Showing posts with label Argentina. Show all posts
Showing posts with label Argentina. Show all posts

Monday, August 3, 2026

Total Football Berevolusi Jadi Tiki-Taka Spanyol

 

Pala Dunia 2026 (Foto AFP/Monirul Bhulyan). 

Sejauh ini taktik sepak bola ala Rinus Michels ini belum pernah mempersembahkan prestasi tertinggi dalam sepak bola yaitu Juara Piala Dunia. Timnas Belanda hanya mampu meraih runner up Piala Dunia tahun 1974, 1978 dan 2010. 

Pada Piala Dunia tahun 1974 Belanda kalah dari Jerman (Barat), Tahun 1978 kalah dari Argentina dan tahun 2010 mereka kalah dari Spanyol. Taktik Total Football sejauh ini baru mampu meraih prestasi di level klub di kejuaraan Eropa. 

Dari catatan yang ada menyebutkan bahwa sosok sosok duet Rinus Michels dan Johan Cruyff, berhasil membawa Ajax memenangkan tiga Piala Eropa berturut-turut yaitu pada tahun 1971, 1972, 1973. 

Duet ini kembali bersatu di Barcelona pada tahun 1973, membawa klub tersebut berhasil meraih gelar La Liga pertama mereka dalam 14 tahun terakhirnya pada musim kompetisi 1973-74. 

Rinus Michels dan Johan Cruyff membawa filosofi total football ini menjadi filosofi klub Barcelona pada tahun berikutnya. Mereka meneapkannya dalam fondasi sistem pelatihan usia muda di Akademi La Masia di Barcelona. 

Penerapan sistem taktik ini berlangsung mulai tahun 1970-an sampai tahun 1990-an. Selama itu sistem ini berevolusi menjadi taktik yang dikenal dengan Tiki-Taka ala sepak bola Spanyol. 

Kita sekarang dapat melihat bahwa jika Total Football klasik menonjolkan pertukaran pemain dengan fisik yang dinamis, maka taktik tiki-taka Spanyol memadukannya dengan sirkulasi bola-bola operan pendek dengan penguasaan pada posisi pemain. 

Pep Guardiola adalah murid dari didikan Johan Cruyff di Barcelona yang sukses menjadi pelatih ternama dengan menerapkan permainan berbasis penguasaan bola secara mutlak di klub Barcelona dan klub lain dengan level dunia, seperti Bayern Munich dan Manchester City. 

Ironinya tiki-taka yang merupakan evolusi dari total footbal berhasil mengalahkan sistem induknya ketika Spanyol menang atas Belanda di final Piala Dunia 2010. 

Salam bola @hensa17. 

Tuesday, July 28, 2026

Dramatis, Ada Apa di Piala Dunia 2026?

 

Mohamed Salah beraksi dalam laga Mesir melawan Argentina (Foto Reuters/Amanda Perobelli). 

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat (USA), Kanada dan Meksiko sudah memasuki babak 8 besar yang dimulai pada Jumat dini hari pukul 03.00 WIB. Jadwal yang sudah dirilis di babak perempat final adalah Prancis Vs Maroko, Spanyol Vs Belgia, Inggris Vs Norwegia dan Argentina Vs Swiss. 

Pada fase ini masih ada 4 tim yang pernah meraih gelar juara yaitu Prancis, Spanyol, Inggris dan Argentina. Uniknya 4 tim tersebut tidak saling berhadapat di babak 8 besar sehingga ada kemungkinan mereka baru saling berhadapan di babak semi final. 

Apakah ini skenario sutradara dari drama Piala Dunia atau memang sesuai dengan perjalanan normal sebuah tim di turnamen tersebut? Sejauh ini kejadian-kejadian yang hadir dalam pentas Piala Dunia 2026 ini banyak menimbulkan pertanyaan bagi penggemar sepak bola di seluruh dunia. 

Paling tidak ada dua kejadian yang sangat kontroversial dalam penghelatan Piala Dunia 2026 yaitu tentang kartu merah pemain USA, Folarin Balogun dan laga dramatis Argentina Vs Mesir. Yuk kita simak bahasan tuntas yang disajikan dalam artikel ini. 

Kartu Merah Folarin Balogun 

Amerika Serikat sebagai tuan rumah sangat berambisi bisa lolos sampai babak final walaupun mereka menyadari bahwa perjalanan menuju ke sana sangat berat. 

Mereka semakin menyadari jalan itu terjal ketika dua tuan rumah lainnya yaitu Meksiko dan Kanada akhirnya gugur di babak 16 besar. Kanada kalah dari Maroko, Meksiko kalah dari Inggris dan Amerika Serikat kalah dari Belgia. 

Sebelum laga 16 besar, pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun mendapatkan kartu merah saat berlaga menghadapi Bosnia di fase 32 besar. Pemian ini adalah sosok penting dalam skuad Amerika Serikat asuhan pelatih asal Argentina, Mauricio Pochettino. 

Terkait kartu merah pemain tersebut, Presiden FIFA, Infantino mengaku sempat dihubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Lalu tiba-tiba saja sanksi kartu merah Folarin Balogun, ditangguhkan oleh Komisi Disiplin FIFA. 

