan dan Iran yang sempat membuka harapan masuk dalam 8 tim terbaik di peringkat ketiga. 

Bagaimana dengan posisi Timnas Garuda? Tentu saja dari ulasan tersebut kita bisa memberikan peta bagi skuad Garuda ada dimana? Paling tidak Jepang, Australia, Arab Saudi dan Irak pernah satu grup dalam persaingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang lalu. 

Skuad Garuda pernah menang atas Arab Saudi di Stadion GBK tetapi kalah dalam babak ke-4. Sementara menghadapi Australia, Jepang dan Irak, skuad Garuda belum pernah menang. 

Masih banyak yang harus dibenahi dari skuad Garuda bersama pelatih John Herdman. Biarkanlah pelatih asal Inggris yang pernah membawa Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 itu, bekerja sesuai dengan program yang sudah disiapkannya. 

Membenahi sepak bola tidak semudah memasak mie instan butuh waktu tenaga, pikiran dan biaya. Kita bisa melihat sendiri sejauh mana kualitas tim-tim dari Asia di Piala Dunia 2026, sangat tertinggal. 

Bravo Merah Putih @hensa17. 

*****

Thursday, July 23, 2026

Piala Dunia 2026, Membedah Data Statistik Semifinal Prancis vs Spanyol

Kylian Mbappe, bintan Prancis di Piala Dunia 2026 (Sumber AFP/Franck Fife). 

Piala Dunia 2026 sudah memasuki babak semi final yang diawali laga Les Bleus Prancis menghadapi La Roja Spanyol pada Rabu (15/7/26) pukul 02.00 WIB dini hari dilanjutkan laga Argentina lawan Inggris, Kamis (16/7/26) pukul 02.00 WIB dini hari. 

Adanya 4 tim yang sudah resmi lolos ke semi final tersebut yaitu Prancis, Spanyol, Argentina dan Inggris sekaligus memastikan bahwa juara dunia belum melahirkan Juara Baru di Piala Dunia 2026. Empat tim tersebut adalah mantan juara Piala Dunia

Melihat performa 4 tim yang lolos ke babak semi final, mereka memang sangat layak berada di sana dengan kekuatan dan penampilan yang memiliki level lebih tinggi dibandingkan lawan-lawan mereka. 

Pada 4 besar ini, skuad Albiceleste, Argentina, Sang Juara bertahan dikepung oleh 3 tim dari Eropa. Sementara itu Lionel Messi masih menjadi sosok perhatian dunia dengan aksinya memimpin top skor sejauh ini dengan 8 gol. 

Menjelang laga semi final antara Prancis dan Spanyol yang banyak orang menganggap ini adalah pertemuan kepagian bagi mereka, diperkirakan bisa menghadirkan pertarungan yang ketat. 

Prancis adalah skuad finalis Piala Dunia 2022 di Qatar dan mereka saat ini jauh lebih diunggulkan oleh banyak pengamat karena performa dan konsistensi permainan Les Bleus selama babak sebelumnya. 

Namun demikian, Spanyol juga sudah membuktikan sebagai tim yang tidak bisa diremehkan dengan torehan mereka lolos ke semi final kali ini. 

Bicara Data Statistik Performa Prancis dan Spanyol di Piala Dunia 2026

Selama ajang Piala Dunia 2026 kedua tim sudah memainkan 6 laga dari sejak fase grup sampai perempat final yaitu 3 laga di fase grup dan 3 laga di fase knock out. Prancis berhasil menyapu bersih 6 laga tersebut dengan kemenangan sedangkan Spanyol sempat ditahan imbang oleh Tanjung Verde di fase grup. 

Merujuk pada data statistik Sofascore, menyebutkan bahwa rerata rating pemain-pemain Prancis memiliki nilai 7,16 lebih baik dari pemain-pemain Spanyol yaitu 7,11. 

Meskipun angka itu tipis, tapi bisa dilihat dari produktivitas gol Prancis lebih tinggi dari Spanyol. Prancis berhasil mencetak total 16 gol, sedangkan Spanyol hanya mencetak 11 gol. 

Gawang Prancis kebobolan lebih banyak yaitu 2 gol dibandingkan Spanyol yang hanya 1 gol. Skuad asuhan Didier Deschamps ini memiliki produktivitas sebanyak 14 gol lebih tinggi dari Spanyol yang hanya memiliki surplus 10 gol. 

