Anda pasti ingat drama laga antara Inggris dan Argentina pada semifinal Piala Dunia 2026 tempo hari. Laga tersebut berakhir dengan kemenangan Lionel Messi dan kolega dengan skor 2-1. Padahal Inggris unggul lebih dulu 1-0 sampai menit ke-85.
Banyak pengamat-pengamat bola, para pundit di Eropa, terutama pundit yang biasa meliput Premier League, berpendapat bahwa Thomas Tuchel melakukan blunder fatal.
Mereka para pengamat profesional berpendapat seperti itu, wong saya saja yang bukan pengamat beneran, alias pengamat abal-abal di Kompasiana, ini juga berpendapat sama.
Tuchel tampaknya nyalinya menciut terutama usai Anthony Gordon mencetak gol pada menit ke-55 setelah momen serangan balik dari sisi sayap kanan serangan Inggris.
Gordon berhasil menyelesaikan umpan panjang Morgan Rogers dengan sontekan kakinya menembus gawang Emiliano Martinez yang tak berdaya dalam mengantisipasi bola. Sebelumnya bola berasal dari umpan Declan Rise.
Setelah gol tersebut Inggris malah bermain bertahan dengan menerapkan garis pertahanan rendah. Malah pada menit ke-72 Gordon yang bermain baik di sisi sayap kiri ditarik diganti oleh Ezri Konsa untuk memperkuat pertahanan.
Begitu juga Reese James dan Declan Rise yang bermain bagus mengimbangi lini tengah Argentina yang diperkuat Mac Allister dan Enzo Fernandez, ditarik digantikan oleh Dan Burn dan Nico O'Reilly.
Sejak itu Inggris benar-benar keteteran dan skuad Albiceleste memiliki paling tidak 15 tembakan mengarah ke gawang The Three Lions yang dikawal Jordan Pickford. Inggris hanya memiliki ball possession tidak sampai 30 persen, benar-benar bertahan.
Kiper asal klub Everton harus banyak berjibaku mempertahankan gawangnya dari keganasan para penyerang Argentina selama 30 menit. Pergantian tersebut membuat Inggris bermain bertahan total.
Bahkan termasuk Harry Kane dan Jude Bellingham harus turun memperkuat pertahanan. Dalam kondisi seperti ini, mereka benar-benar tertekan. Beberapa kali pula tembakan jarak jauh melesat keras menuju gawang Pickford.
Atau tendangan penjuru Lionel Messi yang tajam mengancam gawang Inggris karena berhasil ditanduk oleh Julian Alfarez atau Mac Allister.
Puncaknya, sosok Enzo Fernandez hanya 5 menit sebelum laga berakhir, berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Pemain asal Chelsea ini memanfaatkan umpan akurat dari Messi di luar kotak penalti dan dengan kaki kanannya menembak keras sehingga bola menembus pojok kanan gawang Pickford yang tidak mampu menjangkaunya.
Jude Bellingham yang tepat berada di depannya terlambat menutup pergerakkan Enzo Fernandez. Ini adalah momen kebangkitan Argentina.
Bahkan celakanya bagi Inggris pada injury time, tepatnya menit ke-90+2, barisan pertahanan mereka lengah ketika sebuah umpan lambung dari Lionel Messi berhasil disundul oleh Lautaro Martinez menembus gawang Inggris untuk keunggulan Argentina menjadi 2-1.
Hanya dalam waktu tidak sampai 10 menit, Argentina bangkit dari ketertinggalannya untuk meraih kemenangan 2-1 atas Inggris. Taktik yang diterapkan oleh Tuchel dalam laga tersebut benar-benar fatal.
Pada menit-menit akhir ada pergantian dengan masuknya Ivan Toney dan Marcus Rashford, tapi sudah terlambat bagi Inggris untuk menerapkan pola menyerang.
Hal ini juga persis dengan yang dilakukan oleh Ronald Koeman dengan menerapkan permainan bertahan, ketika Belanda menghadapi Maroko di babak 32 besar.
Mereka unggul lebih dulu 1-0 atas Maroko berkat gol Cody GakPo menit ke-72. Setelah keunggulan ini Belanda malah menerapkan permainan bertahan total. Ini benar-benar ironi sepak bola mereka yang selama ini memiliki filosofi total football yang menyerang.
Mereka digempur habis-habisan oleh Maroko dan akhirnya gol yang tinggal menunggu waktu saja itu lahir pada menit ke-90+1 berkat kinerja Issa Diop. Maroko mekasakan perpanjangan laga menuju 2x15 menit. Mereka kahirnya harus mengakhiri pertandingan melalui adu penalti. Maroko unggul dalam drama adu penalti ini dengan skor 3-2.
Pada hari Minggu (19/7/26) dini hari mulai pukul 04.00 WIB, Inggris akan berhadapan lawan Prancis dalam perebutan peringkat ketiga.
Tentu saja Thomas Tuchel harus mengembalikan gaya bermain Inggris kembali pada pakemnya. Cukup ketika kalah dari Argentina saja Thomas Tuchel bernyali ciut.
Salam sepak bola @hensa17.
*****

No comments:
Post a Comment