Dalam keterangan selanjutnya Infantino menyebut bahwa penangguhan itu sepenuhnya keputusan Komite Disiplin. Baginya, keputusan komite ini harus dihormati. 

Namun Infantino tidak menjelaskan siapa yang meminta adanya sidang Komite Disiplin. Hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa penangguhan kartu merah tersebut mungkin karena Infantino sempat dihubungi Donald Trump. 

Drama kartu merah ini untungnya tidak mempengaruhi performa skuad Belgia yang harus berhadpan lawan taun rumah. Mereka akhirnya menang telak 4-1 atas Amerika Serikat, sekaligus mengubur impain terakhir dari 3 tuan rumah Piala Dunia 2026. 

Drama Laga Argentina Vs Mesir 

Laga ini juga menjadi buah bibir para penggemar di seluruh dunia. Mesir saat itu masih unggul 2-0 sampai laga berlangsung memasuki menit ke-79, ketika Christian Romero memperkecil kedudukan menjadi 1-2. 

Hanya 4 menit setelah gol tersebut, Lionel Messi berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Lalu pada masa injury time menit ke-2, Enzo Fernandes membawa Argentina unggul 3-2 atas Mesir dan lolos ke babak 8 besar. 

Namun pada laga tersebut ada kejanggalan yang sangat nyata terlihat bahwa setelah penijauan VAR, keputusan wasit yang menganulir gol kedua Mesir karena adanya pelanggaran kepada Lisandro Marinez, menjadi perdebatan. 

Jika gol kedua Mesir dianulir oleh VAR, maka kejadian serupa juga seharusnya diterapkan pada skuad Argentina. Wasit mestinya menganulir gol Enzo Fernandez karena sebelumnya terjadi pelanggaran. 

Namun saat itu wasit malah dinilai abai karena tidak memeriksa pelanggaran nyata yang dilakukan Alexis Mac Allister kepada Mohamed Salah, dalam proses sebelum Fernandez mencetak gol kemenangan 3-2 di masa injury time.

Pelanggaran terhadap Mo Salah itu terjadi di kotak penalti, maka jika hal itu diperiksa oleh VAR, wasit seharusnya memberikan tendangan penalti kepada Mesir. 

Namun hal itu tidak pernah dilakukan wasit dan tim VAR. Sungguh ini sebuah insiden sangat memalukan bagi para perangkat pengadil di lapangan. 

Apakah hal tersebut menggambarkan adanya konspirasi tingkat tinggi? Entahlah. Piala Dunia 2026 masih terus berlanjut hingga babak final nanti. 

Kita sebagai penonton hanya bisa menunggu adegan demi adegan dalam setiap fase skenario yang sudah dibuat oleh sutradara dari drama Piala Dunia 2026. Apakah akan ada plot twist pada babak final nanti? Wait and see. 

Salam sepak bola @hensa17. 

***** 





Monday, July 20, 2026

Final Piala Dunia 2026, "Mengulik Kinerja" Spanyol dan Juara Bertahan Argentina

                Lionel Messi menjadi sorotan saat Argentina lawan Spanyol di Final Piala Dunia 2026 (Foto Reuters/Agustin Marcarian). 

Piala Dunia 2026 akhirnya memasuki babak final dengan mempertemukan Spanyol menghadapi juara bertahan Argentina. Laga puncak memperebutkan gelar bergengsi ini berlangsung di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/26) pukul 02.00 WIB dini hari. 

Mereka memang pantas bisa masuk partai akhir di ajang sepak bola tertinggi dunia ini karena memiliki kualitas individu pemain yang unggul, pelatih yang memiliki strategi cerdas serta mentalitas tim dalam kerja sama yang solid. 

Dua tim ini adalah pemegang juara Piala Dunia dimana Spanyol meraih satu gelar juara pada tahun 2010 dan Argentina dengan 3 gelar juara yaitu tahun 1978, 1986 dan 2022. Momen final ini menjadi peluang bagi La Furia Roja Spanyol menambah gelar untuk kedua kalinya dan bagi Albiceleste Argentina menambah gelarnya menjadi 4 gelar. 

Mari kita mengulik bagaimana kinerja kedua tim sebagai finalis Piala Dunia 2026 yaitu Spanyol dan Argentina. Dalam menyajikan bahasan ini kita juga menggunakan data sebagai acuan untuk membandingkan kekuatan kedua tim finalis ini. 

Kinerja Spanyol. 

Mari kita awali dengan membahas skuad La Furia Roja Spanyol sebagai penantang juara bertahan Argentina dalam final Piala Dunia 2026 ini. Selama babak penyisihan di fase grup, Spanyol tidak terkalahkan dengan meraih 7 poin dari dua kemenangan masing-masing atas Uruguay dan Arab Saudi serta ditahan imbang tanpa gol oleh Tanjung Verde. Total 5 gol dicetak tanpa kebobolan 

Pada fase knock out yaitu fase 32 besar Spanyol menang 3-0 atas Austria. Lalu menang 1-0 atas Portugal di fase 16 besar. Menang 2-1 atas Belgia di fase 8 besar dan 2-0 atas Prancis di semifinal. Total 8 gol dicetak dan hanya 1 gol kebobolan. Kinerja Spanyol tidak terkalahkan dari fase grup sampai dengan semifinal sudah mencetak 13 gol dengan kebobolan gawang mereka hanya 1 gol. Satu-satunya tim yang mampu menahan imbang Spanyol tanpa gol adalah Tanjung Verde.