Sekarang mari kita bandingkan performa para penyerang mereka. Prancis dalam menyerang memiliki tembakan on target sebanyak rerata 7,8 per laga sementara Spanyol hanya memiliki tembakan tepat sasaran sebanyak 6,7 tembakan per laga. 

Dalam hal jumlah asis yang mereka miliki, Prancis lebih unggul dengan 14 asis sedangkan Spanyol hanya 8 asis. Begitu pula dalam jumlah gol per laga Prancis lebih unggul dengan rata-rata 2,7 gol dibandingkan Spanyol yang hanya 1,8 gol. 

Kemampuan pertahanan Prancis dan Spanyol bisa kita lihat data statistik mereka. Gawang Prancis memiliki clean sheet sebanyak 4 laga sementara Spanyol lebih unggul dengan tidak kebobolan dalam 5 laga. 

Kebobolan hanya dengan 1 gol membuat skuad Spanyol mengungguli Prancis yang kebobolan dengan 2 gol. Pertahanan Spanyol terlihat lebih kokoh dibandingkan dengan Prancis. 

Hal ini menjadi menarik saat mereka bertanding dimana bertemunya kekuatan penyerang Prancis yang produktif menghadapi pertahanan Spanyol yang solid. 

Kylian Mbappe, Ousmane Dembelle, Michael Olise, dan Desire Doue menghadapi solidnya pertahan Spanyol dengan kuartet Dean Huijsen, Robin Le Normand, Marc Cucurella dan Pedro Porro. 

Juga sengitnya duel di lapangan tengah dimana duet pivot mereka saling berhadapan. Manu Kone dan Adrien Rabiot berhadapan dengan duet Spanyol, Martin Zubimendi dan Pedri. 

Namun demikian Prancis unggul dalam intercep bola di lapangan tengah. Mereka berhasil memotong bola rerata sebanyak 8,5 intercep per laga sedangkan Spanyol memiliki intercep sebanyak 7,5 per laga. 

Begitu pula kemampuan ball clearances per games. Prancis unggul dengan rerata 18,7 per laga dibandingkan Spanyol yang hanya 15 per laga. 

Kiper Prancis, Mike Maignan berhasil melakukan penyelamatan gawangnya dari kebobolan sebanyak rata-rata 1,5 save per laga sementara kiper Spanyol, Unai Simon hanya punya rata-rata 1,2 save per laga. 

Selama ini Spanyol menggunakan pola permainan dengan penguasaan bola yang lebih dominan. Mereka unggul jauh dalam hal tersebut dengan 65,8 persen ball possesion terhadap lawan-lawan mereka. Begitu juga akurasi passing para pemain Spanyol mencapai angka sebesar rerata 90,4 persen per laga. 

Bandingkan dengan Prancis yang hanya memiliki penguasaan bola terhadap lawan-lawan mereka sebesar 58,5 persen dengan akurasi passing hanya sebesar rerata 88,4 persen per laga. Namun hal itu justru membuktikan bahwa permainan Prancis jauh lebih efektif dibandingkan dengan Spanyol. 

Dengan data performa kedua tim tersebut, maka Anda bisa memberikan prediksi, apakah Prancis ataukah Spanyol yang hadir dalam partai final Piala Dunia 2026. Silakan berikan pendapat sobat-sobat di kolom komentar. 

Salam olahraga @hensa17. 

*****

Tuesday, July 21, 2026

Thomas Tuchel "Blunder Fatal"

                                           Jude Bellingham harus gigit jari gagal ke final Piala Dunia 2026 (Foto Reuters/Mike Segar). 

Anda pasti ingat drama laga antara Inggris dan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 tempo hari. Laga tersebut berakhir dengan kemenangan Lionel Messi dan kolega dengan skor 2-1. Padahal Inggris unggul lebih dulu 1-0 sampai menit ke-85. 

Banyak pengamat-pengamat bola, para pundit di Eropa, terutama pundit yang biasa meliput Premier League, berpendapat bahwa Thomas Tuchel melakukan blunder fatal. 

Mereka para pengamat profesional berpendapat seperti itu, wong saya saja yang bukan pengamat beneran, alias pengamat abal-abal di Kompasiana, ini juga berpendapat sama. 

Tuchel tampaknya nyalinya menciut terutama usai Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55 setelah momen serangan balik dari sisi sayap kanan serangan Inggris. 

