Showing posts with label mikel arteta. Show all posts
Showing posts with label mikel arteta. Show all posts

Sunday, August 16, 2026

Arsenal Ditantang Manchester City di Ajang Community Shield 2026


 Arsenal sebagai juara Liga Inggris ditantang Manchester City juara FA Cup dalam laga Community Shield 2026 (Foto AFP/Glyn Kirk). 

Football Association Community Shield (sebelumnya Charity Shield ) adalah pertandingan tahunan dalam sepak bola Inggris yang diperebutkan di Stadion Wembley antara juara Liga Primer musim sebelumnya dan pemegang Piala FA . Jika tim yang sama memenangkan liga dan Piala FA, pertandingan dimainkan melawan runner-up Liga Primer. Kompetisi ini setara dengan Piala Super di negara lain. 

Tim-tim paling sukses dalam kompetisi ini adalah Manchester United (17 kemenangan langsung, 4 hasil imbang), Arsenal (16 kemenangan langsung, 1 hasil imbang), Liverpool (11 kemenangan langsung, 5 hasil imbang) dan Everton (8 kemenangan langsung, 1 hasil imbang).

Chelsea (2010, 2012, 2015, 2017 dan 2018) dan Newcastle United (1932, 1951, 1952, 1955 dan 1996) memiliki rekor penampilan terpanjang tanpa memenangkan atau berbagi trofi. 

Pada pembuka musim kompetisi 2026-2027. Arsenal sebagai juara Liga Inggris akan berhadapan lawan Manchester City sebagai juara FA. 

Dalam Community Shield nanti, baik Arsenal maupun Man City sama-sama bakal memainkan kekuatan terbaik, meskipun beberapa pilar bakal absen. 

Di kubu The Gunners, William Saliba dan Jurrien Timber akan absen karena cedera, sedangkan The Citizens tidak akan diperkuat Rodri yang juga dalam pemulihan.

Tanpa Rodri, pelatih Enzo Maresca bisa memainkan Nico Gonzalez di posisi sentral tersebut. Sementara Mikel Arteta bakal menurunkan Cristhian Mosquera dan Ben White guna menggantikan Saliba dan Timber.

Pertandingan ini bakal jadi ajang pembuktian bagi kedua tim. Maresca uji 'kompetensi' sebagai pelatih baru Man City sekaligus suksesor Pep Guardiola. Mikel Arteta juga perlu membuktikan konsistensinya sebagai juara musim lalu. 

Sejumlah pemain baru Arsenal dan Man City juga bisa dimainkan di Community Shield. Hanya saja, Man City tidak akan memainkan Elliot Anderson sejak awal lantaran lebih percaya dengan Nico Gonzalez. 

Sementara Bruno Guimaraes yang didatangkan Arsenal dari Newcastle United berpeluang bermain sebagai starter bersama Myles Lewis-Skelly.

Thursday, July 30, 2026

Mikel Arteta Lawan Para Gurunya

 

Luis Enrique pelatih PSG lawan Arsenal di final Liga Champions (Foto FIFA /Getty Images/Hector Vivas via Kompas.com). 

Beberapa hari ini para Fans Arsenal sedang dilanda pesta besar merayakan keberhasilan klub kesayangan mereka yang berhasil meraih juara Premier League setelah menunggu selama 22 tahun. 

Adalah sosok Mikel Arteta pelatih kebanggaan para The Gunners yang berhasil membawa skuad asuhannya meraih gelar tersebut. Hal ini sekaligus mematahkan trauma baginya yang seakan dikutuk untuk selalu menjadi runner up selama 3 kali berturut-turut. 

Tahun kompetisi 2023-2024, Arsenal menjadi runner up dipecundangi Manchester City. Tahun berikutnya kembali klub asuhan Pep Guardiola ini memaksa Arsenal menjadi runner up. Tahun 2024-2025 giliran Liverpool yang mendepak Arsenal di posisi kedua. 

Untuk Pertama Kali Pecundangi Sang Guru 

Maka pada tahun ini Mikel Arteta telah membuktikan bahwa dirinya mampu meraih yang pertama di kompetisi terketat di Dunia ini yaitu Premier League. Baginya lebih istimewa karena dia berhasil mengalahkan Sang Guru untuk pertama kalinya. 

Arteta yang selama ini hanya pelatih yang menjadi bayang-bayang keberhasilan Pep Guardiola, telah menjelma menjadi sosok yang mampu mengalahkan mantan mentornya tersebut. 

Arteta pernah menjadi asisten Guardiola di Manchester City. Pengalaman ini yang menjadi modal penting baginya untuk membangun budaya baru ketika menjadi pelatih Arsenal. 