Melihat data ini kita bisa memberikan sebuah gambaran bahwa barisan penyerang Spanyol sangat produktif dengan 13 gol mereka dan barisan pertahanannya sangat solid yang hanya kebobolan satu gol. Dengan total mencetak 13 gol dan hanya kebobolan satu gol, Spanyol memiliki produktivitas sebanyak 12 gol. Sebuah pencapaian ketjaman dari para penyerang mereka. Gawang Spanyol memiliki 6 kali clean sheet (Tidak kebobolan) dari 7 laga yang sudah mereka jalani selama Piala Dunia 2026. Satu-satunya gol yang berhasil bersarang ke gawang Spanyol adalah ketika mereka berhadapan lawan Belgia. 

Angka clean sheet tersebut juga menunjukkan bagaimana pertahanan Spanyol sangat solid dengan lini belakangnya dan juga tangguhnya sosok penjaga gawang Unai Simon yang sering kali menunjukkan kinerja luar biasa. 

Kinerja Argentina 

Bagaimana dengan kinerja Sang Juara Bertahan? Argentina juga tidak terkalahkan dalam 7 laga yang sudah mereka jalani dari fase grup sampai dengan semifinal. Argentina berada satu grup dengan Austria, Aljajair dan Jordania. Mereka menang 3-0 atas Aljajair, menang 2-0 atas Austria dan menang 3-1 atas Jordania. Total mencetak 8 gol dan kebobolan satu gol. Pada fase 32 besar Argentina menang 3-2 atas Tanjung Verde, lalu menang 3-2 atas Mesir di 16 besar dan menang 3-1 atas Swiss di perempat final. 

Pada semifinal Argentina berhasil menang 2-1 atas Inggris. Total mencetak 11 gol dan kebobolan 6 gol. Melihat kinerja para penyerang Argentina sejauh ini berhasil mencetak total 19 gol selama ajang ini menunjukkan kinerja luar biasa mengalahkan jumlah gol yang dicetak Spanyol yaitu 13 gol. Gambaran nyata bahwa merekassangat tajam dalam mencetak gol, terutama dari sosok Lionel Messi yang sejauh ini sudah mencetak 8 gol sekaligus sebagai top skor sementara. 

Namun barisan pertahanan Argentina terlihat keropos karena mereka sudah kebobolan sebanyak 7 gol. Argentina hanya memiliki 2 laga yang gawangnya Clean Sheet yaitu saat menghadapi Austria dan Aljajair di fase grup. 

Penyerang Tajam Vs Pertahanan Solid 

Dari data tersebut bisa dilihat bagaimana tajamnya para penyerang skuad La Albiceleste dengan dimotori oleh Lionel Messi yang grafik performanya semakin naik dan banyak para pengamat memprediksi di final performa Messi mencapai puncaknya.

Lalu dari data tersebut bagaimana performa pertahanan Spanyol sangat solid. Kuartet pemain belakang mereka yang terdiri dari duet full back yang agresif yaitu Pedro Porro dan Marc Cucurella serta duet bek tengah yaitu Pau Cubarsi dan Laporta. Mereka kokoh menjadi benteng terakhir yang melapisi penjaga gawang tangguh dari sosok Unai Simon yang sudah berkali-kali melakukan penyelamatan penting sehingga gawangnya memiliki 6 kali clean sheet dari 7 laga di Piala Dunia 2026.

Melihat dua fakta tersebut sungguh sangat menarik ditunggu bagaimana para penyerang Argentina yang tajam dengan sosok Lionel Messi nya menghadapi pertahanan Spanyol yang kokoh ketika mereka saling berhadapan di final Piala Dunia 2026. Adu Strategi Luis de La Fuante Vs Lionel Scaloni Juga kita menunggu taktik cerdas dari kedua pelatih mereka yaitu Luis de La Fuante (Spanyol) dan Lionel Scaloni (Argentina). Dua sosok ini memiliki strategi yang cerdas dalam meramu skuad mereka.

Sangat berkesan bagaimana kedua pelatih ini sangat cerdas dalam menerapkan pergantian pemain di babak kedua ketika tim asuhan mereka terdesak atau buntu mencetak gol atau bahakan saat tertinggal gol dari lawan. Fuante selalu membuat kejutan dengan menurnkan sosok Mikel Merino sebagai pemain Supersub di babak kedua. Dan ini sudah terbukti ketika Spanyol menang atas Postugal dan Belgia. Merino menjadi penentu kemenangan dalam dua laga tersebut.

Ketika lawan Portugal, Merino mencetak gol pada menit ke 90+1 untuk kemenangan Spanyol 1-0 atas Portugal. Sedangkan ketika menghadapi Belgia, Merino mencetak gol pada menit ke-88 untuk kemenangan 2-1 atas Belgia.