Gordon berhasil menyelesaikan umpan panjang Morgan Rogers dengan sontekan kakinya menembus gawang Emiliano Martinez yang tak berdaya dalam mengantisipasi bola. Sebelumnya bola berasal dari umpan Declan Rise. 

Setelah gol tersebut Inggris malah bermain bertahan dengan menerapkan garis pertahanan rendah. Malah pada menit ke-72 Gordon yang bermain baik di sisi sayap kiri ditarik diganti oleh Ezri Konsa untuk memperkuat pertahanan. 

Begitu juga Reese James dan Declan Rise yang bermain bagus mengimbangi lini tengah Argentina yang diperkuat Mac Allister dan Enzo Fernandez, ditarik digantikan oleh Dan Burn dan Nico O'Reilly. 

Sejak itu Inggris benar-benar keteteran dan skuad Albiceleste memiliki paling tidak 15 tembakan mengarah ke gawang The Three Lions yang dikawal Jordan Pickford. Inggris hanya memiliki ball possession tidak sampai 30 persen, benar-benar bertahan. 

Kiper asal klub Everton harus banyak berjibaku mempertahankan gawangnya dari keganasan para penyerang Argentina selama 30 menit. Pergantian tersebut membuat Inggris bermain bertahan total. 

Bahkan termasuk Harry Kane dan Jude Bellingham harus turun memperkuat pertahanan. Dalam kondisi seperti ini, mereka benar-benar tertekan. Beberapa kali pula tembakan jarak jauh melesat keras menuju gawang Pickford. 

Atau tendangan penjuru Lionel Messi yang tajam mengancam gawang Inggris karena berhasil ditanduk oleh Julian Alfarez atau Mac Allister. 

Puncaknya, sosok Enzo Fernandez hanya 5 menit sebelum laga berakhir, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pemain asal Chelsea ini memanfaatkan umpan akurat dari Messi di luar kotak penalti dan dengan kaki kanannya menembak keras sehingga bola menembus pojok kanan gawang Pickford yang tidak mampu menjangkaunya. 

Jude Bellingham yang tepat berada di depannya terlambat menutup pergerakkan Enzo Fernandez. Ini adalah momen kebangkitan Argentina. 

Bahkan celakanya bagi Inggris pada injury time, tepatnya menit ke-90+2, barisan pertahanan mereka lengah ketika sebuah umpan lambung dari Lionel Messi berhasil disundul oleh Lautaro Martinez menembus gawang Inggris untuk keunggulan Argentina menjadi 2-1. 

Hanya dalam waktu tidak sampai 10 menit, Argentina bangkit dari ketertinggalannya untuk meraih kemenangan 2-1 atas Inggris. Taktik yang diterapkan oleh Tuchel dalam laga tersebut benar-benar fatal. 

Pada menit-menit akhir ada pergantian dengan masuknya Ivan Toney dan Marcus Rashford, tapi sudah terlambat bagi Inggris untuk menerapkan pola menyerang. 

Hal ini juga persis dengan yang dilakukan oleh Ronald Koeman dengan menerapkan permainan bertahan, ketika Belanda menghadapi Maroko di babak 32 besar. 

Mereka unggul lebih dulu 1-0 atas Maroko berkat gol Cody GakPo menit ke-72. Setelah keunggulan ini Belanda malah menerapkan permainan bertahan total. Ini benar-benar ironi sepak bola mereka yang selama ini memiliki filosofi total football yang menyerang. 

Mereka digempur habis-habisan oleh Maroko dan akhirnya gol yang tinggal menunggu waktu saja itu lahir pada menit ke-90+1 berkat kinerja Issa Diop. Maroko mekasakan perpanjangan laga menuju 2x15 menit. Mereka kahirnya harus mengakhiri pertandingan melalui adu penalti. Maroko unggul dalam drama adu penalti ini dengan skor 3-2. 

Pada hari Minggu (19/7/26) dini hari mulai pukul 04.00 WIB, Inggris akan berhadapan lawan Prancis dalam perebutan peringkat ketiga. 

Tentu saja Thomas Tuchel harus mengembalikan gaya bermain Inggris kembali pada pakemnya. Cukup ketika kalah dari Argentina saja Thomas Tuchel bernyali ciut. 

Salam sepak bola @hensa17. 