Pengalaman sebagai pemain, Arteta adalah pemain Arsenal dari tahun 2011 hingga 2016. Gelar yang pernah diraih yaitu mengangkat Piala FA dua kali sebagai kapten dan kemudian mengalami masa-masa sulit di akhir era saat itu bersama Arsen Wenger. 

Dalam tujuh tahunnya bersama Arsenal, sosok Arteta telah menjadi ahli motivasi bagi pemain-pemain asuhannya. Begitu juga kemampuannya dalam  menumbuhkan budaya berkinerja tinggi di klub London tersebut.

Gaya bermain Arsenal dengan formasi dasar 4-3-3 adalah formasi yang menjadi pakem Pep Guardiola di Manchester City. Formasi tersebut adalah gaya bermain menyerang yang dikenal selama ini dengan gaya Barcelona dimana Pep Guardiola pernah menjadi pemain dan pelatih Barcelona sebelumnya. 

Usai Pep Guardiola Kini Tantang Luis Enrique 

Mungkin kebetulan bahwa ketiga pelatih ini, Mikel Arteta, Guardiola dan Luis Enrique berkebangsaan Spanyol. Tapi bukan kebetulan kalau ketiganya adalah alumni dari Akademi Barcelona. 

Arteta dari Akademi barcelona pernah bermain bersama PSG, Rangers, Real Sociedad, Everton, dan terakhir bersama Arsenal yang saat itu dilatih Arsen Wenger pensiun di klub asal London itu pada tahun 2016. 

Dalam hal pengalaman dalam dunia sepak bola, baik sebagai pemain maupun pelatih, memang Mikel Arteta jauh lebih muda jam terbangnya dibandingkan kedua sosok seniornya tersebut. 

Namun DNA karakter permainan dari Barcelona sama-sama mereka miliki yaitu gaya bermain menyerang dengan penguasaan bola dan pressing tinggi. Arteta berhasil membangun Arsenal melalui gaya pemrianan tersebut. 

Baik Pep Guardiola di Manchester City maupun Luis Enrique pernah menjadi pelatih Barcelona, keduanya menggunakan filosofi sepak bola yang sama ketika mereka melatih klubnya yang sekarang, masing-masing Manchetser City dan Paris Saint Germain (PSG). 

Pecinta bola sudah banyak tahun bagaimana Pep Guardiola membangun The Citizenz, tetapi tidak begitu banyak orang paham bagaimana Luis Enrique membangun PSG. 

Sama seperti Guardiola, pada awal-awal menjadi pelatih PSG, banyak yang meragukan apakah filosofi sepak bola Enrique bisa cocok dengan PSG. 

Saat itu para jurnalis dan pundit masih mempertanyakan kemampuannya ketika pada 5 Juli 2023, Luis Enrique ditunjuk sebagai pelatih Paris Saint-Germain dengan kontrak berdurasi dua tahun (saat ini durasinya diperpanjang hingga 2030). 

Menghadapi para jurnalis dalam penampilan perdananya di hadapan media, juru taktik asal Spanyol itu menyampaikan sebuah janji yang hingga kini terus ia pegang teguh.

Janji Enrique itu adalah identitas permainan menyerang tidak bisa ditawar. Menurutnya identitas pola menyerang  bagi klub asuhannya itu tidak bisa ditawar. 

Enrique bertekad saat itu akan melatih skuad asuhanya bermain sebagai sebuah tim. Penguasaan bola menjadi karakter yang dibangun dengan kuat sebagai misi utamanya. 

Prestasi Enrique bersama PSG pada tahun 2025 nyaris dapat disebut sebagai sebuah karya yang sulit untuk dicari cela. Selain menyapu bersih gelar domestik, klub Paris tersebut juga menyingkirkan Inter Milan dengan skor telak 5-0 untuk mengangkat trofi Liga Champions UEFA untuk pertama kalinya. 

Kini Mikel Arteta akan berhadapan melawan Luis Enrique dalam final Liga Champions di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/26) mulai pukul 23.00 WIB. Arsenal menghadapi PSG untuk merebut gelar tertinggi di Eropa. 

Bagi Arteta ini adalah tantangan yang sangat menarik karena ini adalah gelar sangat bergengsi sekaligus gelar perdananya bagi Arsenal di ajang Liga Champions. 

Salam olahraga @hensa17. 

Saturday, July 25, 2026

 

Arsenal gagal juara Liga Champions setelah kalah 3-4 dari PSG dalam adu penalti (Foto AFP/Inna Fassbender).