Begitu juga dengan Scaloni selalu berhasil melakukan pergantian pemain yang tepat ketika Argentina tertinggal dari Mesir dan Swiss yang akhirnya berhasil memenangkan laga. Sama seperti Spanyol yang memiliki supersub dari sosok Mikel Merino, ternyata Argentina juga memiliki sosok Lautaro Martinez sebagai sosok supersub. Aksinya sangat gemilang saat berhasil menjadi pencetak gol penentu kemenangan saat menundukkan Inggris dengan skor 2-1. Martinez mencetak gol kemenangan 2-1 pada menit ke-90+2. 

Begitu juga saat menghadapi Swiss yang harus membutuhkan perpanjangan waktu 2x15 menit, Martinez sebagai supersub berhasil mencetak gol pada menit ke-120+1 di ujung akhir laga untuk menutup kemenangan Argentina 3-1 atas Swiss.

Para penggemar bola sejagad kali ini kita pasti mendapat suguhan laga sepak bola yang sangat atraktif dari dua tim yang gemar menerapkan sepak bola menyerang yaitu Spanyol dan Argentina. Menurut Anda, apakah Spanyol berhasil meraih gelar dan menumbangkan juara bertahan Argentina? Atau La Abiceleste berhasil mempertahankan gelarnya dan menambah koleksi jura mereka menjadi 4 kali. Silakan tulis di kolom komentar. 

Salam sepak bola @hensa17. 
*****

Thursday, December 15, 2022

Ronaldo Remehkan Argentina Jagokan Prancis

 

Messi dan Tim Argentina (Foto Skysports).

Ronaldo yang bernama lengkap Luis Nazario de Lima memberikan keterangan tentang kemungkinan Argentina meraih juara Piala Dunia 2022. 

Apalagi pada semi final Tim Tango berhasil mengalahkan Kroasia dengan 3 gol tanpa balas. Tim asal Balkan dengan julukan Vatreni ini banyak yang menilai sangat konsisten permainannya selama ajang ini berlangsung. 

Laga semi final tersebut juga menyuguhkan performa Messi yang semakin meningkat permainannya menuju final.

Ronaldo sempat memberikan penilaian tentang sosok pemegang 7 Ballon d'Or itu. Menurutnya Messi sangat fokus untuk memenangkan Piala Dunia.

Wajar baginya ini adalah Piala Dunianya yang terakhir seiring usianya yang sudah mencapai 35 tahun. Begitu pula dalam sejarah karirnya Messi belum pernah mempersembahkan trofi terbesar sepak bola Dunia ini.

Impian meraih juara Piala Dunia 2022 sekaligus membuat Messi bisa sejajar bersama seniornya Diego Maradona sebagai Super Star Argentina yang pernah meraih Piala Dunia.

Namun menurut Ronaldo Argentina tidak akan meraih gelar Piala Dunia 2022. Jika dalam laga final mereka bertemu dengan Prancis, maka skuad Les Bleus jauh lebih unggul dari mereka. 

"Saya akan senang untuknya jika mereka menang, tetapi kami memiliki persaingan Brasil dan Argentina yang hebat.

Maka akan sedikit munafik jika saya mengatakan senang untuk Argentina meraih juara Piala Dunia." Demikian kata Ronaldo seperti lansir AS.com (12/12/22).

Pernyataan Ronaldo tersebut seakan mengesampingkan peluang Argentina meraih gelar Piala Dunia 2022. Ronaldo lebih memegang Prancis yang jauh lebih layak sebagai kandidat juara.

Jika Prancis berhasil meraih juara hal itu sekaligus keberhasilan mereka mempertahan gelar yang mereka raih pada ajang ini edisi Piala Dunia 2018 di Rusia.

Les Bleus memiliki materi pemain-pemain yang merata. Termasuk di dalamnya ada sosok Kylian Mbappe yang semakin matang.

Sejauh ini Mbappe sudah mengoleksi 5 gol hingga babak perempat final. Jumlah gol yang sama yang saat ini juga Messi miliki.

Selain Mbappe, Prancis juga memiliki sosok Olivier Giroud yang mulai tajam pada ajang di Qatar ini. Giroud memiliki 4 gol bersaing dengan Messi dan Mbappe untuk meraih top skor Piala Dunia.

Selain mereka Prancis juga memiliki sosok Atoine Griezmann, Ousmane Dembele. Mereka adalah kuartet penyerang yang sangat agresif untuk mencetak gol.

Kiper tangguh yang bermain di Premier League, Hugo Lloris juga sosok elit dalam skuad ini. Duet bek tengah yang membentenginya, Raphael Varane dan William Saliba yang juga bermain di Premier League.

Skuad ideal Prancis dengan pemain-pemain kelas satu yang berasal dari Liga Elit Eropa membuat mereka sebagai unggulan kandidat juara.

Prancis harus menyingkirkan terlebih dulu tim Singa Atlas dari Afrika di babak semi final pada Kamis (15/12) pukul 02.00 WIB di Al Bayt Stadium. 