*****

Monday, July 20, 2026

Final Piala Dunia 2026, "Mengulik Kinerja" Spanyol dan Juara Bertahan Argentina

                Lionel Messi menjadi sorotan saat Argentina lawan Spanyol di Final Piala Dunia 2026 (Foto Reuters/Agustin Marcarian). 

Piala Dunia 2026 akhirnya memasuki babak final dengan mempertemukan Spanyol menghadapi juara bertahan Argentina. Laga puncak memperebutkan gelar bergengsi ini berlangsung di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/26) pukul 02.00 WIB dini hari. 

Mereka memang pantas bisa masuk partai akhir di ajang sepak bola tertinggi dunia ini karena memiliki kualitas individu pemain yang unggul, pelatih yang memiliki strategi cerdas serta mentalitas tim dalam kerja sama yang solid. 

Dua tim ini adalah pemegang juara Piala Dunia dimana Spanyol meraih satu gelar juara pada tahun 2010 dan Argentina dengan 3 gelar juara yaitu tahun 1978, 1986 dan 2022. Momen final ini menjadi peluang bagi La Furia Roja Spanyol menambah gelar untuk kedua kalinya dan bagi Albiceleste Argentina menambah gelarnya menjadi 4 gelar. 

Mari kita mengulik bagaimana kinerja kedua tim sebagai finalis Piala Dunia 2026 yaitu Spanyol dan Argentina. Dalam menyajikan bahasan ini kita juga menggunakan data sebagai acuan untuk membandingkan kekuatan kedua tim finalis ini. 

Kinerja Spanyol. 

Mari kita awali dengan membahas skuad La Furia Roja Spanyol sebagai penantang juara bertahan Argentina dalam final Piala Dunia 2026 ini. Selama babak penyisihan di fase grup, Spanyol tidak terkalahkan dengan meraih 7 poin dari dua kemenangan masing-masing atas Uruguay dan Arab Saudi serta ditahan imbang tanpa gol oleh Tanjung Verde. Total 5 gol dicetak tanpa kebobolan 

Pada fase knock out yaitu fase 32 besar Spanyol menang 3-0 atas Austria. Lalu menang 1-0 atas Portugal di fase 16 besar. Menang 2-1 atas Belgia di fase 8 besar dan 2-0 atas Prancis di semifinal. Total 8 gol dicetak dan hanya 1 gol kebobolan. Kinerja Spanyol tidak terkalahkan dari fase grup sampai dengan semifinal sudah mencetak 13 gol dengan kebobolan gawang mereka hanya 1 gol. Satu-satunya tim yang mampu menahan imbang Spanyol tanpa gol adalah Tanjung Verde.

Melihat data ini kita bisa memberikan sebuah gambaran bahwa barisan penyerang Spanyol sangat produktif dengan 13 gol mereka dan barisan pertahanannya sangat solid yang hanya kebobolan satu gol. Dengan total mencetak 13 gol dan hanya kebobolan satu gol, Spanyol memiliki produktivitas sebanyak 12 gol. Sebuah pencapaian ketjaman dari para penyerang mereka. Gawang Spanyol memiliki 6 kali clean sheet (Tidak kebobolan) dari 7 laga yang sudah mereka jalani selama Piala Dunia 2026. Satu-satunya gol yang berhasil bersarang ke gawang Spanyol adalah ketika mereka berhadapan lawan Belgia. 

Angka clean sheet tersebut juga menunjukkan bagaimana pertahanan Spanyol sangat solid dengan lini belakangnya dan juga tangguhnya sosok penjaga gawang Unai Simon yang sering kali menunjukkan kinerja luar biasa. 

Kinerja Argentina 

Bagaimana dengan kinerja Sang Juara Bertahan? Argentina juga tidak terkalahkan dalam 7 laga yang sudah mereka jalani dari fase grup sampai dengan semifinal. Argentina berada satu grup dengan Austria, Aljajair dan Jordania. Mereka menang 3-0 atas Aljajair, menang 2-0 atas Austria dan menang 3-1 atas Jordania. Total mencetak 8 gol dan kebobolan satu gol. Pada fase 32 besar Argentina menang 3-2 atas Tanjung Verde, lalu menang 3-2 atas Mesir di 16 besar dan menang 3-1 atas Swiss di perempat final. 

