Showing posts with label belanda. Show all posts
Showing posts with label belanda. Show all posts

Sunday, August 2, 2026

Total Football Gagal Total di Piala Dunia 2026

 

Final Piala Dunia 2026, Lionel Messi bersama Argentina lawan Spanyol (Foto AFP/Patricia De Melo Moreira). 

Piala Dunia 2026 sudah berlalu, hanya tinggal menyisakan kenangan sederet bagi para penggemar sepak bola. Salah satu yang masih tersisa dalam ingatan adalah tersingkirnya Belanda dan Jerman, penganut sepak bola total football. 

Belanda dan Jerman yaitu dua negara yang menjadi finalis Piala Dunia 1974. Saat itu Belanda menjadi favorit juara dengan sepak bola atraktif Total Football ala Rinus Michels dan dirigen di lapangan bersama Johan Cruyff. 

The Oranje pada final Piala Dunia di Munich Jerman Barat saat itu menyaksikan sebuah orkestra klasik yang indah yang dipandu oleh Sang Kapten Johan Cruyff. 

Dua sosok ini adalah arsitek legendaris dari sistem taktik sepak bola yang bisa dikatakan sebagai terobosan fenomena revolusioner saat itu. Rinus Michels sebagai penemu filosofi total football menemukan sosok Johan Cruyff yang menjadi pelaksana di lapangan. 

Cruyfff sebagai penyerang dan pengatur serangan, memiliki kemampuan teknik tinggi, kecerdasan, dan visi sepak bolanya telah berhasil menghidupkan taktik di lapangan dari sebuah cetak biru taktik dari sosok Sang Maestro Rinus Michels. 

Sistem yang dikembangkan pada tahun 1970-an ini awalnya diterapkan pada sebuah klub yaitu Ajax Amsterdam. Rinus Michels saat itu berhasil mengubah Ajax menjadi klub yang mendominasi juara Liga Champions tahun 1971-1973. 

Kemudian taktik ini diterapkan pada skuad The Oranje Belanda di Piala Dunia 1974, dan FC Barcelona pada tahun-tahun berikutnya. Mereka sangat dikenal sebagai tim yang sangat atraktif dalam menerapkan sepak bola modern.  

Inti dari filosofi Total Football ini adalah tekanan pada kinerja pemain-pemain pada posisi mereka yang fleksibel. Mereka bisa memerankan multi posisi dari setiap pemain. 

Selain itu para pemain juga harus mampu melakukan tekanan yang intens kepada lawan yang memegang bola. Skema permainanpun harus bisa menerapkan taktis yang tinggi. 

Hal itu berarti setiap pemain di lapangan dapat dengan mudah bertukar peran satu sama lain. Jelas taktik ini membutuhkan pemain-pemain dengan kemampuan skill yang tinggi dan stamina yang prima.

Salam bola @hensa17. 

Saturday, December 10, 2022

Argentina dan Belanda Berebut Tiket Final

Lionel Messi selebrasi (Foto AP/Fabio Ferrari). 

 

Argentina menghadapi Belanda dalam laga perempat final Piala Dunia 2022, Sabtu (10/12/22) pukul 02.00 dini hari WIB.

Laga mereka berlangsung setelah laga Brasil menghadapi Kroasia, Jumat (9/12/22) pukul 22.00 WIB.

Jika kita bandingkan prediksi kedua laga tersebut, maka laga Brasil lebih mudah untuk menebak hasilnya. Sedangka laga antara Argentina menghadapi Belanda bisa menjadi bahan diskusi yang menarik.

Meskipun banyak pengamat lebih menjagokan Tim Tango karena ada faktor Lionel Messi, tetapi Argentina sebenarnya masih belum konsisten performanya hingga babak 16 besar ini.

Mereka selalu buntu pada babak pertama. Sosok Messi selalu mereka harapkan menjadikan pembeda setiap laga Tim Tango. Ini sebenarnya berbahaya bagi skuad asuhan Lionel Scaloni.

Karena jika Messi dimatikan, maka tidak ada pemain lain yang punya kreasi sebaik Messi. Louis van Gaal pasti sudah tahu tentang ini dan pasti dia sudah menyiapkan pemain yang akan mematikan pergerakkan Messi.

Mari kita lihat saja adu taktik pelatih dengan tertua, Louis van Gal menghadapi pelatih termuda di Piala Dunia 2022 Qatar ini, Lionel Scaloni.

Dalam laga ini patut kita tunggu Virgil van Dijk akan berduel dengan Lionel Messi berlangsung di Stadion Lusail Iconic, Lusail Qatar. Dalam laga yang pasti jutaan penonton televisi seluruh dunia menyaksikan duel mereka.

Van Dijk dan Messi pernah saling bertemu sebanyak dua kali pada laga ketat di level klub. Pertemuan tersebut adalah pada babak semi final Liga Champions edisi 2018/2019.

Saat itu mereka berduel memperkuat klub masing-masing yaitu Barcelona dan Liverpool pada ajang bergengsi tersebut. Kita pasti ingat pada pertemuan leg pertama Barcelona menang 3-0 atas Liverpool di Camp Nou.

Pada laga ini bek  tengah Belanda berusia 31 tahun tersebut benra-benar tidak berkutik. Meski Messi dalam laga itu tidak mencetak gol, tapi Van Dijk sangat kesulitan menjaga dengan baik pergerakkan bintang Argentina itu.

Namun pada pertemuan leg kedua di Liverpool, giliran Messi yang tidak berkutik menembus kekokohan benteng Liverpool yang di pimpin Van Dijk.

Pemain Belanda yang merupakan salah satu bek terbaik di dunia saat ini itu bisa meredam agresivitas sosok La Pulga. Barcelona takluk 0-4 di Anfield, kandang The Reds Liverpool.

Kekalahan pada leg kedua di Anfield ini yang membuat Barcelona gagal lolos ke final. Sementara Liverpool menuju final mengalahkan Tottenham Hotspur sekaligus meraih trofi Liga Champions 2019.

Itulah pertemuan terakhir dua pemain kunci bagi tim nasional mereka. Tentu saja pada laga perempat final nanti Van Dijk sudah mengetahui pergerakkan Messi tidak segesit seperti pada tahun 2019 lalu.

Tim mana yang keluar sebagai pemenang? Argetina atau Belanda? Mari kita saksikan bersama.

Salam bola @hensa.