Tentang laga antara kedua tim, Ronaldo sempat bercanda dengan mengatakan : "Saya ingin Maroko menang, tapi saya rasa mereka tidak bisa. Prancis sangat kuat, kami telah melihatnya. Ini adalah tim yang paling difavoritkan," kata Ronaldo, seperti lansir dari AS.com (12/12/22).

Fakta tersebut memang nyata. Prancis menjadi unggulan untuk lolos dari hadangan Maroko. Ronaldo seakan meremehkan Singa Atlas tersebut.

Bisa saja Ronaldo tidak tahu kekuatan yang sebenarnya yang dimiliki skuad Maroko. Jika berkaca pada filosofi bola itu bundar, Maroko sudah membuktikannya.

Maroko sangat mengesankan dengan bermain baik dalam bertahan kokoh dan mereka berhasil mengejutkan Spanyol dan Portugal di babak 16 besar dan perempat final.

Singa Atlas juga selama fase grup tidak terkalahkan. Mereka berhasil menahan imbang Kroasia, menang 2-0 atas Belgia dan menang 2-1 atas Kanada.

Bahkan hingga saat ini gawang Maroko yang dikawal Yassine Bounou baru mengalami kebobolan hanya satu gol di ajang Piala Dunia 2022 ini. Itu pun terjadi sebagai akibat gol bunuh diri dari pemain bertahan mereka, Nayef Aguerd.

Perjalanan Maroko sejauh ini telah berhasil menorehkan sejarah baru. Mereka tercatat sebagai tim asal benua Afrika pertama yang lolos ke semifinal Piala Dunia.

Mungkinkah Ronaldo lupa pencapaian Maroko sejauh ini merupakan kerja keras yang menunjukkan karakter mereka sebagai sebuah tim yang memiliki karakter kuat. 

Pada akhir artikel ini mari kita dengar pernyataan pelatih Maroko yang tetap optimis kendati sering menerima cibiran memainkan sepak bola negatif.

"Kami tahu banyak jurnalis Eropa mengkritik gaya permainan kami dan mereka tidak menyukai kami yang bermain cerdik.

"Tetapi cara untuk menang tidak hanya satu. Saya pikir pada awalnya kami diberi peluang 0,01 persen untuk memenangkan Piala Dunia. Sekarang kami memiliki 0,03 persen. Ya kita akan menghancurkan statistik itu," demikian kata Walid Regragui seperti lansir dari Dailymail (13/12/22).

Ronaldo boleh saja meremehkan Maroko. Namun fakta di lapangan belum kita saksikan seberapa mampu skuad Les Bleus mampu menundukkan Sang Singa Atlas dari Afrika.

Mari kita saksikan saja laga semi final Prancis melawan Maroko pada semi final Piala Dunia 2022. Siapapun pemenangnya, lawan mereka adalah Argentina.

Salam bola @hensa.

Sunday, December 11, 2022

Qatar Saksi Sejarah Dua Juara Dunia Tumbang

 

Lionel Messi, bintang Argentina (Foto AFP). 

Qatar adalah saksi bisu terjadinya sejarah Piala Dunia yang tercatat dalam ingatan penggemar sepak bola. Dua juara Dunia tumbang yaitu Argentina dan Jerman.

Argentina harus mengakui keunggulan Arab Saudi dengan skor 1-2 dalam laga mereka di grup C.

Kekalahan ini sekaligus menghentikan rekor La Albiceleste dengan 36 pertandingan tak terkalahkan. Mereka harus terhenti dengan kekalahan dari Arab Saudi.

Lionel Messi memulai kampanye Piala Dunia 2022 pada hari Selasa (22/11) pukul 17.00 WIB melawan Arab Saudi di Stadion Lusail, Qatar.

Argentina sempat unggul 1-0 berkat tendangan penalti Messi. Namun Dua gol pada babak kedua oleh Saleh Al Shehri dan Salem Al Dawari membuat Messi dkk harus kalah 1-2 dari Arab Saudi. 

Selain Argentina ternyata Jerman juga harus mengakui keunggulan Samurai Biru Jepang juga dengan skor 1-2. Laga ini mirip dengan momen Argentina, ketika Jerman unggul lebih dulu 1-0 berkat tembakan penalti Ilkay Gundogan.

Namun pada babak kedua dua gol Jepang mengubur semua impian kemenangan Der Panzer. Takuma Asano adalah sosok pemain yang sangat brilian memanfaatkan peluang gol kedua menjadi kemenangan bagi Jepang.

Menerima umpan jauh, dia berlari dibayangi Rudiger lalu dengan sudut yang sempit bola ditembak ke ruang gawang Manuel Nuer. Jepang 2-1 Jerman.

Sebelumnya Ritzu Doan menyamakan kedudukan menjadi 1-1 berkat golnya memanfaatkan bola ribon dari kiper Jerman yang menangkal tembakan Takumi Minamino.

Kekalahan Jerman ini mengingatkan momen mereka ketika tersingkir lebih awal dari persaingan di Piala Dunia 2018 Rusia.

Saat itu Jerman, pemenang empat kali Juara Dunia, harus mengalahkan Korea Selatan dalam pertandingan grup terakhir mereka untuk lolos ke fase gugur,

Namun Korea Selatan menang 2-0 berkat Kim-Young Gwon mencetak gol di waktu tambahan sebelum penjaga gawang Manuel Neuer kehilangan bola di lapangan. Sehingga memungkinkan Heung-Min Son untuk menyegel hasil dengan golnya menjadi 2-0.