Pada semifinal Argentina berhasil menang 2-1 atas Inggris. Total mencetak 11 gol dan kebobolan 6 gol. Melihat kinerja para penyerang Argentina sejauh ini berhasil mencetak total 19 gol selama ajang ini menunjukkan kinerja luar biasa mengalahkan jumlah gol yang dicetak Spanyol yaitu 13 gol. Gambaran nyata bahwa merekassangat tajam dalam mencetak gol, terutama dari sosok Lionel Messi yang sejauh ini sudah mencetak 8 gol sekaligus sebagai top skor sementara. 

Namun barisan pertahanan Argentina terlihat keropos karena mereka sudah kebobolan sebanyak 7 gol. Argentina hanya memiliki 2 laga yang gawangnya Clean Sheet yaitu saat menghadapi Austria dan Aljajair di fase grup. 

Penyerang Tajam Vs Pertahanan Solid 

Dari data tersebut bisa dilihat bagaimana tajamnya para penyerang skuad La Albiceleste dengan dimotori oleh Lionel Messi yang grafik performanya semakin naik dan banyak para pengamat memprediksi di final performa Messi mencapai puncaknya.

Lalu dari data tersebut bagaimana performa pertahanan Spanyol sangat solid. Kuartet pemain belakang mereka yang terdiri dari duet full back yang agresif yaitu Pedro Porro dan Marc Cucurella serta duet bek tengah yaitu Pau Cubarsi dan Laporta. Mereka kokoh menjadi benteng terakhir yang melapisi penjaga gawang tangguh dari sosok Unai Simon yang sudah berkali-kali melakukan penyelamatan penting sehingga gawangnya memiliki 6 kali clean sheet dari 7 laga di Piala Dunia 2026.

Melihat dua fakta tersebut sungguh sangat menarik ditunggu bagaimana para penyerang Argentina yang tajam dengan sosok Lionel Messi nya menghadapi pertahanan Spanyol yang kokoh ketika mereka saling berhadapan di final Piala Dunia 2026. Adu Strategi Luis de La Fuante Vs Lionel Scaloni Juga kita menunggu taktik cerdas dari kedua pelatih mereka yaitu Luis de La Fuante (Spanyol) dan Lionel Scaloni (Argentina). Dua sosok ini memiliki strategi yang cerdas dalam meramu skuad mereka.

Sangat berkesan bagaimana kedua pelatih ini sangat cerdas dalam menerapkan pergantian pemain di babak kedua ketika tim asuhan mereka terdesak atau buntu mencetak gol atau bahakan saat tertinggal gol dari lawan. Fuante selalu membuat kejutan dengan menurnkan sosok Mikel Merino sebagai pemain Supersub di babak kedua. Dan ini sudah terbukti ketika Spanyol menang atas Postugal dan Belgia. Merino menjadi penentu kemenangan dalam dua laga tersebut.

Ketika lawan Portugal, Merino mencetak gol pada menit ke 90+1 untuk kemenangan Spanyol 1-0 atas Portugal. Sedangkan ketika menghadapi Belgia, Merino mencetak gol pada menit ke-88 untuk kemenangan 2-1 atas Belgia.

Begitu juga dengan Scaloni selalu berhasil melakukan pergantian pemain yang tepat ketika Argentina tertinggal dari Mesir dan Swiss yang akhirnya berhasil memenangkan laga. Sama seperti Spanyol yang memiliki supersub dari sosok Mikel Merino, ternyata Argentina juga memiliki sosok Lautaro Martinez sebagai sosok supersub. Aksinya sangat gemilang saat berhasil menjadi pencetak gol penentu kemenangan saat menundukkan Inggris dengan skor 2-1. Martinez mencetak gol kemenangan 2-1 pada menit ke-90+2. 

Begitu juga saat menghadapi Swiss yang harus membutuhkan perpanjangan waktu 2x15 menit, Martinez sebagai supersub berhasil mencetak gol pada menit ke-120+1 di ujung akhir laga untuk menutup kemenangan Argentina 3-1 atas Swiss.

Para penggemar bola sejagad kali ini kita pasti mendapat suguhan laga sepak bola yang sangat atraktif dari dua tim yang gemar menerapkan sepak bola menyerang yaitu Spanyol dan Argentina. Menurut Anda, apakah Spanyol berhasil meraih gelar dan menumbangkan juara bertahan Argentina? Atau La Abiceleste berhasil mempertahankan gelarnya dan menambah koleksi jura mereka menjadi 4 kali. Silakan tulis di kolom komentar. 

Salam sepak bola @hensa17. 
*****