Sahabat bola terutama para penggemar Arsenal, malam tadi pasti merasakan rasa kecewa yang menyakitkan karena tim pujaan The Gunners gagal meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya usai kalah dari Paris Saint Germain (PSG). 

Rasa kecewa itu sangat wajar karena bagaimana tidak, Arsenal sudah unggul 1-0 atas Paris Saint Germain ketika laga baru berlangsung 6 menit berkat gol dari Kai Harvetz. 

Namun disayangkan pada babak kedua, Paris Saint Germain berhasil menyamakan kedudukan melalui tendangan penalti oleh Ousmane Dembele. 

Hukuman penalti untuk Arsenal terjadi setelah defender Arsenal, Cristhian Mosquera melakukan pelanggaran terhadap Khvicha Kvaratskhelia di area dalam pertahanannya. 

Arsenal sangat berambisi mengincar gelar Liga Champions pertama mereka dalam 20 tahun penampilan final terakhir mereka dan juga untuk melengkapi raihan ganda bersejarah setelah memenangkan gelar Liga Premier.

Namun kenyataan di lapangan pada malam itu meskipun sudah unggul, tapi akhirnya harus mengakui keunggulan Paris Saint Germain dalam duel adu penalti dengan skor 3-4 setelah dalam waktu normal mereka bermain imbang 1-1. 

Hasil ini sungguh sangat ironi bagi skuad asuhan Mikel Arteta ini. Bayangkan selama babak grup, 16 besar, perempat final, semi final di ajang Liga Champions, mereka tidak pernah terkalahkan. Satu-satunya kekalahan justru terjadi di babak final sehingga gagal juara. 

Bagi Mikel Arteta hasil ini harus menjadi catatan penting dalam mempersiapkan skuadnya menghadapi Liga Champions musim depan. Jika Arteta tidak total menyiapkan skuadnya, maka jangan harap Arsenal bisa kembali masuk pada babak-babak akhir. 

Malam itu raut wajah Arteta memang terlihat tenang. Namun hatinya mungkin merasakan rasa pedih pada saat gelar sudah dalam genggaman kedua tangannya, tetapi harus lepas kembali direngut oleh lawan. 

Malah malam itu dia juga masih sempat mengajak tim asuhannya mendekati tribun yang dipenuhi oleh para suporter Arsenal yang tetap mendukung dengan tepuk tangan mereka, walaupun mata mereka basah dengan tangisan. 

Wajah-wajah pemain Arsenal yang lesu dan lelah. Namun mereka tetap tegak berjalan ke podium untuk menerima medali dari Presiden UEFA. 

Drama final Liga Champions yang berlangsung di Puskas Arena Budapest, Sabtu (30/5/26) itu bagi Paris Saint Germain merupakan keberhasilan mereka mempertahankan gelar yang direbut pada musim kompetisi tahun sebelumnya. 

PSG menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar ini sejak Real Madrid melakukan hal yang sama antara tahun 2015 dan 2018 yang berhasil mempertahankan trofi Eropa tersebut. 

Malam itu pertahanan Arsenal sangat tangguh dengan berlapis antar lini yang menyulitkan penetrasi pemain-pemain PSG masuk ke area penalti Arsenal. 

Ini jauh berbeda dari kemenangan telak 5-0 yang diraih Paris Saint-Germain ketika mereka menang telak melawan Inter Milan dalam final tahun lalu. 

Ketangguhan pertahanan Arsenal ini yang membuat mereka tidak terkalahkan di Liga Champions. Begitu juga saat menghadapi PSG di final, hingga akhir pertandingan, mereka berhasil meredam serangan dahsyat PSG.

Kekalahan Arsenal dari PSG melalui drama adu penalti terasa kurang adil dan sangat menyakitkan. Namun hasil ini harus menjadi catatan bagi sosok Mikel Arteta bahwa bermain dengan pola pragmatis selalu berisiko seperti ini. 

Melihat kiprah Arsenal di final pada malam itu seakan momen ironi dari pelatih Mikel Arteta yang sebelumnya gemar dengan pola menyerang, kini berubah pada pola bertahan total dengan mengandalkan serangan balik. 

Pola bertahan seperti ini bolehlah meraih hasil karena mereka mampu menahan para penyerang PSG sampai 120 menit dan memaksakan mereka untuk adu penalti. 

Namun jika pola permainan ini akan diterapkan pada kompetisi musim depan, baik di Premier League atau di Liga Champions, maka jangan berharap Mikel Arteta bisa berhasil mencapai prestasi seperti yang saat ini dia raih. 

Salam olahraga @hensa17. 

*****