Tragis bagi Jerman. Apakah hal ini akan kembali menimpa Der Panzer di ajang ini? Jerman menghadapi laga berikutnya menghadapi Spanyol yang menang 7-0 atas Costa Rica.

Laga Jerman vs Spanyol ini seakan laga final bagi tim asuhan Hansi Flick. Laga tersebut harus berakhir dengan kemenangan. Tanpa kemenangan bahkan imbang saja tidak cukupbagi Jerman bisalolos dari fase grup.

Mari kita tunggu saja kejutan-kejutan Piala Dunia Qatar 2022 berikutnya. Masih ada laga Korea Selatan menghadapi juara Dunia Uruguay.

Salam bola @hensa.

Ronaldo Akhiri Piala Dunia dengan Tangisan

 

Ronaldo menangis setelah kalah dari Maroko (Foto Reuters/Fabrizio Bensch). 

Ronaldo harus mengakhiri Piala Dunia 2022 dengan tangisan pilu ketika Portugal harus mengakui keunggulan tim Kuda Hitam, Maroko dengan skor tipis 0-1. Nasib tragis bagi skuad asuhan Fernando Santos.

Laga yang sangat dramatis ini berlangsung Sabtu (10/12/22) pukul 22.00 WIB di Al Thumama Stadium. Sekitar 44 ribu penonton menyaksikan laga itu yang merupakan suporter bagi kedua tim.

Gol tunggal kemenangan Maroko terjadi pada menit ke-42. Hasil sundulan dari striker mereka, Youssef En-Nesyri yang memanfaatkan umpan lambung dari bek kiri, Yahia Attiyat Allah.

Terjadinya gol emas ini sangat menakjubkan ketika En-Nesyri melompat tinggi berduel dengan kiper Portugal, Diogo Costa.

Bola sundulan striker Maroko bernomor punggung 19 itu keras memantul terlebih dulu ke atas rumput lalu menembus jala gawang Portugal.

Pasukan Singa Atlas dari Afrika ini sebenarnya hanya memiliki 24 persen kepemilikan bola. Namun mereka sangat efektif melakukan serangan balik cepat.

Portugal turun ke lapangan tanpa menyertakan Cristiano Ronaldo sebagai starter. Mereka mendominasi permainan pada semua lini. Namun Maroko juga sangat kuat dalam menerapkan pertahanan mereka.

Selecao das Quintas memiliki paling tidak 11 peluang tembakan. Walaupun demikian hanya ada 3 tembakan yang tepat sasaran. Enam tembakan lainnya melenceng dari target. Kiper Maroko mengamankan dua tembakan mereka.

Gambaran dominasi Portugal juga dapat kita lihat dari jumlah 9 tendangan sudut dan sebanyak 32 kali umpan silang ke mulut gawang Maroko.

Dengan kemenangan ini Maroko berhak tampil di babak semi final. Ini adalah pencapaian tim asal Afrika untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia.

Portugal menambah tekanan seangan untuk menyamakan kedudukan sepanjang laga di babak kedua. Pelatih Fernando Santos memasukkan Cristiano Ronaldo untuk mempertajam serangan Portugal.

Semua upaya skuad Selecao harus membentur pertahanan kokoh pasukan Singa Atlas Afrika yang bertahan dengan gagah berani.

Bahkan Maroko yang harus tampil dengan 10 pemain karena satu pemain mereka mendapat dua akumulasi kartu kuning. Mereka tetap mampu mempertahankan keunggulannya untuk lolos ke semi final.

Selamat untuk Singa Atlas dari Afrika

Salam bola @hensa.

Saturday, December 10, 2022

Argentina dan Belanda Berebut Tiket Final

Lionel Messi selebrasi (Foto AP/Fabio Ferrari). 

 

Argentina menghadapi Belanda dalam laga perempat final Piala Dunia 2022, Sabtu (10/12/22) pukul 02.00 dini hari WIB.

Laga mereka berlangsung setelah laga Brasil menghadapi Kroasia, Jumat (9/12/22) pukul 22.00 WIB.

Jika kita bandingkan prediksi kedua laga tersebut, maka laga Brasil lebih mudah untuk menebak hasilnya. Sedangka laga antara Argentina menghadapi Belanda bisa menjadi bahan diskusi yang menarik.

Meskipun banyak pengamat lebih menjagokan Tim Tango karena ada faktor Lionel Messi, tetapi Argentina sebenarnya masih belum konsisten performanya hingga babak 16 besar ini.

Mereka selalu buntu pada babak pertama. Sosok Messi selalu mereka harapkan menjadikan pembeda setiap laga Tim Tango. Ini sebenarnya berbahaya bagi skuad asuhan Lionel Scaloni.

Karena jika Messi dimatikan, maka tidak ada pemain lain yang punya kreasi sebaik Messi. Louis van Gaal pasti sudah tahu tentang ini dan pasti dia sudah menyiapkan pemain yang akan mematikan pergerakkan Messi.

Mari kita lihat saja adu taktik pelatih dengan tertua, Louis van Gal menghadapi pelatih termuda di Piala Dunia 2022 Qatar ini, Lionel Scaloni.

Dalam laga ini patut kita tunggu Virgil van Dijk akan berduel dengan Lionel Messi berlangsung di Stadion Lusail Iconic, Lusail Qatar. Dalam laga yang pasti jutaan penonton televisi seluruh dunia menyaksikan duel mereka.

Van Dijk dan Messi pernah saling bertemu sebanyak dua kali pada laga ketat di level klub. Pertemuan tersebut adalah pada babak semi final Liga Champions edisi 2018/2019.

Saat itu mereka berduel memperkuat klub masing-masing yaitu Barcelona dan Liverpool pada ajang bergengsi tersebut. Kita pasti ingat pada pertemuan leg pertama Barcelona menang 3-0 atas Liverpool di Camp Nou.

Pada laga ini bek  tengah Belanda berusia 31 tahun tersebut benra-benar tidak berkutik. Meski Messi dalam laga itu tidak mencetak gol, tapi Van Dijk sangat kesulitan menjaga dengan baik pergerakkan bintang Argentina itu.

Namun pada pertemuan leg kedua di Liverpool, giliran Messi yang tidak berkutik menembus kekokohan benteng Liverpool yang di pimpin Van Dijk.

Pemain Belanda yang merupakan salah satu bek terbaik di dunia saat ini itu bisa meredam agresivitas sosok La Pulga. Barcelona takluk 0-4 di Anfield, kandang The Reds Liverpool.

Kekalahan pada leg kedua di Anfield ini yang membuat Barcelona gagal lolos ke final. Sementara Liverpool menuju final mengalahkan Tottenham Hotspur sekaligus meraih trofi Liga Champions 2019.

Itulah pertemuan terakhir dua pemain kunci bagi tim nasional mereka. Tentu saja pada laga perempat final nanti Van Dijk sudah mengetahui pergerakkan Messi tidak segesit seperti pada tahun 2019 lalu.

Tim mana yang keluar sebagai pemenang? Argetina atau Belanda? Mari kita saksikan bersama.

Salam bola @hensa.

Thursday, September 4, 2014

Tanpa Messi, Argentina Permalukan Jerman Di Rumah Sendiri

Angel Di Maria (kiri)
Foto : Reuters/Kai Pfaffenbach

DUESSELDORF--Argentina tak perlu menunggu lama untuk membalaskan sakit hati atas kekalahan di final Piala Dunia 2014 dari Jerman. Tim Tango mempermalukan Jerman 4-2 di Esprit Arena, Duesseldorf, Kamis (4/9) dini hari WIB.
Meski hanya bertajuk laga persahabatan, kemenangan ini terasa cukup manis bagi Angel Di Maria dkk. Sebab mereka menaklukkan Die Mannschaft di tanah Jerman, di hadapan puluhan ribu pendukung fanatiknya.
Adalah Di Maria yang menjadi bintang tim Tango. Ia terlibat dalam semua gol Argentina ke gawang Jerman. Tiga assists plus satu gol disumbangkannya pada laga ini. 
Sergio Aguero membuka keran gol Argentina pada menit ke-20. Erik Lamela, pengganti Lionel Messi yang cedera, memperbesar keunggulan Argentina pada menit ke-40, yang bertahan hingga jeda.
Babak kedua baru berjalan dua menit, lagi-lagi Di Maria mengirim umpan cantik yang dikonversi menjadi gol oleh Federico Fernandez. Tiga menit berselang, Di Maria sendiri yang mencatatkan namanya di papan skor setelah memanfaatkan umpan Pablo Zabaleta.
Jerman membalas pada menit ke-52 lewat Andre Schuerrle dan terus berupaya mengejar ketertinggalan. Namun Argentina bemain apik meskipun Jerman memeragakan pressure football. Kombinasi skill individu dan pergerakan cepat para pemainnya membuat Argentina tak sekadar bisa keluar dari tekanan Jerman, tapi juga balik mengancam.
Jerman yang tampil ngotot beberapa kali melakukan pelanggaran. Upaya keras mereka berbuah hasil saat tendangan Mario Goetze pada menit ke-78 mengenai salah satu pemain Argentina dan memperkecil ketertinggalan menjadi 2-4. Namun hingga laga usai, tak ada gol tambahan.
Pertandingan ini menjadi debut manis Gerardo 'Tata' Martino sebagai pelatih timnas Argentina. Tata menggantikan Alejandro Sabella yang mundur usai gagal mempersembahkan gelar juara Piala Dunia 2014 lalu akibat dikalahkan Jerman di final.
Susunan Pemain:
Jerman:
Manuel Neuer (Roman Weidenfeller 46'), Benedikt Howedes, Eric Durm, Matthias Ginter, Toni Kroos (Sebastain Rudy 71'), Marco Reus, Kevin Grosskreutz, Christoph Kramer, Julian Draxler (Lukas Podolski 33'), Mario Gomez (Mario Goetze 57'), Andre Schuerrle (Thomas Mueller 57')
Argentina:
Sergio Romero (Mariano Andujar 80'), Martin Demichelis, Pablo Zabaleta (Hugo Campagnaro 77'), Federico Fernandez, Marco Rojo, Javier Mascherano,  Lucas Biglia, Enzo Perez (Augusto Fernandez 46'), Angel Di Maria (Ricardo Alvarez 85'), Sergio Aguero (Nicolas Gaitan 83'), Erik Lamela (Fernado Gago 68') 
Republika.co.id
Redaktur : Israr Itah







Monday, December 2, 2013

Claudio Nancufil, Messi Cilik Dari Argentina

Claudio Nancufil, Bocah Argentina Jadi Rebutan El Real, Atletico, dan Barca
Foto : indianaexpress.com

TRIBUNNEWS.COM - Seorang bocah berusia delapan tahun menjadi pembicaraan hangat di Argent
Anak laki-laki bernama Claudio Nancufil disebut-sebut sebagai jelmaan Lionel Messi. Kebolehannya mengolah bola dianggap sama seperti Messi di usianya dulu. Nancufil mempunyai masalah yang sama dengan Messi saat berusia delapan tahun dengan tubuhnya yang mungil dan mengalami gangguan hormon.
"Saat dia baru bermain di usia empat tahun, dia sudah berbeda dari teman-temannya yang lain dalam hal tehnik. Bagaimana dia mengambil bola dengan kakinya, menggiring, menghentikan, menendang, dan mencetak gol. Sejak dia masih sangat kecil dia sudah mempunyai semua kemampuan itu," ungkap Marcelo Ernaz, presiden klub yang kini dibela Nancufil.
Kabar tentang bocah ajaib yang disebut-sebut sebagai jelmaan Messi ini langsung menyebar ke Spanyol. Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid kabarnya tertarik untuk merekrutnya. Seperti dilansir Telegraph, agen pencari bakat dari El Barca sudah mendatangi keluarga si bocah itu,
Dua klub kaya Inggris Manchester United dan Chelsea juga dikabarkan berminat pada Nancufil. Mereka juga tertarik setelah melihat video dokumenter yang telah menyebar di Argentina.





Saturday, March 23, 2013

Higuain & Messi Antar Argentina Tundukkan Venezuela


Foto AFP/Daniel Garcia


Buenos Aires - Tiga poin dipetik Argentina ketika menjamu Venezuela dalam partai kualifikasi Piala Dunia 2014 zona CONMEBOL. Argentina menang 3-0 berkat sepasang gol Gonzalo Higuain dan satu gol dari Lionel Messi.

Di Estadio Monumental Antonio Vespucio Liberti, Minggu (23/3/2013) pagi WIB, Argentina yang menjadi tuan rumah sudah memimpin dua gol tanpa balas atas Venezuela di paruh pertama, melalui gol Gonzalo Higuan dan Lionel Messi.

Di babak kedua, Argentina cuma bisa menambah satu gol lagi melalui gol kedua Higuain yang membuat tuan rumah memetik kemenangan tiga gol tanpa balas.

Dengan hasil tersebut Argentina terus bercokol di pucuk klasemen kualifikasi Piala Dunia 2014 zona CONMEBOL dengan 23 poin dari 10 pertandingan. Sedangkan Venezuela tertahan di posisi lima dengan 12 poin.

Jalannya Pertandingan

Tuan rumah langsung menekan dan dua peluang pada menit sembilan pun dicatatkan; yang pertama melalui Gonzalo Higuain dan yang kedua oleh Lionel Messi.

Argentina baru bisa memecah kebuntuan di menit ke-29. Messi melepaskan sebuah umpan terobosan yang dikonversi dengan baik oleh Higuain menjadi gol.

Semenit sebelum turun minum wasit menunjuk titik putih dan memberi tendangan penalti untuk Argentina setelah menilai pemain Venezuela, Gabriel Cichero, menyentuh bola dengan tangan.

Messi maju menjadi algojo dan kemudian menuntaskan tugasnya dengan baik dan membuat skor berubah jadi 2-0 untuk Argentina.

Argentina menambah keunggulan atas Venezuela di menit ke-59. Messi lagi-lagi menjadi kreator, dengan Higuain kembali mencetak gol.

Susunan Pemain

Argentina: Sergio Romero; Ezequiel Garay, Pablo Zabaleta, Marcos Rojo, Federico Fernandez, Fernando Gago (Ever Banega 63'), Walter Montillo, Javier Mascherano, Gonzalo Higuain (Rodrigo Palacio 80'), Lionel Messi, Ezequiel Lavezzi (Maxi Rodriguez 84').

Venezuela: Daniel Hernandez; Andres Tunez, Oswaldo Vizcarrondo, Gabriel Cichero, Alex Guanche, Tomas Rincon, Luis Seijas (Romulo Otero 56'), Franklin Lucena, Juan Arango (Cesar Ivan Gonzalez 75'), Frank Feltscher, Rondon (Miku 83').

http://sport.detik.com/sepakbola/read/2013/03/23/090036/2201755/73/higuain-messi-antar-argentina-tundukkan-venezuela?b99220270

Kris Fathoni W - detikSport





( krs / krs )